• Kebanyakan Tidur Tingkatkan Resiko Kematian Dini
Kebanyakan Tidur Tingkatkan Resiko Kematian Dini
  • Dipublikasikan pada: Aug 9, 2018 Dibaca: 378 kali.

Tidur


KURANG tidur selama ini dikaitkan dengan risiko kematian dini. Tapi siapa sangka, tidur berlebih juga dapat mengakibatkan hal yang sama.

Sebuah penelitian baru Keele University mengungkapkan, bila tidur selama lebih dari delapan jam setiap hari dapat berisiko. Peneliti mencatat, bila orang yang secara teratur memiliki waktu tidur lebih banyak dapat berakhir dengan gangguan tidur serius.

Gangguan ini berdampak pada pernafasan dan menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung. Dari 74 penelitian yang dilakukan sebelumnya, peneliti mengambil kesimpulan bila tidur berlebihan bisa menjadi penanda kesehatan yang buruk.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Heart Association ini menganalisis hubungan antara waktu tidur, penyakit kardiovaskular, dengan kematian.

Dari data yang dikumpulkan mulai tahun 1970 hingga 2017, kurang lebih ada 3 juta peserta yang terlibat dalam penelitian ini. Setelah dilakukan analisis, para peneliti menemukan data durasi tidur selama 10 jam dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dini sebanyak 30% bila dibandingkan dengan durasi tidur selama 7 jam.

Penelitian ini juga mengungkapkan adanya peningkatan risiko stroke sebanyak 56% dan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular sebanyak 49% pada mereka yang tidur selama lebih dari delapan jam.

Peneliti utama, Dr Chun Shing Kwok menjelaskan, bila penelitian yang dilakukannya bersama rekan peneliti lain memiliki dampak kesehatan bagi masyarakat.

Penelitian ini tergolong penting, karena menunjukkan fakta tidur berlebihan merupakan penanda peningkatan risiko kardiovaskular.

“Temuan kami memiliki implikasi penting, karena dokter harus memiliki pertimbangan yang lebih besar untuk mengeksplorasi durasi dan kualitas tidur selama konsultasi pasien. Jika dokter menemukan pola tidur yang berlebihan, terutama jangka waktu yang panjang yaitu lebih dari 8 jam, maka dokter harus mempertimbangkan skrining untuk faktor risiko kardiovaskular,” ungkap Dr Chun seperti yang dikutip Okezone dari Independent, Rabu (8/8).

Sementara, sebelumnya ada beberapa penelitian yang mengungkapkan masalah terkait durasi tidur. Bulan lalu peneliti dari University of Sydney menyatakan, kekurangan oksigen yang disebabkan oleh sleep apnea dapat menyebabkan otak menyusut.

Sehingga memengaruhi kualitas memori dan dapat menyebabkan demensia. Demensia adalah suatu kondisi di mana kemampuan otak seseorang mengalami kemunduran. Kondisi ini dapat ditandai dengan keadaan seseorang sering lupa akan sesuatu, keliru, adanya perubahan kepribadian dan emosi yang naik-turun atau labil.

Sedangkan penelitian terbaru oleh University of Glasgow menyatakan, kurang tidur dapat menyebabkan masalah kesehatan mental karena menurunkan suasana hati.(okz/ala)

loading...
TAGS :