SEPOTONG KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-7 MARTABE (6)
Hanya Satu Pintanya: Kembali Bisa Mengaji
  • Dipublikasikan pada: Oct 16, 2018 Dibaca: 394 kali.

Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK: Arnan Nasution, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, sehari pascaoperasi di Makodim Sidimpuan, Senin (15/10/2018).


Dia ahli pertukangan. Full time jadi tukang sejak lulus SMP. Baru menderita mata rabun sejak empat tahun terakhir. Meski anak-anaknya terancam putus sekolah jika dirinya tak bisa kembali bertukang, tidak banyak yang ditangisinya dalam hidup. Tidak bisa mengaji lagi, adalah sebuah kepedihan besar baginya.

———————————–
Dame Ambarita, Medan
———————————–
Wajahnya menengadah. Mencegah obat tetes mata pascaoperasi katarak, mengalir turun ke pipi. Tapi saat disapa, ia memberi senyum hangat.

Namanya Arnan Nasution. Salahsatu dari sekitar 70-an orang warga Sabajior, Panyabungan, Kabupaten Madina, yang ikut operasi katarak gratis yang digelar di RS TNI Losung Batu Padangsidimpuan. Senin (15/10/2018), adalah hari di mana dirinya dan ke-70 pasien lainnya masuk masa pemulihan pascaoperasi. Dan akan segera pulang ke  Madina.

Operasi katarak gratis yang diikutinya digelar oleh PT Agincourt Resources –pengelola Tambang Emas Martabe–  bekerjasama dengan Kodam I/BB dan ANV. Tahun 2018 ini merupakan baksos ke-7. Hingga ditutup Selasa (16/10) kemarin, total peserta operasi katarak gratis mencapai 1.200-an orang. Arnan salahsatu di antaranya.

Ditanya penyebab dirinya kena katarak, pria berusia 56 tahun ini mengaku tidak pasti. Tapi seingatnya, matanya mulai rabun sejak tahun 2015 lalu. Diduga karena diabetes. Pasalnya, gula darahnya naik tinggi saat itu hingga mencapai 600.

Sejak saat itulah, setiap kali ia mengaji, matanya selalu bercucuran airmata di menit ke-4. Makin lama jangka waktunya makin pendek. Tiga menit sejak mulai mengaji, airmata mulai bercucuran. “Mata tidak tahan lagi membaca ayat-ayat untuk mengaji,” kisahnya.

Tak hanya mengaji yang dia sulit. Ia juga kurang bisa mengenali orang dari jarak 3 meter. Bertukang pun hanya bisa kerja ringan dan paling jauh jarak 1 meter. Padahal sebagai kepala tukang, ia haruslah mampu mengawasi seluruh pembangunan.

Akibat sakit diabetes, tubuhnya makin lama makin kurus. “Saat itu, tangan saya ini tinggal tulang dibalut kulit,” katanya sembari memegang tangan kanannya, mengenang. Ia sempat opname 3 hari di RS.

Tiang ekonomi keluarga terpaksa diambil alih istrinya. “Saya yang membanting tulang menghidupi keluarga selama 4 tahun ini sejak bapak sakit. Pengasilan Cuma dari mangongkos (menggarap sawah orang dengan sistem bagi hasil, Red),” kata istrinya boru Rangkuti lirih, dalam bahasa daerah.

Atas saran dokter, Arnan mengurangi makan makanan manis. Tak boleh lagi tidur siang. Dan hindari makan malam.

Alhamdulillah, tubuhnya mulai berisi kembali. Tapi pandangan tetap kabur. Bahkan setahun terakhir ia samasekali tak mampu lagi membaca ayat-ayat Alquran. Padahal sejak muda, ia suka sekali mengaji.

Apakah penyakitnya dipicu pekerjaannya sebagai tukang?
Ayah 4 anak ini mengangkat bahu. “Seingat saya, nggak pernah ada masalah. Sejak lulus SMP, saya sudah bekerja sebagai tukang bangunan. Belum berkumis pun saat itu,” candanya.

Tukang bangunan dilakoninya mengikut sang ayah yang juga tukang. Sebelum full time sebagai tukang, ia kerap membantu-bantu ayahnya. Di usia 21 tahun, ia sudah dipercaya sebagai kepala tukang. Semua ilmu belajar di lapangan, terutama dari ayah tercinta.

“Saya diajari mengukur menggunakan rumus anak korek api dan pisau silet. Kedua benda itu untuk mengukur pemotongan broti dan kuda-kuda bangunan. Itu rumus ahli bangunan zaman dulu,” jelasnya sarat nada bangga.

Foto: Dame/Sumut Pos
BERSAMA ISTRI: Arnan Nasution, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, didampingi istrinya sehari pascaoperasi di Makodim Sidimpuan, Senin (15/10/2018).


Meski tidak pernah mengecap pendidikan formal, berbagai model bangunan bisa dikerjakannya,. “Kalau ada model bangunan baru yang ingin kita tiru, pesan ortu: minta izin sama tukangnya. Agar rezeki kita sebagai tukang berkah. Itu saya turuti sampai sekarang,” cetusnya membeber kode etik para tukang.

Dengan semangat, ia mengisahkan proyek-proyeknya sebagai tukang. “Tahun 90-an, saya pernah mengerjakan perumahan karyawan pabrik milik Ibu Tien di Merak. Saya kepala tukangnya,” cetusnya bangga.

Ia kerap mendapat proyek-proyek membangun gedung sekolah. Terakhir membangun Sopo Gordang di Lumban Dolok Kayu Laut Panyabungan Selatan. Tapi sejak pandangannya mulai kabur, ia terpaksa menolak sejumlah pekerjaan. “Kata dokter sih, karena diabetes,” cetusnya.

Setelah bertahun menderita pandangan kabur, pertengahan September lalu ia mendengar pengumuman di masjid. Tentang adanya operasi katarak gratis. Mereka disuruh mendaftar ke kepala desa setempat. Ia memberanikan diri ikut pemeriksaan mata. Kata paramedis, ia kena katarak. Maka dirinya pun mendaftar ikut ke RS TNI di Padangsidimpuan.

“Senang dan bersyukur karena ada operasi gratis. Saya nggak tau siapa yang membiayai. Tapi siapapun itu, terima kasih yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan tambah rezekinya,” katanya.

Yang membuatnya bersemangat, baru satu hari pascaoperasi, mata kirinya sudah bisa melihat jelas. “Mata kanan masih kabur. Tapi kata relawan seminggu lagi akan terang,” katanya sumringah.

Menurutnya, yang pertama bakal dilakukannya setelah pulang ke Panyabungan, adalah kembali mengaji seperti dulu. “Itu yang utama,” tandasnya bersemangat. (mea)

loading...