Warga Enggan Keluar dari Pengungsian

Berita Foto2 Sumatera Utara
RERUNTUHAN BANGUNAN:
Kondisi reruntuhan bangunan akibat bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal
(15/10).

MADINA, SUMUTPOS.CO – Pascabanjir bandang yang melanda kawasan Kecamatan Ulu Pungkut, Madina Jumat (12/10) lalu, sejumlah titik masih rawan banjir dan longsor Warga yang dievakuasi pun masih enggan keluar dari pengungsian melihat kondisi ladang tempat pencaharian mereka.

Pantauan Sumut Pos, Desa Muara Saladi yang terkena dampak banjir bandang masih tertimbun kayu gelondongan dari perbukitan. Meskipun sejumlah kayu berukuran besar sedikit demi sedikit telah disingkirkan dari kawasan aliran sungai kecil dan jalan, namun beberapa patahan kayu yang hanyut bersama akarnya, belum sepenuhnya dibersihkan. Selain kondisi air yang terus mengalir, cuaca hujan juga membuat proses pembersihan sedikit terkendala.

Meskipun begitu, puluhan personel TNI/Polri, Basarnas bersama warga setempat ikut membersihkan puing kayu yang tertumpuk di sepanjang kaki bukit hingga pinggir sungai Pungkut (besar). Sementara di beberapa titik lainnya, intensitas hujan yang cukup tinggi menyebabkan tebing yang ada di sepanjang jalan menuju Desa Huta Godang itu mengalami longsor dan menutupi sebagian badan jalan.

Bahkan sisi jalan yang bersebelahan dengan sempadan sungai ambrol dan hanya bisa dilalui satu kendaraan. Petugas dan warga hanya memasang tanda seadanya untuk mengantisipasi pengendara yang melintas di malam hari dalam kondisi gelap.

Sekitar pukul 18.10 WIB, warga pun mendapat informasi adanya banjir susulan di Desa Simangambat Kecamatan Ulu Pungkut. Namun kondisinya dinilai tidak berpotensi banjir bandang. Meskipun begitu masyarakat sekitar tiga desa terus berjaga terhadap kemungkinan terburuk.

Sedangkan korban banjir bandang dari Desa Muara Saladi masih trauma dan belum berkenan melihat kondisi lahan tempat mereka mendirikan bangunan yang rata dihantam kayu gelondongan. Hanya petugas dan warga sukarelawan yang berada di sekitar lokasi, berikut para warga yang rumahnya tidak habis dihantam banjir.

“Sampai sekarang kami masih di sini saja (pengungsian). Tidak berani saya ke bawah (lahan pertanian), karena harus lewat dari kampung (Desa Muara Saladi) itu. Di sini saja dulu,” ungkap AR Lubis yang anaknya menjadi korban meninggal dunia pada Jumat lalu.

S ementara kehadiran Gubernur Sumut H Edy Rahmayadi menjadi penyemangat bagi warga di pengungsian. Bahkan tahlilan malam ketiga diikuti langsung oleh Edy didampingi Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution, serta sejumlah pimpinan OPD Pemprov Sumut.

Hari ini direncanakan, Gubernur masih akan menyusuri lokasi lain yang dianggap rawan. Termasuk melakukan pemetaan kawasan untuk dijadikan lahan relokasi warga. Masyarakat yang sebelumnya bertempat tinggal di bantaran sungai pun diminta untuk tidak lagi kembali dan membangun rumah di tepat tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di tiga desa yakni Simangambat, Muara Saladi maupun Huta Godang masih rawan dan warga terus berjaga. Gubernur pun memutuskan tidur di rumah warga bersama rombongan.

Semewntara Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut) H Wagirin Arman menginstruksikan anggota dewan dari daerah pemilihan (Dapil) Sumut 7 (Tabagsel) untuk turun langsung ke lokasi banjir bandang di Kabupaten Madina dan memberikan laporan tertulis kepada pimpinan dewan.

“Saya selaku pimpinan DPRD Sumut mengimbau dan menginstruksikan pada anggota dewan dapil Sumut 7 untuk segera turun ke lokasi kejadian dan memberikan laporan tertulis ke pimpinan DPRD. Dan kepada Pemprov Sumut kami minta segera merespon dan memberikan bantuan (merata) kepada masyarakat yang terkena bencana,” tegas Wagirin Arman disela-sela rapat paripurna istimewa Peresmian dan Pengucapan Sumpah/Janji Anggota DPRD Sumatera Utara pengganti antar waktu (PAW), Senin (15/10).

Politisi dari Partai Golkar itu juga menyampaikan belasungkawa kepada para keluarga korban dan berdoa agar keluarga tetap bersabar dan tabah atas musibah tersebut.

Sebelumnya, Anggota DPRD Sumut Ahmadan Harahap meminta aparat penegak hukum mengusut penyebab terjadinya banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang memporakporandakan pesantren dan kampung penduduk beberapa hari lalu. Sebab, dia menduga banjir bandang tersebut terjadi akibat perambahan hutan di hulu sungai.

“Pertama saya mengucapkan turut berduka cita kepada korban banjir, semoga keluarga korban tabah dan sabar menghadapi musibah yang tidak kita inginkan ini. Kedua, saya melihat banyak kayu-kayu yang hanyut diduga akibat perambahan hutan di hulu sungai. Kita minta diusut tuntas pelaku perambahan hutan yang ada di Kabupaten Madina,” katanya. (bal)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *