29 September, Gerhana Matahari Cincin Akan Melintasi Sumut
  • Dipublikasikan pada: Aug 10, 2018 Dibaca: 378 kali.

Dok Lapan
Gerhana matahari cincin- Ilustrasi.


PEKANBARU, SUMUTPOS.CO – Provinsi Sumatera Utara salah satu wilayah yang akan dilintasi gerhana matahari cincin. Meski terbilang masih lama, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( Lapan) sudah mulai menginformasikan kepada masyarakat.

“Gerhana matahari cincin akan melintasi Sumatera Utara, pada 29 Desember 2019 mendatang,” ungkap Kabag Humas Lapan, Jasyanto di acara peringatan hari kebangkitan teknologi nasional (Hakteknas) di Pekanbaru, Riau, Jumat (10/8/2018).

Dia mengatakan, selain Sumut, gerhana matahari cincin akan melintasi beberapa provinsi di Indonesia.  Di antaranya, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Dari sejumlah provinsi yang akan dilalui jalur gerhana tersebut, titik Greatest Eclipse, yaitu ketika sumbu bayangan bulan berada paling dekat dengan pusat bumi jatuh di wilayah Kabupaten Siak, Pulau Pedang pada lokasi 1,0089° LU- 102,2465° BT.

“Di sekitar Pulau Pedang dan Kabupaten Siak durasi fase cincin selama 3 menit 39 detik, mulai pukul 10.22 WIB berpuncak pada 12.17 WIB dan berakhir pada 14.13 WIB,” kata Jasyanto.

Sementara dari wilayah lainnya, sambung dia, fenomena tersebut akan bisa diamati sebagai fenomena gerhana parsial. Jasyanto menjelaskan, pusat sains antariksa akan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Siak.

“Kita bekerja sama dengan Pemerintah Siak dalam mempersiapkan diri menyambut fenomena gerhana matahari cincin, yang dapat diperluas pada kegiataan keantariksaan lainnya apabila diperlukan di kemudian hari,” tuturnya. “Kita juga mengajak masyarakat dari sekarang untuk menyaksikan fenomena ini. Apalagi Siak dikenal daerah yang memiliki objek wisata bersejarah,” tambah Jasyanto.

Terkait gerhana matahari cincin, Jasyanto menjelaskan, gerhana matahari terjadi saat bulan berada pada fase bulan baru, ketika posisi bulan terletak antara bumi dan matahari. “Perlu diingat bahwa gerhana matahari tidak selalu terjadi pada tiap fase bulan baru. Hal ini dikarenakan bulan bergerak mengelilingi bumi dengan kemiringan orbit lebih kurang lima derajat celcius terhadap bidang orbit Bumi terhadap matahari atau ekliptika,” tuturnya.

Saat gerhana, kata Jasyanto, piringan matahari di langit akan tertutup piringan bulan sehingga cahaya matahari akan terhalang. Kerucut bayang-bayang bulan yang disebut umbra dan penumbra akan jatuh ke sebagian wilayah permukaan Bumi. (idon/kps/net)

loading...