PDAM Tirtanadi: Harusnya Tak Ada Bangunan di Jalur Pipa

Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Para pekerja memperbaiki pipa induk berdiameter 1.000 mm milik PDAM Tirtanadi di Jalan Stasiun Kereta Api Duren/Jalan
Purwo Gang Anyelir, Selasa (23/ 10). Akibat rusaknya pipa induk ini, distribusi air PDAM Tirtanadi menjadi terganggu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – PDAM Tirtanadi harus bekerja ekstra memperbaiki kerusakan pipa induk berdiameter 1.000 mm di Jalan Stasiun Kereta Api Duren/Jalan Purwo Gang
Anyelir. Perbaikan dilakukan sejak Minggu
(22/10), dan masih berlangsung hingga
kemarin, Senin (23/10).

Menurut Direktur Air Minum, Delviyandri
didampingi Kadiv Transmisi Distribusi, Muhri, kondisi medan dan letak pipa yang berada di bawah rumah warga, membuat petugas tidak leluasa melakukan perbaikan. sehingga memerlukan waktu agak lama.

“Tadi malam, pukul 12.00 WIB, dinding rumah warga roboh. Untungnya tidak ada
petugas di bawahnya” kata Delviyandri. Menurutnya, robohnya dinding rumah dan tanah di lokasi galian pipa bocor itu, membuat pekerjaan semakin lama, karena
harus mengangkat bebatuan dan tanah longsor yang jatuh ke galian pipa.

Terkait adanya bangunan di atas pipa besar PDAM Tirtanadi, menurut Delviyandri, itu memang sudah di luar kewenangan mereka.

Karena, lahan tempat pipa ditanam adalah
tanah milik PJKA. Dikatakannya, dulu lahan itu adalah jalan KA dan harusnya memang tidak ada bangunan di sana, karena
merupakan jalur hijau.

“Saat pemasangan pipa, sudah ada koordinasi dengan PJKA. Sehingga kalau ada bangunan di atas jalur pipa, bukan lagi wewenang Tirtanadi. Harusnya tidak ada izin bangunan di atas pipa. Karena, kalau ada
kerusakan seperti ini akan berisiko dan perbaikan jadi terkendala,” jelasnya.

Menurut Delviyandri, PDAM Tirtanadi
juga sudah berupaya mengimbau dan
memberitahu warga, di jalur itu ada pipa
transmisi air bersih. PDAM Tirtanadi juga
memasang patok sebagai penanda bahwa
di jalur itu ada pipa transmisi. Namun warga
maupun pemberi izin membangun tidak
mengindahkannya, bahkan mencabut
patok-patok tersebut.

Diceritakannya, jaringan pipa itu dibangun pada 1990 saat program Medan Urban Development Project (MUDP) Tahap
I. “Pemasangan pipa dari IPA Delitua dengan panjang sekitar 20 kilometer dengan diameter 1.000 mm dan terbuat dari fiber yang memang rawan tekanan,” katanya.

Lalu mengenai penyebab kerusakan pipa,
dikatakannya, itu adalah karena adanya
semacam water hummer yang membuat
pipa dari bahan fiber itu rusak. ”Secara
teknis, penyebab rusaknya pipa adalah
terjadinya lonjakan air atau tekanan secara
tiba-tiba yang disebut juga water hummer.

Ini bisa disebabkan matinya aliran listrik,
sehingga aliran air terhenti secara tiba-tiba.

Kemudian hidup kembali menggunakan
genset, sehingga aliran air yang berjalan tiba-tiba mengakibatkan goncangan dalam
pipa. Padahal pipa yang terbuat dari fiber itu
rentan goncangan tiba-tiba, maka terjadi-
lah kebocoran,’ terang Delviyandri.

Untuk mengantisipasi hal serupa terjadi,
kata Delvri, upaya yang mungkin dilakukan
adalah relokasi pipa. “Ke depan mungkin
akan ada upaya relokasi pipa sekaligus
mengganti bahan pipa. Ini tentu membutuhkan biaya mahal, tapi tentu saja tetap harus dipikirkan,” katanya. (prn/dik/adz)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *