SEPOTONG KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-7 MARTABE (7/HABIS)
Jangan Hentikan Operasi Gratis, Sangat Membantu Orang Susah
  • Dipublikasikan pada: Oct 17, 2018 Dibaca: 391 kali.

Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK: Jernih Hasibuan, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, sehari pascaoperasi di Makodim Sidimpuan, Senin (15/10/2018).


Bicaranya pelan cenderung melankolis. Di usianya yang masih 39 tahun, ibu muda itu telah kehilangan dua dari 7 anaknya. Bersama suami, ia mencari nafkah dengan menggarap sawah orang sistem bagi hasil. Ia menyebut dirinya ‘orang susah’. Begitupun, ia bersyukur mendapat kesempatan operasi katarak gratis.

———————————–
Dame Ambarita, Medan
———————————–
Ditemui di ruang pemulihan spascaoperasi katarak gratis yang diikutinya di RS TNI Losung Batu Padangsidimpuan, Senin (15/10/2018), Jernih Hasibuan tidak ikut berbaring-baring seperti pasien lainnya. Ibu yang terlihat paling muda di antara deretan pasien-pasien berusia tua di ruangan itu, duduk menatap pintu masuk.

“Kok nggak tiduran bu?” sapa Sumut Pos.

“Dari tadi udah tiduran. Jadi agak bosan,” responnya. Ibu berusia 39 tahun itu adalah salahsatu dari 1.200-an peserta operasi katarak gratis 2018, yang digelar oleh PT Agincourt Resources –pengelola Tambang Emas Martabe–  bekerjasama dengan Kodam I/BB dan ANV.

Jernih menderita katarak sejak dua tahun lalu. Suatu hari, tiba-tiba saja ia menyadari ada bintik putih di mata kanannya. Sejak itu, ia melihat orang lain seperti diliputi kabut. “Jarak 4 meter saya tidak kenal lagi orang yang lewat,” ungkap warga Desa Silaiya Tanjung Leuk, Kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan ini.

Tak hanya menderita pandangan kabur, ia juga kerap menderita rasa pusing di kepala. “Kata tetangga, mungkin karena tinggi gula. Ada juga yang menyebut karena urat syaraf. Yang lain bilang, karena kebanyakan makan lemak. Tapi nggak ada yang bisa memastikan,” tutur istri marga Tarihoran ini dengan nada sendu.

Mengingat dia dan suaminya hanyalah petani penggarap sawah orang dengan sistem bagi hasil, ia tidak berani pergi ke rumah sakit untuk operasi dengan biaya sendiri. “Apalagi anak kami ada lima. Tujuh harusnya jika semua hidup. Semua perlu biaya,” ungkapnya.

Untuk mengurus BPJS, ia mengaku ribet. Karena harus datang jauh-jauh dari Batang Angkola ke Padangsidimpuan. Karena itu, ia mencoba berbagai pengobatan alternatif. Pernah mencoba meneteskan getah daun katarak. “Rasanya pedih. Saya coba 3 kali, ternyata tak ada hasil. Saya hentikanlah,” katanya.

Ia juga pernah mencoba meneteskan rebusan daun sirih. Bahkan pernah mencoba uap nasi ditets ke mata. “Tapi hasilnya nihil,” sebutnya.

Teranyar, ia pernah membeli obat tetes madu herbal, yang dijual sales asal Aceh. Sales itu datang ke kampung-kampung. “Penjualan melalui kepala desa. Dijual Rp300 ribu per botol. Karena kades terlibat, kami percaya sajalah. Bahkan nama kami dicatat saat itu,” ungkapnya. Ternyata, hasilnya nol juga.

Ia sempat bertanya-tanya mengenai biaya operasi katarak kepada tetangga. Informasi yang diperolehnya, ada ibu-ibu dari desa tetangga yang bayar Rp3 juta untuk operasi satu mata. “Saya ya mana punya uang segitu!” katanya pasrah.

Karena itulah, ia merasa sangat beruntung mendapat informasi dari bidan desa, tentang operasi katarak gratis di Padangsidimpuan. Para pasien katarak dari desanya diangkut naik mobil bindes. Para pendamping menyewa bus.

“Bersyukur karena orang susah bisa operasi gratis. Mudah-mudahan bisa kembali melihat,” katanya.

Ia tidak tahu siapa sponsor operasi katarak gratis. Tapi siapapun itu, ia berpesan: “Jangan berhenti menggelar operasi katarak gratis ini. Sangat membantu kami orang susah,” pintanya tulus. (mea)

loading...