Korban Meninggal 100 Lebih, Bantuan Terus Mengalir

Berita Foto2 Nasional
HARI KEDUA: Alat berat meratakan puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa di Pidie Jaya, Kamis (8/12). ENO SUNARNO/RAKYAT ACEH
HARI KEDUA: Alat berat meratakan puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa di Pidie Jaya, Kamis (8/12).
ENO SUNARNO/RAKYAT ACEH

Tim sendiri terus berpacu dengan waktu untuk bisa menyelamatkan korban. Pasalnya, ada harapan korban selamat bisa bertahan hingga 7 hari. Karenanya, tim telah memperkuat proses pencarian dengan menggunakan alat life detector.

”Prinsip kerjanya, saat ada yang tertimpa bangunan alat kita hidupkan. Maka perangkat handphone dalam radius 100 meter akan menerima pesan ‘apakah Anda masih menerima SMS ini?’ dan jika pesan itu dijawab berarti orangnya masih hidup dan kami prioritaskan untuk kita lakukan pencarian,” tutur Alumni Universitas Gajah mada itu. Selain itu, ada pula alat yang bekerja berdasarkan infrared untuk mencari suhu panas tubuh manusia.


Diakuinya, memang ada wilayah yang sulit dijangkau. Karenanya, akan ditangani secara manual. Basarnas sendiri sudah menerjunkan tim collapsed building yang memiliki kemampuan untuk mengambil korban dari puing-puing tanpa bantuan alat berat.

Sementara itu, Kepala BMKG Andi Eka Sakya menuturkan, pasca gempa, pada hari yang sama tejadi sedikitnya 38 kali gempa susulan. Namun, kekuatannya semakin lama semakin melemah, dan tidak terlalu berdampak. Paling besar, gempa susulan yang tercatat berkekuatan 4,8 SR.  ’’Kami sudah hitung perkiraan bahwa diperlukan kira-kira tiga hari sampai tidak ada lagi gempa susulan,’’ ujarnya di kompleks parlemen kemarin (8/12).

Pihaknya juga sudah mengirim tim ke Aceh untuk memetakan kembali patahan-patahan yang terjadi setelah gempa. Sekaligus, untuk memberikan informasi kepada masyarakat di lokasi gempa berkaitan dengan kondisi geologis pascagempa. Termasuk gempa susulan.  Sehingga, masyarakat tidak sampai emndapatkan informasi yang simpang siur.

Meskipun begitu, pihaknya juga menyampaikan kepada masyarakat setempat agar tetap menghindari gedung-gedung, terutama yang roboh selama masa gempa susulan. Sebab, gedung-gedung tersebut masih tetap rawan. ’’Indonesia sangat rawan gempa dan tsunami tapi yang jelas, masyarakatdi Aceh saat itu tanpa komando langsung lari ke tempat yang lebih tinggi. Itu bagus,’’ tambahnya.

Dia mengingatkan, dalam kejadian gempa bumi, sangat jarang ada korban jiwa yang memang benar-benar akibat gempa. Yang ada, korban berjatuhan karena tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh akibat gempa. Karena itu, dia mengapresiasi gerak cepat warga Pidie Jaya dan sekitarnya ketika terjadi gempa, meski jumlah korban tetap tidak bisa diblang sedikit.

Deputi Bidang Operasi SAR Basarnas Heronimus Guru menjelaskan, Basarnas masih mengupayakan pencarian korban sampai tuntas. Pihaknya menyisir bangunan-bangunan yang roboh untuk mencari tanda-tanda keberadaan korban. ’’Kami memiliki detektor untuk mencari tahu apakah di situ ada orang,’’ ujarnya.

Basarnas menerjunkan 113 personel di lokasi terdampak gempa. Begitu pula kebutuhan evakuasi secara keseluruhan sudah tersedia sehingga tim SAR bisa langsung bekerja. Begitu terdeteksi ada korban, peralatan berat langsung bekerja membongkar bangunan tersebut untuk mengeluarkan korban.

Disinggung apakah jumlah korban masih akan terus bertambah, Guru belum memberikan jawaban pasti. ’’Ada satu hotel atau bangunan tingkat tiga, yang semula direncanakan ada acara, kemarin kami temukan ada sekitar 20-an,’’ lanjutnya. Pihaknya masih akan mencari kembali korban yang mungkin masih tertinggal di dalam gedung.

Begitu pula ketika disinggung mengenai batas waktu pencarian korban. Dia menjelaskan, dalam bencana kali ini, pihaknya mengikuti aturan dari BNPB. ’’Tergantung masa tanggap darurat. Kami akan bekerja sampai masa tanggap darurat selesai,’’ tambahnya.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *