SEPOTONG KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-7 MARTABE (5)
15 Tahun Tenggak Minuman Energi, Mantan Sopir Ini Berhenti karena Katarak
  • Dipublikasikan pada: Oct 15, 2018 Dibaca: 406 kali.

Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK: Zainul Sinaga, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, didampingi istrinya, Minggu (14/10/2018).


Selama 15 tahun jadi sopir truk freezer pengangkut ikan dari Sibolga menuju berbagai kota di Pulau Jawa, pria ini selalu menenggak minuman berenergi. Tujuannya, agar tahan mengemudi selama berhari-hari. Katarak membuatnya berhenti dua hal: minum dan bawa truk lintas provinsi.

————————————
Dame Ambarita, Medan
————————————
Apakah bertahun-tahun menenggak berkaleng-kaleng minuman energi dari berbagai merek, bisa memicu katarak? Belum ada penelitian yang membuktikan. Tapi bagi seorang Zainul Marwan Sinaga, cukuplah 15 tahun ia mengonsumsinya.

“Sejak 10 tahun lalu, saya berhenti minum-minuman energi,” cetusnya sembari senyum lebar memamerkan giginya yang tampak kecoklatan, Minggu (14/10/2018).

Didampingi istrinya Hotma boru Hutabarat (55), pria berusia 57 tahun ini sedang duduk menunggu bus yang disewa aparat Koramil Lumut, Tapteng, menjemput mereka di RS TNI Losung Batu Padangsidimpuan. Bus itu akan membawa pulang sekitar 30-an warga Lumut yang sudah selesai menjalani operasi katarak gratis, yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan Kodam I/BB dan ANV, periode 2018.

Mengenakan kacamata hitam yang dibeli istrinya seharga Rp25 ribu dari pedagang yang berjualan di tengah keramaian rumah sakit, pria mantan sopir truk ini dengan ramah merespon ajakan ngobrol.

Ayah tiga anak yang tinggal di kecamatan Lumut, Tapanuli Tengah ini, menuturkan, sejak muda dirinya rutin mengemudi truk freezer bermuatan ikan laut asal Sibolga, ke berbagai kota di Pulau Jawa. “Sejak tahun 1994,” cetusnya. Ke Probolinggo, Jember, Surabaya, dan kota-kota lainnya. “Paling dekat ke Jakarta,” cetusnya, lagi-lagi senyum memamerkan gigi.

Ia memiliki sopir serap. Perjalanan membutuhkan waktu berhari-hari. Tidur di atas truk secara bergantian.

Untuk mendapatkan stamina, ia rutin menenggak minuman energi dari berbagai merek. “Biar bisa gantian mengemudi tanpa merasa ngantuk,” cetusnya, lagi-lagi tersenyum lebar.

Gaya hidup sopir truk lintas provinsi, menurutnya sama sekali tidak sehat. Perjalanan jarak jauh pasti berhari-hari. Mata dipaksa melek siang malam. Tidur di truk tidak nyenyak. Stamina diperas lewat minuman energi. Kerap makan mie instan.

“Saat mengemudi malam hari, mata pasti silau kena lampu jarak jauh yang ditembakkan kendaraan dari arah berlawanan. Ditambah makanan yang tidak sehat, lengkaplah sudah,” cetus pria yang sudah dua periode terpilih sebagai Kepling ini, sambil tertawa.

Hampir setiap minggu ia wajib mencari tukang urut. Ototnya terasa ngilu-ngilu.

Seiring bertambahnya tahun, pandangannya tidak lagi sejernih dulu. Puncaknya tahun 2008, ia memutuskan matanya perlu pengobatan. Karena benda-benda kerap terlihat ‘mencong-mencong’.

“Mencong-mencong… peot-peot,” katanya mengeluarkan pasokan istilahnya yang lucu.

Ia pernah mendatangi tabib India di Medan. Diberi obat tetes mata. Tapi tidak memberi perubahan apapun. Mendatangi berbagai optik dan mencoba puluhan kacamata. Tapi tetap tidak bisa melihat jelas.

Akhirnya sebuah optik di Sibolga yang didatanginya menawarkan untuk memanggil dokter mata kenalannya. Si dokter datang dan memvonis: “Katarak!”
Ditawarkan untuk operasi. Tapi saat ditanya mengenai harga, alamakk: Rp6 juta per satu mata. “Takut saya dengan harga itu. Laa.. bayar berapa kalau operasi dua mata. Pikir-pikir dululah,” ungkapnya dengan nada kocak.

Mendapati fakta yang membahayakan keselamatannya sebagai sopir truk lintas provinsi, ia mengambil keputusan besar: berhenti jadi sopir truk antarpulau.

“Tapi tidak berhenti total ya. Saya masih membawa truk. Tapi ya putar-putar Tapteng ajalah,” kata pria yang akhirnya putar haluan menjadi pemborong bangunan rumah. Selain jadi pemborong bangunan kecil-kecilan, ia juga nyambi sebagai petani karet dan sawit. Dibantu istri.

Selama 10 tahun membiarkan kataraknya bercokol tanpa operasi, akhirnya ia ikut sebagai salahsatu peserta operasi katarak gratis yang dibiayai PT Agincourt Resorces, pengelola tambang emas di Batangtoru Tapsel.

“Sebenarnya sudah 4 tahun terakhir ini saya dapat informasi mengenai operasi katarak ini. Bahkan sudah tiga kali mendaftar ikut. Tapi saat mau pergi, ada saja halangan untuk pergi. Undangan pesta lah, ada proyeklah, dll. Tahun ini ikut karena nggak ada halangan,” cetusnya.

Ia memuji Babinsa di Lumut yang disebutnya sukses sebagai penyatu masyarakat.

“Semangat ikut operasi. Sakitnya hanya serasa digigit semut. Gratis. Dikasih makan lagi,” pujinya happy.

Meski pandangannya belum terang, ia santai saja menunggu hingga seminggu. Karena mantan-mantan pasien katarak di desanya semua berhasil melihat.

“Cuma dokternya bilang kerjaan jangan dulu berat-berat. Jangan terlalu banyak menunduk,” katanya.

Ia mendoakan perusahaan yang mensponsori operasi, agar aman dan nyaman berusaha di daerah Tapanuli. Karena mau membantu masyarakat.

“Tapi kalau boleh titip pesan, Tambang Emas Martabe jangan hanya peduli masyarakat lingkar tambang saja. Kalau bisa desa tetangganya juga,” pintanya sembari melirik penuh makna ke arah staf Martabe yang duduk di dekatnya. (Mea)

loading...