BONA PAKPAHAN, KAWAL KOPERASI PRODUKSI BERCITA RASA INDUSTRI (1)
Ada yang Salah dengan Sistem yang Diikuti Petani
  • Dipublikasikan pada: Oct 2, 2018 Dibaca: 385 kali.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kiri), bersama Manager Koperasi Elshira Nauli Rata, Richard Munthe (tengah), dan penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, di depan bengkel organik di rumahnya di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).


Awalnya, ia kerap mendengar curhat petani di Siantar-Simalungun, Sumatera Utara. Kata mereka: kerja sekeras apapun pun, hasilnya kok ya begitu-begitu saja. Prihatin, ia melakukan berbagai analis. Kesimpulannya: There is something wrong about the system. Tak mau dituduh hanya pintar analisis, ia pun bereksperimen untuk mengubah sistem.

———————————————–
Dame Ambarita, Pematangsiantar
———————————————–
Status-status di akun Facebooknya-nya kerap menarik perhatian. Seputar inovasi produk pertanian, obat-obatan herbal, makanan sehat, koperasi, mesin serba guna, dan banyak lagi.

Kesan pertama: inovatif benar? Belajar dari mana?
Di profil akun Fb-nya tertulis: pengembangan Talas Satoimo dan produk turunan (J-Imo) sebagai Makanan Anti Diabetes, Jantung, dll. Tinggal di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia. Teman di akun Facebooknya hampir 5.000 akun.

Pesan minta ketemu yang dikirim di status Facebooknya, direspon. Bona Pakpahan –nama akun Fb yang juga nama aslinya–, bersedia diwawancarai di rumahnya di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia.

Sabtu (29/9) siang, Sumut Pos bertamu ke rumah pribadinya di Jalan Kasuari, Pematangsiantar. Rumahnya memiliki lahan yang cukup luas. Sisi kiri ada ruangan berpetak-petak, difungsikan beragam macam. Ada ruang semacam bengkel peralatan, lahan ujicoba tanaman, bengkel ujicoba tong sampah hidup, dll. Sisi kanan rumah utama.

Bona menyambut hangat. Ia bahkan mengundang teman-temannya, Manager Koperasi Elsira Nauli Rata, Richard Munthe, dan Penanggungjawab Budidaya Talas Satoimo, Muara Sirait, untuk ikut ngobrol. “Biar dengar langsung dari orangnya,” sambutnya, seraya menyalam Sumut Pos.

Begitu duduk di sofa ruang kerjanya yang dipenuhi beragam barang, dengan bersemangat ia menunjukkan berbagai produk-produk hasil inovasinya.

“Ini pupuk cair hasil racikan saya. Ada juga pestisida/insektisida cair. Semuanya produk organik ya. Trus… ini sabun kecantikan berbahan talas Satoimo. Ini beras nongula racikan saya, yang diproduksi Koperasi Elsira Nauli Rata,” katanya.

Tak hanya itu, ada juga tepung talas Satoimo, kedelai Edamame. Kemudian ada produk daur ulang pakan ternak campuran sampah perut ikan dengan kulit kopi. Ada tong sampah hidup, mesin pelet ikan apung, tangki biogas portabel, kompor bahan bakar. Dan produk-produk eksperimen untuk masker dan handbody, namun belum jadi.

Belum lama ngobrol, pembantu di rumahnya menyajikan segelas kopi hitam.  “Cobalah… ini kopi fermentasi hasil olahan saya. Enak di perut. Tidak bikin asam lambung,” kata pria kelahiran 20 Juli 1969 lalu ini percaya diri.

Hak produksi dua jenis produk hasil inovasinya, sudah diserahkan ke Koperasi Elsira. Yakni beras pratanak nongula dan kopi fermentasi. Bona berperan sebagai pembina koperasi.

Anak pertama dari 6 bersaudara ini kemudian mengungkapkan awal kisah dirinya dari karyawan di sebuah perusahaan PMA menjadi wirausaha dan pembina koperasi. “Sebelumnya tidak pernah terpikir,” akunya.

Maklum, begitu lulus dari jurusan Teknik Kimia dari Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 1994 lalu, ia langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai, di Bontang Kalimantan. Gajinya lumayan saat itu. Tapi ia hanya tahan 7 bulan. “Stres lihat laut melulu,” kekehnya.

Ia memilih pergi ke Jakarta. Ambil kursus sound engineer selama 3 bulan. “Niatnya mau jadi ahli di bidang sound system,” katanya.

Lulus kursus, ia membaca lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan karet. Dikiranya pabrik berlokasi di Bogor. Ia melamar. “Diterima. Tapi rupanya untuk penempatan di Goodyear Sumatera Plantation Dolok Merangir, Sumut,” kenangnya.

Usianya 26 tahun saat itu. Mengawali kerja sebagai Asisten Training di pabrik. Karirnya cepat melesat. Naik jabatan menjadi asisten pabrik yang mengawasi proses pengolahan karet. Kemudian menjadi Asisten Senior Quality Control, lalu naik menjadi Quality Control dan Raw Material Shipping.

Tahun 2005, Goodyear berubah menjadi Bridgestone, dari manajemen Amerika menjadi manajemen Jepang. Karirnya terus melesat hingga menjadi Engineering Quality Control. Tugasnya menganalisa safety dan produksi bahan baku. Gaji tahun itu sudah belasan juta.

“Enaknya di perusahaan Jepang, banyak ilmu yang saya peroleh. Mulai dari latihan disiplin diri, hingga berbagai ilmu manajemen, seperti accident risk managemen, kaizen improvement, individual plan, cara mencapai target, efisiensi kerja, manajemen bisnis, dll. Saya jadi terbiasa dengan disiplin ala Jepang. Tertempa dengan cara bekerja ala Jepang,” katanya.

Tahun 2010., ia diangkat menjadi quality manager and quality assurance  dengan gaji hampir Rp20 juta per bulan. Pernah juga menjadi Manajer Transport yang mengatur seluruh transportasi pabrik dan produksi. Saat itu, ia memunculkan ide membuat alat yang bisa membuka ban jondere traktor yang aman dan bisa dikerjakan oleh dua orang.

“Sebelumnya, harus dikerjakan beberapa orang. Dengan alat itu, pekerjaan lebih efisien. Alatnya kami kerjakan di bengkel Bridgestone. Metodenya sih meniru yang sudah ada di literatur, tapi dengan model yang berbeda,” cetusnya. Sejak itu, ia semakin akrab dengan dunia mesin.

Karir puncaknya adalah sebagai Senior Manajer Factory di Dolok Merangir, yang mengepalai proses 3 pabrik dengan kapasitas 200 ton karet per hari. Itu tahun 2014. Gajinya puluhan juta. Tiap tahun bisa bawa keluarga jalan-jalan ke luar negeri. Fasilitas lengkap.

Tapi ayah dua anak ini merasa ada yang kurang. Jiwanya kurang puas. Entah mengapa, pelariannya adalah pergi berjalan-jalan ke persawahan. Melihat sawah nan hijau. Bertemu dengan petani dan ngobrol ngalor-ngidul.

Momen-momen itulah ia menerima curhatan para petani di Siantar-Simalungun. Tentang hidup yang begitu-begitu saja. Kisah serupa juga dicurahkan petani di Taput, Batubara, dan Kisaran yang ditemuinya.

“Mereka mengeluh, seberapa besar pun usaha mereka kerja, hasilnya ya begitu-begitu saja. Tidak berubah dari tahun ke tahun. Tak ada yang jadi kaya karena hasil bertani. Tak ada yang merasa puas dengan hasil pekerjaannya. Buntutnya… mereka bertani ya apa adanya saja,” ungkapnya.

Temuan masalah ini menjadi objek yang sering direnungkannya di rumah. Di sela-sela libur kerja, ia semakin rajin ke lokasi-lokasi pertanian. Meneliti soal budidaya padi, hama, sistem irigasi, hasil produksi, dan berapa keuntungan hasil pertanian.

Kenapa petani tidak puas?
Kesimpulan pribadinya: “There is something wrong about the system.”
Bona menemukan, dalam bertani padi, petani hanya diajarkan petugas penyuluh lapangan untuk melakukan tanam serentak. Menjelaskan pupuk A fungsinya begini, B begono, dan seterusnya. Tapi penyuluh tidak memberitahu standar penanaman bibit padi yang cocok untuk sebuah daerah. Atau standar pemupukan, pengairan, standar pestisida, dll.

“Petani dibiarkan menerapkan standar masing-masing. Ini tentu mempengaruhi hasil. Karena sembarangan, semakin lama petani semakin ketergantungan dengan pupuk dan pestisida kimia. Kualitas tanah semakin rusak, menyebabkan biaya pupuk makin besar, dengan hasil yang ‘begitu-begitu saja’,” jelasnya..

Selain itu, petani terjebak dengan harga. Harga hasil panen tergantung pasar. Petani tidak berdaya menolak. Terpaksa ikut harga pasar, karena tidak mampu membuat produk lanjutan untuk mendapat untung lebih.

Saat ia memberi saran perbaikan, petani manggut-manggut saja. Tapi tidak langsung berubah.

Tak mau dianggap cakap bullshit alias cakap kosong oleh petani, suami Boru Siahaan ini lantas melakukan sejumlah eksperimen. “Sulit mengubah masyarakat jika kita sendiri tidak berbuat,” cetusnya.

Morogoh kantong sendiri, ia mencoba menciptakan pupuk organik cair. Ia membaca banyak literatur soal pupuk organik. Khususnya metode yang digunakan para petani di Thailand dan Vietnam. Pencampuran bahan-bahan bukan hal baru bagi Sarjana Teknik Kimia dari USU ini.

Sebagai bahan praktek, ia menyewa sepetak sawah di Tigadolok, Simalungun. Luasnya tiga rante. Ia menanam padi tanpa lebih dulu seleksi bibit. Ia menyiramkan pupuk organik racikannya. Juga pestisida dan insektisida  organik buatan sendiri. Pengairan dikontrol baik. Tanaman padi ditutupnya pakai jaring.

Hasil panennya lumayan. “Jumlah tepatnya saya lupa. Tapi kata pemilik tanah, lumayan besar dibanding hasil panen mereka. Padahal bibit padinya sembarang saja. Karena berhasil, saya berpikir, jika sistem yang sama diterapkan kepada seluruh petani, hasilnya pasti bagus,” kisahnya.

Masih di tahun 2014, ia juga mencoba menanam cabai. Menggunakan pupuk cair buatannya. Hasilnya oke banget. “Pedasnya bahkan dua kali lipat cabai biasa,” katanya bangga.

Sayang, saat panen, harga gabah dan cabai sedang turun. Gabah kering dari biasanya laku Rp5.000 per kg, turun menjadi 4.700 per kg. Cabai juga begitu. “Jadi meski hasil panen bagus, keuntungannya tidak banyak. Kesimpulannya, selain sistem pertanian yang kurang tepat, harga juga menjadi masalah petani. Tidak ada jaminan harga,” katanya. (dame/bersambung)

loading...