BONA PAKPAHAN, KAWAL KOPERASI PRODUKSI BERCITA RASA INDUSTRI (5/HABIS)
Tak Henti Berinovasi, Menyerap dan Berbagi Ilmu
  • Dipublikasikan pada: Oct 2, 2018 Dibaca: 411 kali.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Bona Pakpahan (kanan), bersama penanggungjawab budidaya talas Satoimo, Muara Sirait, menunjukkan talas Satoimo yang mereka budidayakan, di Pematangsiantar, Sumut, Sabtu (29/9).


Belajar, belajar, dan belajar tanpa henti. Sebagai anggota komunitas IdeaCreator, Bona Pakpahan terus menerus menerima ilmu baru dari anggota komunitas. Ia pun malu jika tidak punya ilmu untuk dibagi. Karena itulah, ia terus praktek ilmu dan membaginya.Termasuk membuat modifikasi mesin-mesin sederhana serba guna.

———————————————–
Dame Ambarita, Pematangsiantar
———————————————–
Ruang kerja Bona Pakpahan penuh berbagai produk jadi maupun bahan ujicoba. Dindingnya ditempeli brosur-brosur berisi berbagai inovasi produk. Baik produk obat-obatan herbal, pangan, pupuk, maupun teknologi sederhana.

Sebagian sudah menjadi produk. Seperti pupuk, beras pratanak, sabun kecantikan, tepung talas, mesin pakan, tabung biogas, dan sebagainya. Sebagian lagi, seperti kompor pembuat pakan sampah, dan genset tanpa bbm, masih sebatas konsep. “Saya bisa buat. Ilmu sudah punya. Hanya saja pembuatannya butuh modal,” katanya.

Di halaman rumahnya, dipajang mesin pembuat pakan ikan apung. Mesin itu hasil modifikasinya, dari mesin bantuan pemerintah yang salah sasaran.

Berbagai inovasi itu tak melulu idenya atau hasil membaca. Sebagian besar berasal dari sharing ilmu anggota komunitas Idea Creator. “Semua ilmu itu saya pelajari, saya masukkan ke komputer. Tinggal buka kalau lagi butuh,” ungkapnya.

Ia mengakui, basic ilmu eksperimennya diperoleh semasa kuliah di US. Dipadu kursus sound engineering di Jakarta. Dan pekerjaan selama 26 tahun di perusahaan karet milik Amerika dan Jepang. Ditambah lagi hobbynya belajar dan membaca berbagai literatur untuk menambah ilmu.

“Pembuatan pupuk cair misalnya, sudah saya ujicoba sejak saya masih bekerja di Bridgestone,” katanya.

Ia sukses membuat obat-obatan herbal dari tepung daun kelor dan tepung cacing Tiger. Kini ia juga berhasil menciptakan sabun kecantikan berbahan dasar talas Satoimo. Sabun ini terbukti ampuh melembabkan kulit wajah, mengurangi keriput dan flek-flek hitam.

Sekarang ia mencoba membuat masker wajah dan handbody berbahan tepung talas Satoimo, campur teh hijau, susu kambing ottawa, dan lidah budaya.

“Masker dan handbody masih ujicoba. Belum jadi 100 persen meski sudah dimulai sejak awal 2018. Perlu beberapa tambahan bahan untuk whitening, tanpa zat kimia,” katanya.

Yang sudah dijualnya saat ini adalah sabun kecantikan merek J-Imo, kopi fermentasi, tepung talas. Dan yang paling laris adalah tepung daun kelor probiotik plus tepung cacing Tiger. Obat herbal ini paling laku dibeli masyarakat. Para pasien yang bersaksi telah sembuh, sudah ratusan orang dari berbagai daerah di Indonesia. Promosinya dari mulut ke mulut plus status di akun Facebooknya. “Ini tambang emas saya,” katanya.

Serbuk herbal itu dijual sepasang dengan harga Rp55 ribu. Habis dikonsumsi 3 hari. Berkhasiat sebagai obat asam lambung, gagal ginjal, asam urat, diabetes, stroke, jantung, typus, maag, dll.  “Kebanyakan pembeli adalah pasien yang sudah buntu dari dokter,” katanya tanpa nada menyombong.

Produk lain, pupuk cair hasil racikannya dari air seni sapi. “Kebanyakan dipasok ke anggota koptan,” katanya. Peternak hidup, petani juga. Ia sebagai peracik dapat keuntungan 10 persen dari penjualan.

Sebagai penggagas dan pencipta berbagai inovasi produk yang disalurkan ke koperasi, Bona Pakpahan tetap memegang hak paten. “Bisa saja yang lain meniru. Silakan. Toh saya sendiri terus menerus melakukan inovasi. Lagipula, ada beberapa kunci inovasi yang tidak saya beritahu,” katanya.

Foto: Istimewa
Petani sedang membudidayakan talas Satoimo, di Pematangsiantar.


Dari mana semua ide-ide itu muncul?
“Dari lapangan,” senyumnya.

Misalnya, ide genset tanpa bbm itu muncul dari temuan masalah pada petani di Pulau Samosir. Di mana, petani di sana ingin membuat pertanian yang bagus. Tapi kesulitan ketersediaan air meski pulau dikelilingi berlimpah air Danau Toba. “Keluhan petani, air danau bisa ditarik menggunakan mesin dompeng. Tapi biaya minyaknya nggak nahan.”
Ia pun mencoba membuat genset hemat bbm. Ide dilempar ke komunitas. Anggota yang sudah punya pengalaman berbagi ilmu. Genset tanpa BBM alat Bandung dan charging system ala Surabaya.

Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Genset bekerja tapi bisa mati jika ada kelebihan beban. “Perlu waktu penyempurnaan,” kata Bona.

Kemudian ide Tong Sampah Hidup, muncul melihat Pajak Horas Pematangsiantar yang butuh pengelolaan sampah yang tidak berbau. Sekaligus bisa menghasilkan pupuk cair.

Ide soal kompor berbahan bakar pellet sampah, muncul dari masalah orang Siantar yang banyak membuang sampah organik begitu saja. Padahal sampah organik bisa diolah menjadi bahan bakar kompor. “Saving energi. Pellet bahan bakar banyak dibuat. Sistem pembuatannya sudah saya pelajari. Tinggal modal. Artinya, kapan saja dibutuhkan, saya bisa membuat,” katanya.

Berbagai produk yang dihasilkan sekarang, menurutnya sudah cukup menghasilkan keuntungan. “Belum mencapai gaji saat di Bridgestone sih. Tapi ada tanda-tanda bakal melebihi. Doakan saja,” katanya mantap.

Saat ini, ia sedang belajar ekstrak bromolain dari nenas. Menurut berbagai literatur, ekstrak nenas berkhasiat untuk mencegah penyakit jantung dan pengentalan darah. Juga ampuh membuang lemak arteri dan membersihkan ginjal. “Manfaat bisa diperoleh dari memakan nenas mentah. Tapi lebih efektif lagi setelah diproses jadi ekstrak,” sebutnya.

Banyak lagi inovasi-inovasi seorang Bona Pakpahan. Menurut mantan bosnya, orang Jepang di perusahaan Bridgestone, Bona berbakat menciptakan orang-orang jadi pengusaha.

“Mantan bos saya itu pernah menelepon. Kata dia, ‘dari awal pun sudah saya lihat kamu banyak membuat ide-ide yang bisa dijalankan. Saya tau kami bisa maju dengan yang seide dengan kamu. Biar waktu yang menentukan’,” kata si mantan bos, saat itu.

Tak mau besar kepala dengan pujian, Bona tetap berpijak di bumi. Ia fokus di industri rumahan, sambil tetap membina koperasi untuk menjalankan bisnis. “Misalnya untuk produk herbal, anggota koperasi yang akan menanam seluruh tanaman herbal. Saya yang meracik. Koperasi yang akan memproduksi turunannya dan menjualnya,” katanya.

Konsepnya saling ketergantungan dalam kebersamaan. Inovasi disinergikan antara budi daya demgan proses, sehingga produksi tidak putus di tengah jalan. Pengurus Koperasi diajari visi bisnis dan manajemen. Bona jadi konsulltan. Ia mendapat kontinuitas fee dari hasil produk yang dijual koperasi.

“Sejahtera bersama, maju bersama, berbuat nyata,” katanya sungguh-sungguh.

Kepada pemerintah, ia berharap agar membentuk kelompok-kelompok tani sesuai kemampuan, dan memberi bantuan yang benar-benar tepat sesuai kemampuan. “Jangan tinggalkan masyarakat setelah bantuan sampai. Dampingi terus sampai masyarakat itu mampu menciptakan sesuatu yang baru,” pesannya.

Pemerintah juga diharapkan jangan menunggu pemilik ide meminta bantuan. Tetapi berinisiatif mendatangi pemilik ide, agar ide itu dapat hidup dan berkembang untuk kepentingan bersama.

Apa pesan kepada generasi muda?
“Jangan takut mencoba. Dan jangan takut jika percobaan itu gagal. Jangan jadi orang konsumtif jika ada bantuan dana. Jadilah mandiri,” katanya. (habis)

loading...