SEPOTONG KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-7 MARTABE (3)
Menyemprot Sawit Biasa 10 Tangki, setelah Katarak Cuma Lima
  • Dipublikasikan pada: Oct 14, 2018 Dibaca: 383 kali.

Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK:  Fatimah Hasibuan, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, Sabtu (13/10/2018).


Ia menggantungkan mata pencahariannya dari berkebun sawit. Meski hanya kecil-kecilan, ia merawat sawitnya dengan sepenuh hati. Menyemprot secara berkala. Apa daya… penyakit katarak yang dideritanya sejak Ramadan baru lalu, kerap membuatnya serasa menginjak tanah menurun.

————————————
Dame Ambarita, Medan
————————————
“Nama saya Fatimah Hasibuan. Saya petani sawit. Tinggal di Desa Terapung Raya Kecamatan Muara Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan,” kata perempuan berumur 57 tahun ini mengenalkan diri, saat diajak berbincang di ruang pemulihan peserta Operasi Katarak Gratis, di RS TNI Losung Batu, Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Sabtu (13/10).

Fatimah merupakan satu dari tiga pasien yang pertama tiba di ruang pemulihan, pada hari pertama operasi katarak gratis yang digelar PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, di Padangsidimpuan.

Ibu empat anak ini menuturkan, penyakit katarak dideritanya sejak bulan Ramadan Mei baru lalu. “Awalnya, mata kanan saya terasa ada yang mengganjal.

Lama-lama, nggak jelas lagi kelihatan apapun,” ungkapnya, sembari tetap menengadahkan wajah ke atas, agar obat tetes di mata kanannya yang baru selesai operasi, tidak mengalir turun.

Merasa terganggu, ia berinisiatif menemui ‘orang pintar’ di desanya. Kata si ‘orang pintar’, Fatimah kena ‘tegur’ makluk halus yang kebetulan lewat saat ia buang sampah di belakang rumahnya.

“Saya disembur dengan sejumlah ramuan-ramuan. Tapi ternyata tak sembuh,” tuturnya.

Selama menderita katarak, ia sangat terganggu melanjutkan pekerjaannya sebagai petani. Kepalanya sering sakit karena banyak mengerahkan energi agar bisa melihat jelas. Jalanan terlihat bergelombang. Membuatnya sering merasa akan menginjak tanah menurun. Padahal faktanya tidak. “Rasanya melelahkan,” akunya.

Pekerjaannya menyemprot sawit dengan pupuk dan pestisida, juga terganggu. Dari biasanya ia bisa menghabiskan 10 tangki dalam sehari, setelah katarak menurun jadi lima. “Pekerjaan pun jadi dua kali lebih lama,” tuturnya.

Tak tahan lagi, Fatimah akhirnya memilih pengobatan modern. Pergi ke Puskesmas. Vonis dokter: kena katarak. Harus operasi.

Tapi karena berat dengan biaya, perempuan yang sudah menjanda selama 16 tahun itu hanya meminta diberi obat saja.

Si dokter setuju memberinya sekedar obat tetes mata, yang terbukti tidak banyak gunanya.

Tapi si dokter cukup pengertian. Ia memberitahu jika sebuah perusahaan Tambang Emas yang berlokasi di Batangtoru Tapsel (Tambang Emas Martabe, Red) rutin menggelar operasi katarak gratis di Padangsidimpuan. “Dengan senang hati, saya tentu saja memilih menunggu operasi gratis,” ungkapnya polos.

Syukurlah, kabar baik itu datang akhir September baru lalu. Personil Koramil di kampungnya datang ke rumah. Memberitahu jadwal operasi dimaksud.

Meski rada takut bakal sungguhan dioperasi, ia tak hendak mundur. “Saya ingin sembuh dan bisa melihat lagi,” lirihnya.

Sabtu kemarin ia menjalani proses operasi. Mulai dari pemeriksaan mata untuk menentukan mata mana yang perlu dioperasi, pengukuran gula dan tekanan darah, pencukuran bulu mata, hingga menjalani teknik pengirisan lapisan katarak dengan metode cepat dan aman milik dr. Sanduk Ruit dari Tilganga Institute of Ophthalmology di Nepal dan mengganti lensa mata dengan lensa intraokuler buatan.

Selama menunggu giliran operasi, Fatimah mengaku ‘Ngucap’ terus.

“Tolong ya Allah… Kek manalah aku nanti. Kek mana rasanya mata dikikis. Kek mana hasilnya nanti,” kekhawatirannya bertubi-tubi.

Tapi ternyata, proses operasi nggak terasa sakit. Begitu disuntik bius lokal, ia tak lagi merasakan apa-apa saat penyayatan dimulai. Waktunya  pun hanya 10 menit.

“Yang menegangkan justru perintah agar jangan bergerak selama operasi. Menggerakkan tangan pun saya takut. Jadi 10 menit itu terasa lama karena badan kaku,” kekehnya.

Begitu dibilang dokter operasi selesai, ia kontan lega karena boleh bergerak.

Lebih lega lagi, karena biaya operasi Rp4 juta per mata, seperti dibayar tetangganya di RS umum, bisa diselamatkan.

“Senang kalau nanti penglihatan udah normal kembali. Bagi pihak yang membiayai operasi ini, saya ucapkan terimakasih. Semoga rezeki mereka dimudahkan, demikian juga rezeki kami,” ucapnya tulus.

Lalu ia membaringkan diri di atas tikar yang dibawanya dari rumah, di ruang pemulihan. Ditemani putri dan menantunya. (mea)

loading...