Metropolis
Foto: Fachrul Rozi/Sumut Pos  –  Sandar : Kapal Singapura BG Ewan Falcun pengangkut ribuan ton sulfur (belarang) sempat tertahan 18 jam akibat sistem inaportnet terganggu di pelabuhan Belawan.

BELAWAN, SUMUTPOS.CO -PT Pelindo I menyatakan akan menghapuskan denda terkait dengan terjadinya gangguan pada layanan sistem IT inaportnet di Belawan. Kendati disambut baik pengguna jasa, tapi mereka tetap mengaku rugi msebab terancam denda oleh pemilik barang karena pengiriman tidak tepat waktu, Minggu (10/9) kemarin.

Public Relation PT Pelindo I Cabang Belawan, Khairul Ulya menuturkan, sejak inaportnet di Belawan diberlakukan awal Agustus 2017, ganggung sistem layanan berbasis internet kerap terjadi. Ini disebabkan peralihan sistem dari sebelumnya manual ke online.”Peralihan sistem butuh waktu. Kalau dampaknya pasti ada, karena ini masih dalam masa transisi,” ujarnya.

Pun begitu, kata dia, bagi pengguna jasa yang menggunakan system inaportnet mengalami gangguan dalam proses pelayanan kapal dan barang, pihaknya membebaskan denda sementara, hingga nantinya sistem IT kembali normal.


“Penalti atau denda dihapuskan. Tapi, terhadap gangguan diakibatkan oleh hal diluar sistem inaportnet, pemberian denda tetap diterapkan,” jelas Ulya.

Pembebasan denda ini, nantinya bisa disampaikan pengguna jasa langsung kepada pihak pelindo. Tentunya, dengan mekanisme adanya permohonan namun tidak direspon disebabkan gangguan IT.”Ya, harus ada pembuktian, baru dinyatakan bebas denda,” katanya.

Ulya, mengaku atas kejadian itu PT Pelindo I kini masih membenahi sistem jaringan yang ada. Akan tetapi perbaikan teknis tersebut tidak menghentikan proses pelayanan jasa kepelabuhan melalui sistem online.

“Target kita Oktober tahun ini sudah bisa rampung. Tapi, kalau melihat kondisinya kemungkinan sampai awal Januari 2018, baru ready semua,” terang Ulya.

Sehubungan dengan hal itu, pengguna jasa di pelabuhan Belawan menyambut baik adanya kemudahan pembebasan denda. Meski demikian, mereka tetap mengaku rugi karena harus menanggung denda cukup besar dari pihak pemilik barang.

Branch Manager PT Bahari Sandi Pratama, Dedi Ainal menyebutkan, dampak kerugian dari rusaknya jaringan inaportnet tidak hanya denda antara pengguna jasa dengan pelindo saja. Akan tetapi, mereka juga terancam denda dengan pemilik barang akibat keterlambatan waktu.

“Ok la kalau Pelindo membebaskan denda. Apa ini bisa menutup kerugian kami dengan pemilik barang atau kapal,” cetusnya.

Menurut dia, sistem layanan online jasa kepelabuhan pada dasarnya baik untuk mempercepat proses kunjungan dan keberangkatan kapal. Namun, akibat buruknya penerapan berbasis internet di pelabuhan Belawan justru memperlambat kegiatan dan merugikan pengusaha.”Jika terjadi gangguan seharusnya pelindo memberlakukan layanan manual sementara. Bukan justru tetap memaksakan layanan online, terakhir kapal tiba dan berangkat terjadi dealay berjam-jam, bahkan sampai satu hari,” ungkap Dedi.

Parahnya lagi, pengguna jasa harus bolak-balik mengurus proses jasa pandu untuk sandar dan keberangkatan kapal. Sedangkan, para awak kapal telah stand by menunggu kedataangan pandu.”Akibat inaportnet eror, kami harus bolak balik mengurus dokumen dari otoritas pelabuhan ke pelindo. Sementara, kapal masuk dan keluar pelabuhan diwajibkan pandu,” keluhnya.

Untuk diketahui, akibat aplikasi inaportnet terganggu sejumlah pelayanan kapal tiba dan berangkat di pelabuhan Belawan menjadi kacau karena terjadi dealay terlalu lama. Bahkan, dampak rusaknya sistem ini sempat membuat kapal BG Ewan Falcun berbendera Singapura yang berlayar menuju ke negaranya tertahan 18 jam.(rul/ila)

 

Keterangan Poto

.(Poto sumut pos/fachrul rozi)

loading...