• Harga Jangan Terlalu Tinggi, Wakil Sekjen REI Yakin Bisnis Ruko Masih Menjanjikan
Harga Jangan Terlalu Tinggi, Wakil Sekjen REI Yakin Bisnis Ruko Masih Menjanjikan
  • Dipublikasikan pada: Dec 5, 2018 Dibaca: 391 kali.

ilustrasi ruko


MEDAN, SUMUTPOS.CO – Market bisnis rumah toko (ruko) dan rumah komersil lainnya di Kota Medan dalam beberapa tahun belakangan ini memang mengalami kelesuan. Namun begitu, bukan berarti peluang bisnis property ini tak menjanjikan lagi. Karenanya, dibutuhkan strategi jitu dalam memasarkan ruko dan rumah komersil lainnya.

“Bisnis ruko masih tetap menjanjikan, tetapi dengan lokasi yang terbatas. Artinya, lokasi-lokasi yang strategis seperti di inti kota yang dekat dengan pusat perbelanjaan, fasilitas pendidikan dan faktor pendukung lainnya, bisnis tersebut memiliki potensi yang besar,” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Real Estate Indonesia (REI), Tomi Winstan kepada Sumut Pos saat dihubungi, Selasa (4/12).

Selain faktor lokasi harus strategis, menurut Tomi, bisnis ruko harus down grade dan harga yang ditawarkan jangan terlalu tinggi. “Down grade maksudnya diturunkan tingkat bangunan fisiknya. Misalnya, ruko yang tadinya dibangun tiga lantai diefisiensi menjadi dua lantai. Begitu juga dua lantai, menjadi satu lantai. Dengan begitu, harga jual yang ditawarkan tidak terlalu tinggi,” jelas pengusaha property ini.

Tak hanya itu, sambung Tomi, masih ada faktor lain yang membuat bisnis rumah komersil ini menjanjikan. Faktor lain tersebut adalah dari sisi developer atau pengembang yang membangun ruko. “Pengembang yang membangun ruko harus melihat lokasi yang benar-benar memiliki nilai mobilitas tinggi. Apalagi, ruko yang dibangun dijadikan tempat bisnis,” sebutnya.

Kemudian, tambah dia, ruko yang dibangun menawarkan program hadiah menarik atau promo. Akan tetapi, hadiah atau promo ini tidak terlalu menarik pembeli lantaran iklim properti memang lagi melambat.

Meski menjanjikan, diakui mantan Ketua REI Sumut, sektor rumah komersil masih melambat. Hal itu disebabkan karena permintaan yang menurun. Selanjutnya, regulasi yang terus berubah. “Sejak tahun 2013, regulasi yang menyangkut properti terus berganti sehingga berdampak terhadap permintaan. Regulasi tersebut seperti loan to value (LTV), perpajakan dan lainnya. Ditambah lagi, dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” bebernya.

Tomi memprediksi, bisnis ruko akan mulai menggeliat pada tahun 2020. Namun, dengan catatan kondisi perekonomian cukup baik. “Pada 2019 cenderung masih wait and see. Hal ini seiring dengan pesta demokrasi pemilihan legislatif dan pemilihan presiden/wakil presiden. Akan tetapi, pengaruhi lebih kuat dari siapa yang menduduki jabatan menteri, seperti perdagangan, perekonomian, PUPR, dan sebagainya,” tukasnya.

Sementara, pengamat ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menuturkan, pembangunan ruko di Kota Medan memang masih terus tumbuh. Akan tetapi, pertumbuhannya tak sejalan dengan penjualannya yang disebabkan akibat dampak ekonomi yang kurang bergairah. “Saya masih optimis pembangunan ruko akan terus tumbuh setiap tahunnya, walau tidak siginifikan. Sebab, bisnis sektor properti merupakan jangka panjang dan harga jualnya tak pernah turun meskipun kondisi ekonomi lagi lesu,” ujarnya.

Diutarakan Gunawan, pada tahun ini pertumbuhan ekonomi dianggap paling rendah dari beberapa tahun terakhir siklusnya. Pasalnya, tidak menunjukan realisasi kinerja yang cukup bagus. “Itulah makanya, kondisi ekonomi yang lesu ini investasi menjadi solusi yang paling tepat. Apalagi, di sektor properti sehingga kedepannya tinggal menuai hasil yang berlipat. Terlebih, didukung dengan kondisi infrastruktur yang memadai seperti dekat jalan tol, bukan tidak mungkin harga ruko bakal tinggi walau proses penjualannya tidak seperti membalik telapak tangan,” katanya.

Senada disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan, M Ishak. Ia menilai, pertumbuhan ruko yang tidak diimbangi dengan serapan pasar ini dikarenakan pihak properti memiliki keyakinan jika ruko tersebut pasti laku. Sedangkan yang tidak laku itu biasanya di kawasan yang letaknya tidak stategis dan akses jalan yang tidak mendukung.

“Bisnis properti ini nilainya tidak akan turun. Di sisi lain, untuk sektor riil mulai jenuh dan umumnya dikuasai pihak tidak memiliki modal besar. Sehingga, mereka yang punya dana menilai jika menyimpan uang di bank tidak menguntungkan dan lebih baik ke properti. Karena tanah tidak pernah turun harganya, kecuali bermasalah,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk ruko yang tidak dihuni atau disewakan bahkan dijual, ini indikasinya karena kawasan tersebut bermasalah dengan akses jalan dan keamanannya kurang mendukung. Dengan kata lain, lokasi tidak strategis. (ris)

loading...
TAGS :