Larang Suami Jual Kompor Gas, Istri Dibalok

Hukum & Kriminal

BELAWAN, SUMUTPOS.CO

Sabu-sabu-Ilustrasi
Sabu-sabu-Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Irwan Nur Habib terbilang suami kejam. Bukannya menafkahi, dia malah menjuali perabotan rumah. Parahnya, semua demi memenuhi ketergantungannya atas narkoba jenis sabu-sabu.

Terakhir, Senin (31/10) malam lalu, pria berusia 29 tahun ini hendak menjual kompor gas. Mengetahui itu, Halimah (25), istrinya langsung menghalangi.


Bukannya malu dan minta maaf, Irwan justru marah dan menganiaya Halimah. Tak tanggung-tanggung, penganiayaan dilakukan dengan menggunakan balok. Akibatnya, sekujur tubuh sang istri mengalami luka lebam.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ini terungkap ketika Halimah mendatangi Mapolsek Medan Labuhan, Selasa (1/11) sore. Dengan wajah lesu dan tubuh lemas, dia mengaku hendak mengadukan si suami atas penganiayaan yang dialaminya.

Dikatakan Halimah, Irwan sudah tidak kerja sejak empat bulan terakhir. Sebelumnya, ayah dari ketiga anaknya tersebut bekerja di pabrik tahu. Sejak menganggur, suaminya menjadi tak karuan. Parahnya lagi, Irwan diketahui kerap mengonsumsi sabu-sabu.

“Dia menjadi kasar sejak mengonsumsi sabu. Sudah sering suami saya mukul, sejak anak satu saya sudah sering dipukulinya,” kenang Halimah dengan nada lesu.

Mengenai puncak malam penganiayaan, dirinya sama sekali tidak menyangka suaminya mau menjual kompor gas. Melihat Irwan mengambil kompor gas dari dapur, dia langsung bereaksi menahannya.

Disyaki sedang dalam kondisi sakaw (sangat membutuhkan sabu), larangan tersebut direspon Irwan dengan emosi. Tanpa banyak kata, Halimah pun dipukuli. Tidak hanya pakai tangan kosong, tetapi juga balok yang ada di rumah mereka.

Karena kalah tenaga, akhirnya Halimah tak berdaya melawan. Tubuh ibu anak tiga ini pun memar-memar. “Lihatlah badan belakang saya. Habis biru dipukulinya, tangan saya juga bengkak karena dipukulinya,” kesah Halimah di kantor polisi.

Halimah menyesalkan sikap suaminya yang sudah ketergantungan sabu, hingga lupa tanggung jawab terhadap keluarga. “Saya tak tahu persis sejak kapan suamiku itu kecanduan sabu. suami saya tak kerja lagi, makanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terpaksa saya kerja sebagai tukang cuci,”sedihnya.

Penganiayaan pada Senin malam kemarin dianggap wanita ini sebagai batas akhir kesabarannya. Dia sudah bertekad melaporkan suaminya ke polisi. “Saya memang tak tahan lagi. Tadi sudah konsultasi sama keluarga, makanya saya buat laporan,” sebut Halimah sembari menuju ruang pemeriksaan.

Kapolsek Medan Labuhan, AKP H Yasir Ahmadi mengaku dirinya belum mengetahui adanya laporan kasus KDRT atas korban Halimah. Pun begitu, dia memastikan kasusnya akan diproses sesegera mungkin. “Belum saya cek, yang jelas setiap laporan akan kita proses,” kata Yasir. (ril/ras)

loading...