Pilot Pingsan sebelum Pesawat Jatuh

Internasional
AFP PHOTO Kotak hitam atau the Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Germanwings Airbus A320 yang jatuh di pegunungan Prancis Alps.
AFP PHOTO
Kotak hitam atau the Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Germanwings Airbus A320 yang jatuh di pegunungan Prancis Alps.

SEYNE, SUMUTPOS.CO – Satu per satu teori tentang jatuhnya pesawat Germanwings dengan nomor penerbangan 4U 9525 pada Selasa (24/3) mulai bermunculan. Di kalangan forum pilot profesional beredar kabar bahwa kotak hitam pesawat nahas itu telah dianalisis. Dari situ terungkap bahwa penyebab jatuhnya pesawat adalah kegagalan struktural. Artinya, ada masalah dengan badan pesawat.

Salah satu kotak hitam memang sudah ditemukan di ketinggian 2 ribu meter di atas permukaan laut. Kondisinya lumayan rusak. “Kami harus memperbaikinya dalam waktu beberapa jam nanti untuk bisa mengetahui penyebab tragedi ini,” tutur Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve.


Kemungkinan hasil analisis dari blackbox itulah yang telah keluar dan menjadi pembicaraan. Dikabarkan bahwa kaca depan pesawat retak sebelum tinggal landas. Oksigen di dalam kokpit berkurang cepat dan pilot tidak menyadarinya. Mungkin itulah penyebab jatuhnya pesawat. Karena retaknya kaca tersebut, pilot dimungkinkan hilang kesadaran sehingga tidak bisa mengendalikan pesawat dan tidak mampu mengirimkan sinyal tanda bahaya. Imbasnya, 144 penumpang dan 6 kru tewas setelah pesawat menabrak Pegunungan Alpen, Prancis.

Teori keretakan kaca depan pesawat itu sedang hangat dibahas di Professional Pilots Rumour Network (PPRuNe), forum penerbangan online yang cukup terkemuka. Pembicaraan senada muncul di forum penerbangan Aviation Herald.

“Ada suara krak yang terdengar sangat cepat,” tulis laporan anonim di forum tersebut. Setelah suara itu, kendali pesawat diganti dengan autopilot, namun tampaknya tidak membantu. Sebab, ketika pesawat menukik tajam, kendalinya juga masih autopilot. Sesaat sebelum pesawat jenis airbus A320 tersebut menabrak, koneksi autopilot itu terhenti otomatis. Mungkin juga ada kegagalan di program autopilot.

“Saya tahu rasanya. Saya merasa sakit ketika oksigen berkurang. Saya menyadarinya dan meraih oksigen cadangan. Saya beruntung, tapi banyak pilot yang lain tidak,’ tulis salah seorang pilot. ‘Jika tidak disadari sejak dini (kekurangan oksigen Red), game over,” tambah pilot lainnya di forum PPRuNe.

Bukan tanpa alasan laporan simpang siur tersebut beredar. Sebab, 24 jam sebelum kecelakaan terjadi, pesawat yang dioperasikan maskapai Lufthansa itu dilarang terbang dengan alasan teknis. Salah satunya adalah masalah di roda untuk pendaratan.

Kejadian serupa pernah menimpa British Airways dengan nomor penerbangan 5390 pada 1990. Kaca depan pesawatnya pecah dan membuat separo bagian tubuh si pilot Tim Lancaster keluar jendela pesawat. Untungnya, saat itu si kopilot berhasil mengambil alih kendali dan mendarat darurat di Southampton. Tidak ada korban luka. Hanya Lancaster saja yang menderita patah lengan, shock, serta kedinginan.

loading...