24 Hari Tidur, Balita Gilang Mulai Terbangun, Sudah Bisa Buka Mata 60 Detik

TIDUR: Gilang Tama Alfarisi masih tertidur saat dijenguk aparatur pemerintahan Pemkab Deliserdang, beberapa hari lalu. Kondisi Gilang kini mulai membaik.

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Kondisi Gilang Tama Alfarizi, bayi berusia 4,5 tahun yang sempat menggegerkan publik karena tak terbangun selama 22 hari, mulai membaik. Meski belum terbangun sepenuhnya dari tidurnya, Gilang sudang bisa membuka matanya selama 60 detik.

Setelah sempat dirawat di RSUP H Adam Malik Medan, anak dari pasangan Sandi Syahputra (25), dan Prili Mahdania (24), itu kembali di rawat di RSUD Deliserdang. Kabid Layanan dan Rawatan RSU Deliserdang, dr Erlinda Yani mengatakan, menurut tim dokter yang menangani kasusnya

kondisi Gilang mulai memperlihatkan tanda-tanda kesadaran. “Sudah bisa membuka mata. Walaupun singkat,” kata Linda, Rabu (19/12) petang.

Dari hasil pengamatan tim dokter, Gilang sempat membuka mata selama 60 detik. Lalu dia tertidur lagi. Bahkan dia sempat merespon komunikasi dengan orang lain. “Ibunya ngajak bicara. Gilang hanya mengangguk,” ungkapnya.

Menurut pihak rumah sakit, Gilang mengalami penurunan kesadaran. Mereka masih menunggu hasil diagnosa dari tim dokter yang sudah dibentuk. Hingga kemarin, Gilang sudah tertidur atau mengalami penurunan kesadaran selama 24 hari. Gilang kembali dirawat di RSUD Deliserdang pada Selasa (18/12).

Sebelumnya, pihak RSUP H Adam Malik membantah jika yang terjadi pada gilang adalah Sindrome Sleeping Beauty (Putri Tidur). Dari berbagai sumber menjelaskan, sindrom putri tidur dalam dunia medis dikenal sebagai Kleine-Levin Syndrome.

Ini adalah suatu kelainan neurologis yang bisa dibilang langka. Saking langkanya, dilaporkan hanya ada sekitar seribu orang di seluruh dunia yang menderita penyakit ini.

Sindrom Kleine-Levine adalah suatu penyakit neurologis langka yang uniknya biasa diderita oleh pria dewasa, sekitar 70 persen dari jumlah penderita sindrom sleeping beauty adalah laki-laki. Ciri utamanya Sleeping Beauty, adalah waktu tidur yang berlebihan ketika sindrom tersebut menyerang, masa-masa ini biasa disebut episode.

Pihak medis, khususnya dokter tentu tidak ingin berspekulasi dengan kondisi serupa pada anak yang terjadi di daerah lain.”Dia ini mengalami penurunan kesadaran, bukan tidur ya. Kita tidak bilang dia tidur, memang pasien alami penurunan kesadaran dan ketika pertama kali masuk, sudah kita dapati 14 hari penurunan kesadaran,” ungkap Kasubbag Humas RSUP Haji Adam Malik Medan, Rosario Dorothy. (pra/jpc)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *