BONA PAKPAHAN, KAWAL KOPERASI PRODUKSI BERCITA RASA INDUSTRI (2)
Falsafah Kaizen: Mencari yang Terbaik di Antara yang Baik
  • Dipublikasikan pada: Oct 2, 2018 Dibaca: 387 kali.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kanan), foto bersama penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, di depan mesin pakan apung untuk ikan, di rumahnya di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).


Sukses praktek tanam padi dan cabai sistem organik tahun 2014, tahun berikutnya ia bertemu seorang peternak babi skala rumahan di daerah Simalungun. Si peternak curhat tentang ternak babinya yang menguarkan aroma tidak sedap. Ia terancam didemo warga sekitar.

—————————————————
Dame Ambarita, Pematangsiantar
—————————————————
“Apa yang bisa saya lakukan? Apakah saya tidak boleh beternak?” keluh si peternak.

Bona Pakpahan, si Manajer Pabrik Karet ini, kembali terpanggil menganalisa masalah si peternak. Ia menyimpulkan, aroma tak sedap muncul akibat jenis pakan yang dimakan ternaknya. Selama ini, si peternak memberi ampas ubi dari pabrik tepung singkong, kepada ternaknya. Habis uang beli pakan, ternak tidak mendapat makanan bergizi, eh masih diprotes warga soal aroma.

Apa solusi? Bona kembali membaca sejumlah literatur. Searching di Google. Hasilnya, ada sejumlah motode yang sudah sukses diterapkan para peternak di sejumlah negara. Yakni, memproses kotoran ternak dengan proses anaerop, yaitu proses fermentasi bahan bahan  organik oleh bakteri-bakteri anaerob. Bakteri ini hanya hidup dalam kondisi kedap udara.

Tekniknya, kotoran ternak babi ditampung dalam tangki kedap udara. Lantas diproses menjadi biogas yang bisa digunakan memasak makanan ternak. Agar proses menciptakan biogas lebih cepat, Bona memesan karbon ke Bandung.

Metode ini dipraktekkan ke si peternak. Sukses. Bau kotoran teratasi. Dan si peternak mendapat bahan bakar biogas.

Untuk menghemat biaya pakan, Bona juga mengajari si peternak membuat pakan sendiri. Campuran gedebok pisang, kulit kopi, tongkol jagung yang dicacah sebagai pengganti ampas ubi, belatung atau cacing (bisa diganti dengan tepung ikan), dedak, bekatul. Masukkan daun kelor sebagai dedaunan hijau.

“Saya ajari dia melakukan sistem penjamuran pakan selama tiga hari. Selesai… kasih pakannya ke ternak,” terang Bona simpel.

Dengan membuat pakan sendiri, si peternak menghemat biaya pakan hingga 27 persen dari biaya yang biasa dikeluarkannya. Hasilnya, pembesaran ternak babi lumayan pesat. Padahal tidak menggunakan konsentrat seperti teknik lama. Ternaknya lebih sehat dan jarang cacingan. Bau tak sedap menghilang lewat proses anaerop. Dan kotoran ternak sisa proses anaerop bisa dimanfaatkan untuk tanaman. Sangat efisien.

“Ini meniru metode dari peternak Vietnam,” kata Bona.

Sambil membina si peternak selama 8 bulan, Bona juga bereksperimen membuat sendiri karbon untuk mempercepat proses biogas. “Sekarang, sudah bisa produksi sendiri. Kualitasnya sama. Jadi tidak perlu beli karbon lagi,” katanya kalem.

Bona datang mengecek kondisi ternak setiap Sabtu Minggu, di sela-sela kesibukannya di pabrik karet. Seluruh ilmu yang dipraktekknnya ke si peternak, membuat Bona puas. Meski berkorban dari segi waktu, biaya transport, serta tenaga.

Tapi lagi-lagi… keuntungan peternak tidak sehebat yang diharapkan. Harga daging babi tetap saja ditentukan oleh toke. Kasus ini menjadi catatan sendiri baginya.

Sambil bekerja di Bridgestone, di Bona melanjutkan sejumlah eksperimen rumahnya. Mulai dari budidaya sejumlah tanaman, peternakan, hama bakteri, sumber energi biogas. Juga memperdalam nutrisi, baik untuk hewan maupun manusia.

Pada April 2016, dirinya mantap mengajukan surat pengunduran diri ke manajemen perusahaan. Ia merasa dunia kerja tidak lagi memuaskan hatinya. “Hati saya sudah terasa cocok dengan inovasi-inovasi pertanian dan peternakan yang saya praktekkan,” katanya.

Padahal saat itu, gajinya sudah sekitar Rp24 jutaan per bulan. Kalau ia bertahan sedikit lebih lama, ia mungkin sudah menjadi General Manager sekarang.

Meski memilih mundur, ia berterimakasih ke manajemen Bridgestone. Diakuinya, banyak ilmu yang diperolehnya selama bekerja di bawah manajemen Jepang.  Mulai dari ilmu manajemen, audited sistem, teknologi, cara meningkatkan SDM, cara menganalisa masalah, dan sebagainya. “Waktu perusahaan di bawah manajemen Amerika, ilmu yang saya peroleh tidak sebanyak itu,” ungkapnya.

Uang pesangon yang diperolehnya lumayan besar. Tapi sebagian besar habis membiayai eksperimen yang dilakukannya. “Total biaya yang saya habiskan? Hmmm… kira-kira seharga dua buah rumah plus satu mobil Fortunerlah,” cetusnya, tanpa nada menyesal.

Istri tidak keberatan?
“Kebetulan tidak. Saya percaya, modal suami saya ada di sini,” nimbrung sang istri, Boru Siahaan, yang kebetulan datang membawa kue-kue menemani wawancara, sembari meletakkan jari telunjuk ke kening.

Selama uji coba yang membutuhkan banyak biaya itu, Bona menghidupkan ekonomi keluarga lewat usaha sampingannya di bidang sewa menyewa sound system. Sewa menyewa sound system untuk konser, pesta-pesta, atau studio band, telah dilakoninya sejak tahun 2009. Bisnis Itu tetap berjalan selama ia bekerja, setelah ia keluar dari pekerjaan, dan hingga sekarang.

Resmi ‘menganggur’, ia semakin fokus bereksperimen. Termasuk bidang obat-obatan herbal. Produk pupuk cair organik serta pestisida organik racikannya, terbukti manjur meningkatkan hasil pertanian. Telah dibuktikan oleh petani padi, salak, jahe, salak, nilam, dll.

Sementara itu, kesuksesan eksperimen ilmu pakan ternak dan proses anaerob kotoran ternak untuk biogas kepada peternak babi di Simalungun, membuat Bona berniat mempraktekkan peternakan organik miliknya sendiri.

Akhir 2016, ia membuka peternakan sapi kecil-kecilan di Bukit Maradja Simalungun. Tahap awal, ia membeli 20 ekor anak lembu untuk dipelihara selama 1,5 tahun.

Idenya: selama ini peternak mengangonkan sapi ke lahan-lahan perkebunan. Tak tahu apa yang dimakan. Apakah rumput yang ditelannya baru disemprot pestisida atau gimana.

Bagaimana jika sapi dipelihara di kandang?
Pemikirannya: untuk menutupi biaya pakan, dapatkan sejumlah manfaat dari limbah sapi. Air seni sapi misalnya. Tiap hari sapi memproduksi 10 liter per ekor. Selama ini, Bona menciptakan pupuk cair organik dengan membeli air seni sapi dari peternak. Harganya Rp250 per liter. Jika ia memanfaatkan air seni sapi dari peternakan sendiri, tentu hasilnya bisa menutupi biaya pakan.

Ia pun praktek. Membuat pakan sapi organik. Terbuat dari kulit kopi, tunggul jagung, belatung yang dibudidayakan, dedak, rumput, dan daun kelor. Plus enzim dan asam amino yang dibuatnya sendiri, belajar dari literatur.

Tentang pembuatan enzim ini, ia melakukan sendiri berbagai test sejak Desember 2016. “Saya test hingga 6 produk enzim. Hingga akhirnya bisa bikin enzim sendiri. Dengan enzim, ternak akan lebih gemuk,” katanya.

Kotoran sapi ditampung. Dibuat biogas. Sisanya dijadikan pupuk.

Semua ilmu itu berhasil dipraktekkan. Sehingga keuntungan tidak hanya dari hasil penjualan daging sapi. Tapi juga pemanfaatan air seni menjadi pupuk cair. Limbah jadi biogas dan kompos. Hasilnya, tercipta sebuah efisiensi.

Hanya saja, Bona mengaku kurang sabar. Cashflow dari penjualan pupuk cair ramuannya, plus penjualan daging sapi yang harus menunggu hingga 1,5 tahun, menurutnya terlalu lambat untuk dirinya. “Saya kira… saya kurang cocok menjadi petani atau peternak. Kurang sabar menunggu proses. Jadi bukan jatah saya. Kalau soal bertani… Pak Muara ini juaranya,” kekehnya, sambil menunjuk Muara Sirait.

Selama usaha peternakan sapi, Bona tetap sibuk bereksperimen. Selain tetap membuat pupuk cair organik berbahan dasar air seni sapi, ia juga belajar membuat pupuk dari sampah rumah tangga. Juga belajar pengembangan nutrisi pangan. Obat-obatan herbal. Ilmunya dicari dari sejumlah literatur. “Pokoknya harus rajin membaca,” katanya tanpa bermaksud pamer.

Ia terinpirasi falsafah Kaizen Improvement, yang dipelajarinya saat dikirim pelatihan ke Jepang. ‘Mencari yang terbaik di antara yang baik.’ Karena itu, ia tak pernah berhenti berinovasi.

Produk andalannya adalah obat herbal daun kelor campur tepung cacing tiger (Tiger Lumbricus) Daun kelor, sudah dikenal sebagai sayur yang menyimpan banyak khasiat. Dicampur dengan tepung cacing Tiger, ampuh mengobati banyak penyakit. Seperti diabetes, asam urat, maag, dll.

Ilmu diperoleh dari hasil membaca berbagai literatur. Tentang daun kelor yang menyimpan banyak khasiat. Dan protein serta zat anti penggumpalan darah dari tepung cacing.

“Daun kelor awalnya saya pesan dari teman di Malang. Sekarang sudah tanam sendiri. Cacing Tiger kering dulu juga pesan dari Jawa. Sekarang sudah ada pemasok yang saya bina di Siantar ini. Cacingnya dibudidayakan di campuran bekatul dan tahu. Saya beli Rp250 ribu per kg. Jadi ini bisnis saling ketergantungan. Saling menghidupkan,” senyumnya.

Sambil terus bereskperimen, Bona mempublish inovasi-inovasinya di akun Facebook. Baik yang berhasil, maupun yang gagal.

Rupanya, ada teman dunia maya  yang memperhatikan postingan-postingannya di Facebook. Akun Bona di-add. Mereka berteman, berkomunikasi, dan saling belajar.

Dinilai sebagai sosok inovator, tahun 2017, Bona dimasukkan si teman tadi ke grup WhatsApp IdeaCreator. Anggotanya para inovator dari 16 negara.

“Dari Indonesia baru 4 orang. Dari Malang, Bogor, dan Sulawesi. Saya sendiri dari Pulau Sumatera,” cetus Bona.

Lewat komunitas IdeaCreator itu, Bona makin banyak mendapat ilmu. Karena para anggota saling share berbagai temuan.

Dengan basic ilmnya sebagai analis kimia, dimatangkan ilmu manajemen dan enginering selama bekerja di perusahaan Jepang, ia cukup mudah mengadopsi inovasi-inovasi yang dibagikan anggota komunitas.

Keaktifannya di Facebook dan Instagram juga membuat jaringan teman-temannya semakin luas. Mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga ke luar negeri.  Makin banyak ilmu mengenai pertanian dan peternakan, bahkan hingga manfaat sampah, yang diserapnya. Terutama dari teman-temannya di Surabaya, Bandung, dan Malang. (dame/bersambung)

loading...