SITI KHODIJAH, PENCARI BATU UNTUK TAMBANG EMAS MARTABE
I Never Dreamed About Succes, I Worked For It…
  • Dipublikasikan pada: Aug 15, 2018 Dibaca: 381 kali.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
SITI KHODIJAH: Siti Khodijah Nasution, meminta para wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, agar melepas benda-benda logam yang dikenakan sebelum dibawa ke dekat bebatuan.


Ia membuktikan, emak-emak tak sekadar tahu soal-soal dapur dan rumah tangga. Tapi juga mampu menguasai ilmu yang kerap dianggap kawasan laki-laki: Pertambangan. Awal berkarir di industri tambang, ia satu-satunya perempuan di tim yang berjibaku ke hutan dan sungai mencari bebatuan. Kini… ia memimpin di divisinya.

—————————————–
Dame Ambarita, Batangtoru
—————————————–
“Selamat siang bapak ibu. Nama saya Siti Khodijah Nasution. Saat ini menjabat sebagai Senior Specialist Exploration, Operations, Safety Departemen Eksplorasi di Tambang Emas Martabe. Di sini kita akan melihat bebatuan, yang dikumpulkan Departemen Eksplorasi,” sapa seorang perempuan cantik berjilbab mengenalkan diri, sembari menebar senyum lebar ke para tamunya.

Memegang toa sebagai pengeras suara, perempuan berpostur tubuh relatif mungil itu dengan lincah memandu puluhan wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources di Batangtoru, Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu. Langkahnya menuju ke core sheed, semacam gudang tempat penyimpanan batuan inti hasil pemboran.

Di gudang beratap seng tetapi tanpa dinding itu, Siti meminta para wartawan yang mengenakan benda-benda mengandung logam, agar melepasnya dari tubuh dan menyimpannya di kantong atau tas. Alasannya, benda-benda itu bisa secara semu memengaruhi pengukuran kadar mineral bebatuan, jika berada dekat-dekat.

Di tengah gudang, deretan bebatuan beragam warna langsung menyedot perhatian. Batu bermacam warna itu dibariskan beberapa jalur secara horizontal. Menurut Siti, sebutannya core, yakni sepotong batuan atau formasi bawah tanah berbentuk bulat (seperti lemang) yang dipotong dan diangkat ke permukaan dengan alat bor putar yang dilengkapi dengan stang (batang) bor pipa dan dan tabung penangkap core. Panjangnya mulai 1,5 meter sampai 3 meter. Diameternya ada tiga ukuran: 4 cm, 6 cm, dan 8.4 cm.

Batu-batu itu tampak pecah-pecah. Di setiap batu, ada tag berisi informasi tentang ukuran panjang dan kedalaman saat batu itu digali dari perut bumi. Batu itu untuk penyelidikan geologi dan analisis di laboratorium.

Menurut Siti, ada beberapa conto core hasil pemboran di wilayah kontrak karya PT Agincourt Resources di Batangtoru. Sebagian core disimpan di ruangan tertutup (freezer), disesuaikan dengan analisa yang akan dilakukan.

“Di gudang ini, tersimpan conto batuan inti pemboran. Di sini juga dilakukan kegiatan logging/deskripsi batuan, sampling, photo core, cutting core, sampai pada persiapan pengiriman conto ke lab,” jelasnya.

Sambil terus bergerak di antara bebatuan, ia menjelaskan jenis-jenis batu berikut kandungan mineralnya. “Ini adalah urat kuarsa, batuan yang paling banyak mengandung emas. Logam perak merupakan ikutan dari mineral emas, dengan perbandingan 1:3,” jelasnya sembari menunjuk batu dimaksud.

“Ini batu andesite, yakni jenis batuan beku yang pada beberapa lingkungan pengendapan menjadi ’rumah’ untuk emas dan perak serta mineral lainnya,” lanjutnya lagi sambil menunjuk batu lain.

Batu conto hasil pemboran di beberapa titik itu akan diinterpretasi oleh para geologist, dibuat modelnya, dan dihitung cadangannya di perut bumi di wilayah penggalian. Nantinya data analisa cadangan dan kualitas sumber daya mineral batu akan disetor ke konsultan (pihak ketiga). Konsultan akan memvalidasi data. Jika dinilai layak tambang, data akan disetor ke Departemen Mining, untuk dijadikan pedoman dasar aktivitas pertambangan.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
SERIUS: Siti Khodijah Nasution, serius memberi penjelasan soal jenis-jenis bebatuan inti hasil pemboran, kepada puluhan wartawan yang mengikuti site visit ke Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu.


Perempuan lulusan Jurusan Pertambangan dari Institut Teknologi Medan (ITM) ini menjelaskan, di perusahaan tambang emas, Departemen Eksplorasilah yang sejak awal mencari dan menemukan lokasi bebatuan mengandung emas di perut bumi.

Tahap awal, tuturnya, para ilmuwan — kerap disebut detektif alam–, mengobservasi alam dengan mempelajari bebatuan. Tujuannya, mencari bukti tentang kandungan mineral di wilayah yang dituju.

Berbekal alat tulis, kantong sampel, palu, pipa penanda tempat, kamera, GPS, tim geologi (biasanya terdiri dari geologist, medis, dan kru) berangkat ke area yang pemilihan area berdasarkan peta dasar dan data pendukung yang sudah ada sebelumnya. Kegiatan ini disebut dengan mapping. “Sekali berangkat bisa beberapa tim dengan tujuan yang berbeda,” katanya.

Di wilayah yang dituju, para geologis mengambil contoh sedimen sungai. Seperti pasir dan lumpur di sepanjang aliran sungai. Contoh endapan sungai ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk mengetahui nilai kandungan logam.

Selain itu, contoh tanah dan batu juga diambil. Tindakan ini dilakukan untuk lebih meyakinkan nilai kandungan logam di suatu wilayah yang sudah pernah dilakukan pengambilan contoh endapan sungainya.

“Ciri pertama daerah yang mengandung emas adalah adanya sebaran batuan beku,” jelas Siti.

Selanjutnya dilakukan pemetaan geologi, yakni peta penyebaran jenis-jenis batuan dalam suatu wilayah eksplorasi, yang diperkirakan mengandung bahan tambang. “Contohnya andesit, breksi, batu pasir, dan batu gamping,” katanya. Dilanjutkan survei pemetaan geofisika dan geokimia.

Untuk lebih memastikan, geologist melakukan pemboran di berbagai titik yang dipilih. Pemboran dilakukan di areal 8 x 12 meter, mulai kedalaman 30 hingga 1.000 meter ke perut bumi. Setelah kegiatan pemboran selesai, bukaan lahan ditanami kembali dengan bibit tanaman agar kembali menyerupai aslinya.

“Hasil pemboran dicek oleh para geologist. Selanjutnya, sampel batu hasil pemboran dibawa ke lab untuk diperiksa,” terang perempuan yang sudah lebih 8  tahun bekerja di Tambang Emas Martabe ini.

Setelah kadar bebatuan dipastikan, tugas penggalian diserahkan ke Departemen Mining. Adapun para geologist, kembali ke langkah awal di wilayah berbeda.

Sembari terus memandu wartawan ke deretan bebatuan lainnya, Siti tetap sigap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wartawan. Ia bahkan siap mengembangkan senyum saat diminta berpose menatap kamera.

Siti bercerita, ia bergabung dengan Tambang Emas Martabe sejak April 2010. Awalnya sebagai Trainee Geologist di Departemen Eksplorasi. Di timnya, ia satu-satunya perempuan yang ikut keluar masuk hutan mengambil contoh batuan. Timnya bisa keluar masuk hutan selama 2 minggu. Tergantung kebutuhan.

Bagaimana rasanya menjadi geologist perempuan, yang bekerja di antara kaum Adam?
“Yah… asyik-asyik aja sih. Paling saat keluar masuk hutan, sering lelah menyamakan langkah dengan rekan pria yang suka berjalan cepat. Kita sudah pengen istirahat, sementara mereka masih enerjik. Hahaha…,” kenang perempuan kelahiran 6 September 1981 ini dengan nada ceria.

Tim sering harus menginap dua minggu di hutan. Tiap dua minggu turun ke site untuk membuat laporan. Lalu naik lagi untuk melanjutkan mapping. Menghadapi hujan, cuaca terik, kabut, jalanan licin, menjadi makanan sehari-hari.

Untuk tidur, mereka biasa singgah di flying camp terdekat. Tak ada listrik di sana. Kadang juga tidak ada sinyal telepon seluler. Untungnya, kamar mandi selalu tersedia di setiap flying camp. Jadi ia tidak kesulitan soal kebersihan pribadi.

Meski rekannya semua laki-laki, ia mengaku tidak menemui kendala berarti. Satu tim saling membantu di lapangan. Ia juga tidak pernah dilecehkan, baik dengan kata-kata ataupun tindakan. “Satu tim sudah seperti keluarga,” ungkapnya pasti.

Untuk menjaga agar kulitnya tidak gosong, ia biasa menyiapkan sun block. Untungnya, ia memang kurang suka dandan, sehingga tidak ribet di lapangan. “Lebih suka sepatu kets dibanding sepatu berhak tinggi. Lebih suka celana daripada rok. Cocoklah untuk dunia geologist,” cetusnya lalu tertawa ngakak.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
TERSENYUM MANIS: Siti Khodijah Nasution, tersenyum manis saat diminta berpose di dekat koleksi bebatuan inti hasil pemboran.


Delapan bulan sebagai Trainee Geologist, karir si Siti Khodijah Nasution meningkat. Ia menjadi Junior Geologist. Setahun kemudian, ia dipercaya menduduki posisi Geologist.

Meski bekerja di tambang bukanlah cita-citanya sejak awal, lulusan SMK Teknik Kimia ini mengaku menikmati peranan sebagai geologist. Ia bahkan menyukai pekerjaannya di lingkungan hutan. Kerap menemukan batu-batu langka, menjadi kenikmatan tersendiri baginya. Selain, lebih berpengalaman mengenal topografi sebuah wilayah.

“Pernah dapat batu akik?” tanya seorang rekan wartawan.

“Ohh… kita memang tidak mencari batu akik, Pak,” jawabnya, lalu memalingkan wajah ke kiri sembari terkekeh geli.

Sejak tahun 2015, ia mulai fokus di aktifitas pemboran. “Tapi tidak ikut ngebor loh ya.. karena saya bukan driller. Saya hanya melakukan monitoring, progress bor, kebutuhan rig/pemboran, komunikasi dengan driller, dan membuat laporan,” jelasnya.

Beberapa tahun bertahan di posisi Geologist, awal 2017 posisinya naik menjadi Project Geologist. Pada posisi ini, ia mendeskripsikan batuan, menentukan batas sampling, QAQC data, spectrum mineral batuan,  interpretasi model, dan pemodelan batuan. Dalam menentukan batas sampling, ia berwenang memutuskan apakah sebuah pemboran layak dilanjutkan atau tidak. Putusan itu diambil hanya dengan melihat hasil pemboran secara manual.

Keahlian-keahlian itu membuat karirnya terus melejit. Hanya 7 bulan di posisi Project Geologist, pada September 2017 lalu ia kembali mendapat promosi. Nama jabatannya kini: Senior Specialist Exploration, Operations, Safety Departemen Eksplorasi di Tambang Emas Martabe.

Jika  di posisi lama ia lebih banyak ‘bergaul’ dengan bebatuan, kini ia lebih banyak mengurus operasional. Memastikan sistem pelaporan operasional dan keselamatan kegiatan eksplorasi lebih baik. Mengurus izin, berurusan dengan kontraktor, dan sebagainya.

“Posisi saya sekarang memungkinkan saya punya pengetahuan yang menyeluruh. Saya tertantang membuat sistem pelaporan yang lebih detil dan rapi,” katanya.

Awal diangkat memimpin di divisinya, penggemar baca buku biografi ini sempat merasakan sentimen penolakan dari rekan laki-laki. Baik dari bawahan maupun dari rekan sesama manager. “Ada rekan yang merasa dipotong karirnya oleh saya. Saya sedikit dipersulit,” kisahnya, tanpa mau merinci bentuk penolakan itu.

Tapi ia memilih cuek dan maju terus. Mottonya: jangan pernah ragu untuk mencoba, karena kita tidak akan pernah tau hasilnya sebelum mencoba.

Ia bahkan menuliskan tekadnya di profil whatsapp-nya: I never dreamed about succes. I worked for it… Diakuinya, tekad itulah yang membuatnya bertahan di masa-masa tertekan.

“Adaptasi bekerja di pertambangan memang sulit. Sebagai karyawan perempuan, saya dituntut untuk menyesuaikan diri dengan cepat. Saya harus bisa membuktikan bahwa saya memiliki kemampuan yang sama dengan karyawan laki-laki,” kata si sulung dari lima bersaudara ini mantap.

Kenaikan karirnya yang lumayan cepat, di samping karena kemauannya untuk belajar dan bekerja keras, juga didukung program PT Agincourt Resources membangun keberagaman gender di perusahaan.

“Tambang Emas Martabe memberi kesempatan kerja yang bagus untuk cewek-cewek. Perusahaan menargetkan 25 persen karyawan perempuan. Diutamakan masyarakat lokal,” ungkapnya.

Para pekerja perempuan difasilitasi dengan baik. Cuti melahirkan disediakan 4 bulan. Juga ada cuti dua minggu untuk suami yang istrinya melahirkan.

Suasana kerja di lingkungan tambang juga diatur lebih nyaman untuk perempuan. Ada ruang laktasi untuk ibu menyusui.

“Pelecehan dilarang. Jika ada ucapan atau bahkan pandangan mata yang dianggap melecehkan, bisa dilaporkan ke atasan. Kami para pekerja perempuan tentu saja merasa terlindungi,” ungkapnya.

Para pekerja juga mendapatkan banyak training untuk meningkatkan ketrampilan dan wawasan. Training diberi tanpa membedakan gender. “Tidak ada diskriminasi deh. Jadi meski sistem kerjanya sangat disiplin, suasana kerja lebih terasa menyenangkan,” katanya.

Ada keluhan soal perbedaan gaji antara laki-laki dan perempuan? Siti menggeleng. “Sepengetahuan saya, sistem gaji berdasarkan kemampuan, bukan jenis kelamin,” katanya.

Yang menarik, pekerja perempuan di bagian geologist terus bertambah. Saat ini ada 10 perempuan dari 27 pekerja di departemen eksplorasi. Dari jumlah itu, ada 5 perempuan yang ilmunya setara dengan geologist pria.

Persoalan keluarga menjadi tantangan sendiri bagi Siti. Awalnya ia tinggal di Medan bersama keluarga. Agar lebih fokus bekerja, tahun 2012 ia memboyong keluarganya pindah ke Sibolga. Bersyukur, suami mendukung. Suami yang berkarir sebagai seorang Core Sekurity, rela banting setir menjadi guru honorer. “Tidak masalahlah, asal keluarga lebih sering kumpul,” senyumnya. Apalagi, jarak dari Sibolga ke lokasi tambang dapat ditempuh dalam tempo 1 jam perjalanan.

Saban hari, ia diantar sang suami pukul 5 pagi ke Batangtoru. Maklum, jam kerjanya dimulai pukul 6 pagi. Berakhir pukul 6 sore. Sistem kerjanya cuti roster: 24:14. Maksudnya, 24  hari kerja terus menerus, kemudian libur 14 hari.

Kerja 16 jam per hari ini, sering mengundang protes dari kedua anaknya. “Ma… jangan kerja lagi, napa? Di rumah saja yaaa,” pinta kedua anaknya, yang berumur 3 dan 6 tahun.

Dengan lembut, Siti biasanya menjawab ringan tapi serius: “Tapi kita perlu beli susu lo Dek,” seraya memeluk kedua anaknya memberi pengertian.

Siti mengaku, larangan membawa keluarga ke lokasi tambang memang terasa agak berat bagi pekerja yang juga ibu rumah tangga. Apalagi fasilitas hiburan terbatas. Ia berharap pekerja yang memiliki balita, boleh tinggal di camp bersama anaknya. “Kalau bisa sih, ada tempat penitipan balita selama ibu bekerja,” pintanya.

Rencananya, sampai kapan berkarir di dunia tambang?
“Sampai tambang tutuplah,” candanya lalu tertawa tergelak.

Ia menjelaskan, sebenarnya tim di Departemen Eksplorasi adalah tim yang bakal paling cepat pensiun dari sebuah perusahaan tambang. Pasalnya, jika cadangan emas sudah habis dieksplorasi, departemennya pasti tak punya kegiatan lagi. Sementara tim di departemen lain masih aktif. Adapun departemen yang paling lama bertahan adalah departemen enviroment. Dibutuhkan sejak awal, dan pensiun paling akhir. Bahkan bisa dipertahankan hingga bertahun-tahun untuk mengawasi aktivitas pascatambang.

“Pertanyaan saat ini adalah: sampai kapan kami dibutuhkan di Tambang Emas Martabe?” katanya sambil mengedipkan mata.

Kalau demikian, apa rencanamu jika nanti pensiun?
“Balik ke Medan. Pengennya sih jadi konsultan. Tapiii… ada juga rencana jadi pedagang. Niatnya kalau pensiun di usia 45 tahun, mau buka toko,” cetusnya.

Adakah keinginannya yang masih terpendam?
“Menemukan batu langka dan istimewa…  batu itu campuran antara granit dan diort. Jarang dilihat dan susah ditemukan. Kalau dapat… wah, pasti rasanya puas sekali,” katanya, tertawa lebar seraya mengajak para tamunya ke luar gudang, mengakhiri sesi kunjungan.

****

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources Katarina Siburian Hardono di sela-sela soft launching Kompetisi Karya Jurnalistik 2018 Tambang Emas Martabe di Padangsidimpuan (17/7).


Perekrutan para perempuan menjadi karyawan di Tambang Emas Martabe, menurut Katarina Siburian Hardono, menyikapi penelitian yang membuktikan: ada hubungan yang kuat antara kesuksesan sebuah perusahaan, dengan keberagaman di dalamnya.

“Dampak keberagaman gender adalah munculnya keberagaman ide untuk pengembangan perusahaan, kemampuan pemecahan masalah, dan peluang berinovasi. Pada akhirnya, kualitas karyawan pun meningkat,” papar Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources ini, dalam sebuah orientasi lanjutan media di Padangsidimpuan, belum lama ini.

Merekrut perempuan ke dunia pertambangan sebagai strategi pengembangan perusahaan, menurutnya, menjadi fokus sejak tahun 2017 lalu. “Target progresif dalam tiga tahun adalah 25 persen karyawan perempuan pada akhir 2019. Saat ini telah mencapai angka 20 persen dari lebih dari 2.600 karyawan dan kontraktor,” katanya.

Dari jumlah itu, ditargetkan sebanyak 40 persen karyawan perempuan berada di posisi manajerial pada akhir 2019. “Saat ini sudah mencapai 21 persen,” kaanya.

Target dan kuota itu hanyalah katalisator perubahan yang diharapkan manajemen Tambang Emas Martabe. Adapun tujuan utamanya adalah budaya organisasi dan kerja yang terbuka dan positif. Keberagaman dianut sebagai norma. Dan karyawan perempuan maupun laki-laki berkontribusi secara aktif, sehingga perusahaan dapat beroperasi lebih efektif.

Saat ini, sebanyak 494 karyawan perempuan bekerja di 30 jenis pekerjaan yang ada di tambang. Mulai pekerjaan terampil, profesional, produksi, dan non produksi. Perusahaan percaya, penerapan pendekatan inisiatif keberagaman gender yang sukses, akan membuat Tambang Emas Martabe menjadi perusahaan yang lebih baik.

Untuk membangun budaya keberagaman itu, perusahaan merekrut tenaga kerja baru netral gender, untuk beragam pekerjaan. Baik teknis, produksi, maupun pekerjaan profesional.

“Tantangan perekrutan adalah menarik perhatian kandidat yang sesuai dengan kualifikasi. Nah, inisiatif keberagaman gender menjadi daya tarik bagi para perempuan berbakat dan kompetitif, untuk berkarya di perusahaan ini,” katanya, tersenyum dengan yakin.  (dame ambarita)

loading...