Lion Air JT-610 Jatuh
Basarnas Prediksi Tak Ada Penumpang Selamat
  • Dipublikasikan pada: Oct 29, 2018 Dibaca: 403 kali.

Kompas.Com/Kristianto Purnomo
Petugas memilah serpihan pesawat dan barang penumpang pesawat Lion Air JT 610 di Dermaga JICT 2, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, senin (29/10/2018). Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta – Pangkal Pinang jatuh di perairan Pantai Karawang, Jawa Barat. Pesawat membawa yang jatuh di perairan Pantai Karawang mengangkut 181 penumpang.


JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Basarnas atau Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP) terus melakukan proses evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Terbaru sejumlah potongan tubuh ditemukan, dan sudah dikirim ke Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur untuk diindentifikasi.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen (Mar) Bambang Suryo Aji memperkirakan, 189 penumpang dan awak kapal telah meninggal dunia. Prediksi itu berdasarkan perkiraan
dentuman keras saat pesawat jatuh.

“Prediksi saya sudah tidak ada yang selamat. Karena korbannya yang ditemukan itu beberapa potongan tubuhnya saja sudah tidak utuh. Sehingga beberapa jam ini jumlah 189
itu bisa dinyatakan meninggal dunia,” ujar Suryo di kantor Basarnas Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (29/10).

Sementara tak kunjung mengapungnya para korban diperkirakan karena masih terjebak di dalam badan pesawat. Oleh karena itu tim SAR gabungan terus melakukan upaya
maksimal untuk evakuasi korban di dasar laut.

“Saya prediksi banyak korban masih di dalam pesawat. Maka itu, kami dari Basarnas akan segera mencari lokasi bangkai pesawat tersebut untuk mengevakuasi korban. Karena
lokasi tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan penyelaman,” jelasnya.

Suryo menuturkan, sejauh ini tim SAR gabungan tidak menemui kendala berarti dalam evakuasi kecelakaan ini. Cuaca normal, arus air laut tidak begitu kencang. Pun
demikian dengan kedalaman laut hanya sekitar 30 meter, sehingga masih cukup untuk dilakukan penyelaman.

Operasi evakuasi Lion Air JT-610 ini akan dilakukan 24 jam non-stop dengan sistem shifting. Standarnya evakuasi dilakukan selama 7 hari, atau bisa disesuaikan dengan
kondisi.

“Saya nyatakan akan diteruskan 24 jam (evakuasinya, Red). Operasi SAR sesuai SOP 7 hari. Sebelum 7 hari kalau sudah ditemukan kami tutup. Kalau belum mungkin bisa
ditambah,” pungkas Suryo. (sat/JPC)

loading...