SEPOTONG KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-7 MARTABE (2)
Nangis Kok Bisa Katarak? Padahal ‘kan Nggak Ngapa-ngapain
  • Dipublikasikan pada: Oct 12, 2018 Dibaca: 386 kali.

Foto: Dame/Sumut Pos/kolase
PASIEN KATARAK: Ade Aryanti Siregar (kiri) dan Wirna Tambunan (kanan), salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Putri Hijau Medan, Kamis (11/10/2018).


Menangis mungkin bisa memicu katarak. Itulah yang dialami Ade Aryanti Siregar. Ia menangis terlalu banyak saat ditinggal pergi ayah kandungnya. Saat itu, ia lagi hamil 7 bulan. Pascamenangis, katarak mampir ke riwayat kesehatannya.

————————————
Dame Ambarita, Medan
————————————
Ade Aryanti Siregar baru 6 bulan terakhir menderita katarak. Persisnya, sejak kepergian ayah tercintanya menghadap Sang Ilahi. “Waktu itu saya sedih sekali. Soalnya ayah pergi saat saya lagi hamil tua. Jelang melahirkan,” kisah ibu dua anak ini sembari memejamkan mata.

Ade merupakan salahsatu dari ratusan peserta operasi katarak gratis yang digelar PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, di RS TNI Putri Hijau, Medan, Sumatera Utara, Kamis (11/10). Operasi katarak gratis yang digelar untuk ketujuh kalinya itu, berlangsung mulai 10-15 Oktober 2018, di Medan dan Padangsidimpuan.

Setelah hari-hari duka berlalu, warga Jalan Rakyat Pasar 3 Medan ini baru menyadari penglihatannya mulai goyang. “Pandangan nggak bisa fokus saat memasuk, menyapu, atau menulis. Pokoknya aktivitas sehari-hari terganggu. Ngumpul di keramaian pun nggak pede. Kena sinar juga terasa silau,” terangnya.

Tanya punya tanya ke tetangga dan saudara mengenai obat mata , ia disarankan pergi ke RS mata di Jalan Iskandar Muda Medan. Kata dokter di sana, ia kena katarak. Harus dioperasi. Biayanya Rp10 juta untuk satu mata saja. “Astaga, mahal sekali. Suami hanya sopir minibus ke luar kota. Batallah,” cetusnya.

Kembali ke rumah, ia jadi sedih. “Ya Allah, nangis saja kok bisa jadi katarak begini? Padahal ‘kan nggak ngapa-ngapain,” rintih ibu rumah tangga ini dengan nada melankolis. Menurutnya, katarak di matanya bukan penyakit keturunan. Memang ibunya pernah menderita katarak beberapa tahun lalu. “Tapi karena tabrakan. Sembuh setelah dioperasi,” katanya.

Syukurlah, awal Oktober lalu ia membaca brosur di Rumah Sakit TNI Putri Hijau Medan. Saat itu, ia tengah menemani seorang kawan berobat. Di brosur tertulis tentang operasi katarak gratis. Kontan ia mendaftar.

“Senang dioperasi. Sakitnya juga hanya saat suntik pertama. Abis itu, udah. Mata terang. Rasa mengganjal di mata tidak ada lagi. Selesai sudah masalah,” cetusnya seraya tersenyum manis.

Ditanya apakah dirinya tau siapa yang membiayai semua operasi katarak itu, ia kontan membaca spanduk yang dipajang di dinding aula rumah sakit.  “PT Agincourt. Trus TNI,” bacanya mengawali.

Ia mengucapkan terima kasih kepada sponsor operasi. Yang peduli pada orang yang tidak mampu. “Mereka mengerti apa yang dibutuhkan masyarakat. Operasi ini membuat dunia lebih cerah,” katanya, lagi-lagi tersenyum manis.

Senada dengan Ade Aryanti Siregar, seorang peserta operasi katarak lainnya, Wirna Tambunan, juga berterima kasih kepada siapapun sponsor operasi yang telah menyembuhkannya dari katarak.

Gadis 18 tahun yang masih duduk di bangku kelas 3 SMKN 1 Mandoge Kisaran, Kabupaten Asahan, ini mengatakan, senang dan bahagia karena kembali bisa melihat.  “Sudah terasa terang meski masih ada bayangan. Terimakasih banyak buat yang membiayai. Semoga urusannya lancar,” ucapnya pelan.

Anak bungsu dari dua bersaudara ini mengisahkan awal dirinya kena katarak. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas I SMP. “Saat mandi-mandi di Danau Toba, saya sempat tenggelam. Memang sebentar karena langsung ditolong. Tapi mungkin masuk pasir ke mata. Sejak itu pandangan saya kabur,” katanya.

Ditanya soal pelajarannya, ia mengaku tidak terganggu. Pasalnya ia masih bisa melihat dengan mata kiri. “Tapi ya tetap pergi periksa mata ke dokter di Kisaran. Kata dokter, katarak. Dan harus operasi. Tapi kalaupun sembuh, ada kemungkinan kataraknya balik lagi. Jadi dibilangnya, mending nggak usah,” tuturnya.

Beruntung awal Oktober lalu ada anggota Koramil yang datang ke rumahnya. Mereka menginformasikan mengenai operasi katarak gratis yang digelar di Rumah Sakit TNI Putri Hijau Medan. Ia dibawa ke Medan bersama dua orang penderita katarak lainnya dari Mandoge.

Usai operasi, ia mengaku senang karena sekarang bisa melihat dengan kedua bola matanya. “Nanti kalau udah lulus sekolah, mau jadi pengusaha,” kata gadis yang mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, ini malu-malu.

Presiden Direktur PT Agincourt Resources, Tim Duffy, menuturkan 2018 merupakan tahun ketujuh penyelenggaraan pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis Tambang Emas Martabe. Program unggulan di bidang kesehatan ini adalah bukti komitmen kuat perusahaan untuk membantu pemerintah Indonesia memberantas katarak di Sumatera Utara, khususnya di daerah operasional Tambang Emas Martabe.

“Selama 6 tahun penyelenggaraan, kami telah menjadi saksi bagaimana mengembalikan penglihatan sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, pada tahun ini kami ingin meneruskan komitmen ini. Kami berharap seluruh masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis ini,” tutur Tim Duffy.

Ia mengaku, program operasi katarak gratis merupakan hal yang fantastis. Karena menyentuh langsung masyarakat banyak yang membutuhkan bantuan. “Rasanya senang karena banyak masyarakat yang sembuh. Semakin banyak yang sembuh, semakin baik,” ucapnya tersenyum.

Vice President Director PT Agincourt Resources, Linda Siahaan mengatakan, senang mendengarkan pasien yang bahagia karena telah sembuh. Karena itu bagi masyarakat yang ingin mengikuti pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis, agar menghubungi Koramil terdekat.

Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, mengatakan tidak ada juga batasan berapa banyak orang dalam satu keluarga yang bisa dioperasi. “Para calon pasien diharuskan registrasi terlebih dahulu. Dilanjutkan dengan pemeriksaan mata/visus dan pemeriksaan oleh dokter. Hanya pasien penderita katarak yang akan dioperasi gratis,” tegasnnya. (mea)

loading...