Usia Penderita Diabetes Semakin Muda

Metropolis

Jumlah pasien diabetes di Indonesia mencapai 10 juta orang. Jumlah itu membuat Indonesia menduduki peringkat ke-7 negara dengan pasien diabetes terbanyak di dunia pada tahun 2017. Ironisnya lagi, usia penderita diabetes
semakin muda.

Hal ini disampaikan Direktur Diklat Penelitian dan kerja sama RS USU dr Sake Juli Martina, SpFK pada kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar Koordinator Klinik dr Werina Bastian, bekerja sama yang RS USU dan PT Telkom, dilaksanakan di Klinik Yakes – Telkom Jalan Sena No 8A Medan.


Dr Sake Juli Martina, SpFK yang jugan
Ketua Panitia pelaksana menyatakan, berdasarkan data jika dibagi berdasarkan umurnya, usia penderita diabetes di Indonesia semakin muda. Dari angka 10 juta tersebut, sebanyak 1,67 juta berusia di bawah 40 tahun, 4,65 juta berusia 40-59 tahun, sedangkan sisanya (2 juta) berusia 60-79 tahun.

Padahal, lanjut dr Sake, dulu kalau belum usia 40 tahun, dokter akan langsung menghapus diabetes dari dugaan mereka.

“Oleh karena itu, kita patut memperhatikan faktor risiko dan gejala khas diabetes untuk mencegah atau memperlambat komplikasi akibat diabetes,” ungkapnya.

Dipaparkan dalam acara tersebut, ada 12 faktor risiko dari diabetes, yakni usia 45 tahun ke atas, riwayat keluarga diabetes, riwayat penyakit kardiovaskular, pernah melahirkan bayi dengan berat di atas empat kilogram, mengalami kadar gula tinggi saat hamil, sukar hamil, kolesterol tinggi, darah tinggi, gemuk, pre-diabetes, kurang aktivitas fisik dan merokok.

“Jika memiliki salahsatu atau bahkan lebih dari faktor-faktor tersebut, saya mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa plasma normal setiap tiga tahun, atau setahun sekali bila masuk dalam kelompok pre-diabetes (kadar gula 140-200 mg/DL),” ungkapnya.

Selain itu, juga harus diperhatikan gejala-gejala khas diabetes, seperti sering haus, sering lapar, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya, mudah mengantuk, cepat lelah, luka sukar sembuh, gatal, kaki atau tangan terasa baal atau kesemutan, impotensi, keputihan, dan pengelihatan buram.

“Ketika kita mengalami satu atau lebih dari gejala-gejala tersebut sudah bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk berkonsultasi ke dokter,” ungkapnya.

Sake Juli Martina memberi apresiasi terhadap dukungan penuh dari Direktur Utama RS USU Dr dr Syah Mirsya Warli, Sp.U dan seluruh jajarann direksi lainnya. “Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran RS USU dalam membina klinik – klinik yang ada di sekitarnaya,” ungkapnya.

Dokter Sake Juli Martina juga menyebutkan bahwa kegiatan yang sama sebelumnya juga sudah dilakukan di klinik diabetes Alifa Jalan Brigjend Katamso pada Rabu, 11 Juli 2018.

“Kita berharap agar masyarakat lebih peduli dengan yang namanya penyakit Diabetes. Karena seperti yang saya terangkan penyakit ini sudah mulai menyerang orang di usia muda,” pungkasnya.

Sementara dari unsur panitia hadir Dr. dr. Isti Ilmiati Fijiati, M.Kes, Dr.Tulus Ikhsan Nasution, MSc dan Rica Asrosa, S.Si serta dr. Dina Utami Lubis yang memberikan banyak informasi berupa ceramah dan dialog interaktif bagi para penderita diabetes yang hadir pada saat itu.

Acara yang dilaksanakan oleh Koordinator Klinik dr Werina Bastian dan dihadiri Asisten Manager Bagian Umum, M. Fitri, Tim Pembinaan Yakes Telkom Quinta, Zuraida , Irmadani dan Trimuharramah mendapat dukungan penuh dari Manajer Yakes Telkom Area Sumatera Bapak Zendrich Saragih dan Asisten Manager Pengendalian Medis dr Firamadani. (dvs/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *