Bahas Pertumbuhan Penduduk dan Seks Anak

Metropolis
Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Drs Temazaro Zega MKes, bersama narasumber di acara Seminar Kesehatan Reproduksi Zaman Now yang digelar di Gedung Bina Graha, Kamis (12/7).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Badan Kependudukan Keluarga Berencana (BKKBN) Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprovsu) menggelar Seminar Kesehatan Reproduksi Zaman Now yang digelar di Gedung Bina Graha, Kamis (12/7). Kegiatan dilaksanakan untuk memperingati Hari Keluarga Nasional ke XXV.

Seminar yang dihadiri mahasiswa, mitra kerja, dan dosen ini diisi oleh narasumber Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Drs Temazaro Zega MKes, praktisi kesehatan/pimpinan Rumah Sakit Umum (RSU) Sarah Medan, dr Beni Satria MKes, dan Dosen FKM USU Sri Rahayu Sanusi SKM MKes PhD.


Temarazo dalam paparan menyebut di Tahun 2010 jumlah pendudukan Indonesia sebanyak 237,6 juta jiwa, Sumut ada 13.028.700 jiwa. Di tahun 2020 diproyeksi jumlah penduduk Indonesia menjadi 271.066.400 jiwa dan Sumut berjumlah 14.703.500 jiwa.

“Jadi ada laju pertumbuhan penduduk dengan presentasi 1,24 persen per tahun dan rasion jenis kelamin 1,01. Jika tidak mampu kita kendalikan, maka yang terjadi adalah bertambahnya angka anak putus sekolah, pengangguran, pencemaran lingkungan,kerusuhan dan kemiskinan,” katanya.

Bicara apakah masalah ledakan pendudukan juga terjadi di Sumut, Temaro menguraikan di tahun 2011 ada 13.103.596 jiwa, meningkat di 2014 sebesar 13.766.851 jiwa sementara di tahun 2017 sebesar 14.262.147.

“Sehingga jawabannya ya. Dari total penduduk di tahun 2017, angka usia produktif sebanyak 9.149.649 sementara usia non produktif sebesar 5.112.498 jiwa. Bila dihitung, angka TotalFertility Rate (TFR) atau angka kelahirannya adalah 2,9 persen,”teragnya.

Singkatnya, tantangan kultur budaya masyarakat di Sumut sehingga angka TFR masih jauh di atas angka TFR rata-rata nasional 2,1. Angka kelahiran yang paling tinggi katanya terjadi masyarakat daerah gunung, seperti Simalungun, Taput bahkan sampai ke Nias.

Begitupun, pada dasarnya permintaan alkon KB cukup tinggi, tapi kebanyakan warga baru mau ber KB setelah anaknya 11. “Kenapa, karena masalah kultur budaya, kebanyakan orang Sumut apalagi yang bermarga mau anak laki-laki. Itulah yang menyebabkan angka kelahiran tinggi, ” ungkapnya.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *