Ibu Algojo ISIS Tahu Identitas Emwazi di Video Pertama

Internasional
Algojo ISIS, Mohammad Emwazi.
Algojo ISIS, Mohammad Emwazi.

SUMUTPOS.CO – Ibu eksekutor kelompok militan Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS), Ghania Emwazi diduga telah mengetahui sejak awal putranya, Muhammad Emwazi, yang berada di video eksekusi James Foley. Namun, dia tidak melaporkan hal itu kepada polisi.

Harian Inggris, The Telegraph, Senin, 2 Maret 2015 melansir dugaan itu diperkuat dengan pernyataan ayah Emwazi, Jassem, yang dimintai keterangannya oleh polisi. Bahkan, Jassem juga telah mengetahui mengenai kegiatan pria 26 tahun itu di Suriah.

Jassem dimintai keterangan bersama dengan satu putra lainnya pada Minggu lalu saat dipanggil polisi.


“Ibunya mengenali suara Emwazi (ketika menyaksikan video eksekusi pertama) dan berteriak ‘itu putra saya’ saat dia berbicara sebelum mengeksekusi sandera warga Amerika Serikat,” ujar seorang sumber yang mengetahui penyelidikan di Kuwait.

Jassem kian yakin itu putranya, saat mereka kembali memutar video eksekusi itu. Pria berusia 51 tahun itu begitu terkejut dan kecewa mengetahui putranya menjadi eksekutor ISIS.

“Saya menunggu hari demi hari untuk mendengar kabar mengenai kematiannya,” ujar Jassem kepada penyidik.

Ghania mengaku kali terakhir berkomunikasi dengan Emwazi pada 2013. Saat itu, dia mengabarkan kepada kedua orangtuanya telah pindah ke Suriah untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan.

 

BUKAN WARGA KUWAIT

Informasi lainnya yang terkuak yakni mengenai kewarganegaraan keluarga Emwazi. Pejabat berwenang di Kuwait menjelaskan, keluarga Emwazi tinggal di Kuwait sebagai penduduk ilegal.

Kepada BBC, mereka menjelaskan keluarga Emwazi tidak pernah memegang kewarganegaraan atau dokumentasi medis atau sertifikat pendidikan Kuwait.

Para pekerja tempat Jassem bekerja di Supermarket Co-op di Kuwait turut mengatakan hal senada. Mereka menyebut Jassem hanya muncul setiap enam bulan sekali untuk memperbarui izin tinggalnya.

Keluarga mereka berasal dari kelompok masyarakat yang disebut “bidoon” atau tidak memiliki kewarganegaraan di Kuwait. Itu merupakan komunitas warga Irak bagian selatan yang bermigrasi. Banyak dari mereka yang dideportasi dari Kuwait usai negara itu terbebas dari jajahan pasukan Saddam Hussein pada 1991.

Sebagai bagian dari komunitas bidoon, mereka tidak memiliki kewarganegaraan penuh Kuwait serta kurang hak pendidikan dan hak bekerja. Jassem dan keluarga pindah ke Inggris pada 1990an.

Sebagian besar anggota keluarga mereka diyakini kembali ke Kuwait. Sejak terungkapnya identitas Emwazi sebagai algojo ISIS, polisi kian lekat memantau keberadaan keluarga di Kuwait. Menurut seorang sumber, Jassem baru memperoleh kewarganegaraan Inggris pada 2002. (viva)

loading...