MENGINTIP TAMBANG NIKEL SOROWAKO & TAMBANG EMAS MARTABE (3/HABIS)
Cadangan Nikel Sorowako Ada Ribuan Hektare, Emas Martabe Hingga 2033
  • Dipublikasikan pada: Oct 27, 2018 Dibaca: 454 kali.

PLAKAT: GM of HR Organization & Talent Management PT Vale Indonesia, Eko Nugroho (kanan-kiri) didampingi Senior Manager of Communication, Budi Handoko menyerahkan plakat kepada Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, Selasa (23/10/2018.


Industri tambang jarang berusia ribuan tahun. Paling lama ratusan tahun. Maklum, mineral berharga yang ditambang bukan sumber daya alam terbarukan. Jika cadangan habis dieksploitasi, perusahaan tambang pasti hengkang. Meninggalkan lingkungan yang tergerus. Bagaimana Tambang Nikel Sorowako dan tambang Emas Martabe menyiapkan program ramah lingkungan?

——————————————————
Dame Ambarita, Sorowako & Batangtoru
——————————————————
Kontrak Karya PT Vale Indonesia di Sulawesi ditandatangani tahun 1968. Kemudian, diperpanjang lagi pada Januari 1996, berlaku hingga 28 Desember 2025.

Jadi, apakah tambang nikel Sorowako akan tutup 7 tahun lagi?
“Oh, itu masa kontrak saat ini. Nanti bisa diperpanjang lagi,” jelas Senior Manager of Communications PT Vale Indonesia, Budi Handoko, kepada wartawan, Selasa (23/10).

Cadangan deposit nikel di Sorowako sendiri, menurutnya masih sangat besar. Yang belum ditambang ada ribuan hektar lagi. Artinya, jika KK diperpanjang tahun 2025, umur penambangan berpeluang hingga puluhan tahun lagi.

Meski diproyeksikan berumur panjang, PT Vale tetap menggelar sejumlah program-program untuk memandirikan masyarakat. Maklum, selama 50 tahun beroperasi di Sorowako, bisa dikatakan tambang nikellah yang menggerakkan perekonomian masyarakat Sorowako.

Selama 50 tahun, PT Vale telah memproduksi jutaan ton nikel matte. Dengan keuntungan yang diperolehnya, PT Vale telah mengubah wajah Sorowako menjadi sebuah kota kecil. Dari awalnya hanya berpenduduk sekitar 100 orang, kini Sorowako dan sekitarnya dihuni sekitar 25 ribu orang penduduk.

Saat ini, PT Vale menyediakan lapangan kerja dengan merekrut 3.176 karyawan dan lebih dari 6.000 personil kontraktor. “Mayoritas pegawai adalah warga asli Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan,” kata Budi Handoko.

Untuk kenyamanan warga, PT Vale membangun berbagai fasilitas. Mulai dari dermaga di danau Matano, membagi 10 KwH listrik produksi PLTA untuk warga setempat melalui PLN, membangun jalan, dan sebagainya.

PT Vale juga mendorong kemandirian masyarakat melalui berbagai program CSR. Seperti melatih petani lokal untuk menanam merica. Melatih sekitar 40-an UKM membangun industri rumah tangga berbasis herbal, yang pemasarannya didorong melalui Rumah UKM Luwu Timur. Membangun sejumlah lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA. Membangun fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Dan sebagainya.

Untuk rehabilitasi pascaaktivitas tambang, sejak 2006 lalu PT Vale membangun proyek nursery penyemaian bibit di atas lahan 1,5 hektar. Kapasitasnya bisa ditanami 700 ribu batang bibit pohon yang bisa mengisi kurang lebih 10 hektar per tahun. Lahan rehabilitasi ini dilengkapi dengan fasilitas lengkap, yakni green house, vegetatif, generatif, produksi pupuk hayati, dan area penyemaian bibit agar dapat survive saat ditanam di area reklamasi.

Budi menegaskan, PT Vale sangat fokus dengan keberlanjutan ekosistem. “Purnatambang kami lakukan proses penghijauan. Tumbuhan kami bibitkan sendiri. Kami juga melindungi flora asli dari daerah sini,” jelasnya.

Untuk penanganan limbah efluen dan limbah cair, PT Vale membangun area pemrosesan limbah serta pemrosesan untuk penjernihan air sisa proses tambang, bekerja sama dengan BPPT.

“Selama 50 tahun tambang dibuka, kualitas air tiga danau yang sistemnya terhubung, yakni Danau Matano, Danau Mahalona, dan Danau Towuti, dipastikan tidak banyak berubah. Itu menunjukkan, sebelum dan sesudah Vale Indonesia beroperasi, bisa dibilang tidak ada dampak berarti dari operasional tambang di sekitar danau. Dan memang PT Vale komit menjaga lingkungan, dengan selalu menjaga baku mutu air yang keluar dari compliance point,” ungkap Budi.

Terkait emisi, PT Vale melakukan pengukuran dan pemantauan secara terus-menerus dengan melibatkan pihak ketiga. Tujuannya, untuk memastikan hasil pengukuran yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Tahun lalu, kami telah menyelesaikan pemasangan electrostatic precipitator (ESP) di kilang empat. Dengan fasilitas baru, peningkatan kemampuan penyaringan debu dari cerobong meningkat 8 kali lipat,” kata Budi.

Seluruh kerja keras PT Vale dalam menjaga aspek lingkungan dibuktikan dengan perolehan penghargaan Aditama untuk kategori kelompok Pemegang Kontrak Karya dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, selama empat tahun berturut-turut. Juga mendapatkan PROPER Biru selama enam tahun berturut-turut. “Targetnya, tahun 2020 Vale Indonesia harus mendapat PROPER Hijau,” kata Budi.

Prinsipnya, PT Vale berkomitmen memberi nilai tambah dan mengembangkan warisan yang positif bagi generasi selanjutnya. Juga tanggung jawab lingkungan, keberlanjutan, dan pelayanan.

Foto: Dame/SUMUTPOS.CO
Dua petinggi di Tambang Emas Martabe, Katarina Siburian dan Ed Cooney, menyapa peserta operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan ANV dan Kodam I BB di RS Tentara Psp, Oktober 2017 lalu. Operasi Katarak Gratis merupakan ssalahsatu program CSR Martabe.


Senada dengan PT Vale Indonesia, PT Agincourt Resources yang mengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Sumut, juga menerapkan program ramah lingkungan dan CSR serupa.

Per September 2018, Tambang Emas Martabe telah beroperasi di Batangtoru selama 6 tahun lebih, dengan rencana produksi hingga tahun 2033. Atau sekitar 15 tahun lagi. Berpeluang beroperasi lebih lama jika ditemukan cadangan deposit emas lainnya yang layak ditambang.

Saat ini, ada enam cebakan mineral yang ditemukan di Tambang Emas Martabe. Cebakan Purnama adalah yang terbesar dan pertama ditambang.

Dalam operasionalnya, PT Agincourt Resources melibatkan lebih dari 2.600 karyawan dan kontraktor. Sekitar 98 persen di antaranya adalah warga negara Indonesia, dan lebih dari 70 persen berasal dari penduduk setempat.

Saat ini terdapat 15 desa yang berada di wilayah operasional Tambang Emas Martabe dengan total penduduk 20.000 orang. Sebagian besar bermata pencaharian di bidang pertanian, diikuti oleh perdagangan dan jasa. Masyarakat di sekitar Tambang Emas Martabe memiliki tingkat pendidikan dan kesehatan yang cukup baik, meski perlu peningkatan dari sisi kualitas.

“Tambang Emas Martabe fokus memberdayakan masyarakat pada beberapa sektor yakni kesehatan, pendidikan, infrastruktur, pertanian, dan pengembangan usaha lokal, sekaligus terus mendukung berbagai nilai-nilai dan adat istiadat masyarakat lokal,” kata Katarina.

Sebagai program pemberdayaan masyarakat, Tambang Emas Martabe telah meraih empat penghargaan Platinum untuk program pemberdayaan Naposo Nauli Bulung (NNB/para pemuda lokal). Yakni melalui pengelolaan sampah terpadu, program air bersih, program pemberdayaan Kelompok Tani Penangkar Padi, dan program ekstensifikasi jagung pipil serta pertanian padi organik. Ditambah satu penghargaan Gold untuk program Taman Baca Anak (TBA). Dua penghargaan Silver untuk program revitalisasi Posyandu dan program sentra usaha oleh-oleh Bagasta.

Pengembangan usaha lokal melalui Bagasta merupakan hasil kerjasama Tambang Emas Martabe dengan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) binaan PKK Batangtoru. Bagasta merupakan pusat penjualan berbagai jenis kue dan oleh-oleh ibu-ibu rumah tangga KUBE. Bagasta memungkinkan para ibu untuk mendongkrak perekonomian keluarga melalui keahlian membuat kue.

Juga ada penghargaan Gold kategori Reka Karsa Sosial untuk program Operasi Katarak Gratis.

Masih banyak program CSR lainnya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat lingkar tambang. Seperti pembangunan Mesjid Raya Al-Jihad, proyek pipanisasi air bersih, instalasi pengolahan air, penyerahan mobil pemadam kebakaran, dan sebagainya.

Aspek lingkungan juga dijaga ketat. Penilaian AMDAL untuk Tambang Emas Martabe dibuat oleh para konsultan dengan 38 studi lingkungan dan sosial, dan disetujui oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2008, menandakan berlakunya izin dimulainya Tambang Emas Martabe. Mulai dari keamanan Tailing Storage Facility (TSF/bendungan penyimpanan tailing), pengelolaan pengaliran asam tambang, safety steering (pengaturan keselamatan), dan stakeholder management steering (Pengaturan Manajemen Pemangku Kepentingan).

“Tambang Emas Martabe memperoleh Peringkat Biru dalam program penilaian lingkungan PROPER dari pemerintah Indonesia, yang menunjukkan kepatuhan penuh kami terhadap semua peraturan dan persyaratan izin lingkungan yang berlaku,” kata Katarina. Juga mendapatkan penghargaan Pratama dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk pengelolaan lingkungan pada tahun 2015.

“Tambang Emas Martabe berkomitmen untuk sukses mengelola beragam pencapaian, termasuk operasi yang aman dan efisien, dampak lingkungan, serta memastikan bahwa keberadaan kami memberikan manfaat sosial positif jangka panjang bagi para pemangku kepentingan setempat,” kata Katarina Siburian.

Foto: Dame Ambarita/Sumut Pos
Siti Khodijah Nasution, salahsatu superintendent perempuan di Tambang Emas Martabe, tersenyum manis saat diminta berpose di dekat koleksi bebatuan inti hasil pemboran, beberapa waktu lalu. Tambang Emas Martabe menerapkan program Gender Diversity, untuk menciptakan kultur kerja yang positif dan terbuka di seluruh aspek perusahaan.


Kemiripan Tambang Nikel Sorowako dan Tambang Emas Martabe lainnya adalah penerapan konsep gender diversity, atau keberagaman gender. Kedua tambang ini mendorong dan mengajak setiap laki-laki dan perempuan dalam perusahaan, untuk bersama memberikan kontribusi terbaik menunjukkan kinerja andal dan berkelanjutan.

PT Vale saat ini memiliki 8 persen pekerja perempuan, dari total 3.176 karyawan. Di Departemen Mining misalnya, ada 35 perempuan yang bekerja sebagai operator. Para perempuan ini mendapat kesempatan yang sama dengan karyawan pria, dengan beberapa perlakuan khusus. Seperti cuti hamil dan melahirkan 3 bulan, bekerja di kantor selama kehamilan, mendapat fasilitas ruang laktasi, toilet khusus perempuan, dan sebagainya.

“PT Vale tidak membatasi perempuan bekerja di tambang. Hanya saja, isu-isu tentang kerasnya pekerjaan di tambang, membuat kaum perempuan agak kurang tertarik bekerja di tambang,” kata Eko Nugroho, GM of HR Organization & Talent Management PT Vale Indonesia, saat diskusi dengan wartawan, Selasa (23/10/2018).

Meski demikian, ia mengakui ada efek positif keberagaman gender di PT Vale. Misalnya, masuknya operator wanita ke tambang  membuat alat-alat berat cenderung lebih lama rusak. Mengapa? Karena para perempuan langsung membawa alat berat ke bengkel, jika ada masalah. Sementara operator pria memiliki kecenderungan memaksa alat terus beroperasi, meski sudah bermasalah.

“Agar para perempuan berani bekerja di tambang, kami kerap harus memberi kelas edukasi mengenai berbagai hal. Contohnya, cara mengatasi rasa takut kerja sendirian dekat hutan,” cetusnya.

Ia mengakui PT Vale belum maksimal memberlakukan konsep gender diversity. Pihaknya juga belum menerapkan target tertentu mengenai angka keberagaman gender di PT Vale. “Kami lakukan secara alami saja,” katanya.

Beberapa karyawan perempuan yang menduduki jabatan di PT Vale, seperti Syamsiah Heba sebagai tim leader shift 1 di procsesing plant, Murianti sebagai mining engineer, Alifah d HRD, dan Sultin Thangkaru sebagai Senior Manager Finance Reporting, mengakui tidak ada perbedaan perlakuan antara karyawan pria dan wanita di PT Vale.

“Di luar kodrat sebagai perempuan, seluruh karyawan diperlakukan sama. Tidak ada perbedaan gaji atau jenjang karir untuk kompetensi yang sama,” kata mereka senada.

Sebelumnya, Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono menjelaskan, Tambang Emas Martabe komit menciptakan kultur kerja yang positif dan terbuka di seluruh aspek perusahaan.

“Kami ingin keberagaman dan perbedaan diterima sebagai kekuatan. Di mana perempuan memiliki kepercayaan diri untuk lebih aktif berkontribusi, sehingga seluruh aspek operasional perusahaan dapat dijalankan dengan lebih efektif,” katanya.

Dibandingkan dengan PT Vale, Tambang Emas Martabe lebih gencar menerapkan keberagaman gender.  “Target progresif dalam tiga tahun adalah 25 persen karyawan perempuan pada akhir 2019. Saat ini telah mencapai angka 20 persen dari lebih dari 2.600 karyawan dan kontraktor,” katanya.

Dari jumlah itu, ditargetkan sebanyak 40 persen karyawan perempuan berada di posisi manajerial pada akhir 2019. “Saat ini sudah mencapai 21 persen,” cetusnya.

Saat ini, sebanyak 494 karyawan perempuan bekerja di 30 jenis pekerjaan yang ada di tambang. Mulai pekerjaan terampil, profesional, produksi, dan non produksi. Perusahaan percaya, penerapan pendekatan inisiatif keberagaman gender yang sukses, akan membuat Tambang Emas Martabe menjadi perusahaan yang lebih baik.

Dengan seluruh persamaan dan perbedaan, kedua perusahaan tambang ini sepakat, melalui dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah dan masyarakat setempat, perusahaan akan terus memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia dan daerah, melalui pendapatan, lapangan kerja, pengembangan usaha, dan program sosial.  (Mea/Habis)

loading...