Longsor Diyakini Ulah Manusia
Gunakan Drone, BBPJN II Temukan Kerusakan di Hulu Sungai
  • Dipublikasikan pada: Jan 5, 2019 Dibaca: 877 kali.

foto-foto: kompu bbpjn II medan for SUMUT POS
PUSAT LONGSOR: Pusat lokasi longsor di atas jembatan Sidua Dua, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Simalungun, yang diambil BBPJN II dengan drone pada ketinggian 190 meter pada 24 Desember 2018 lalu. Longsor ini disinyalir disebabkan terjadinya kerusakan di hulu sungai di atas bukit.


SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Bencana longsor yang menerjang Jembatan Kembar Sidua-dua, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, hingga enam kali disinyalir terjadi akibat ulah tangan manusia. Kerusakan pada hulu sungai diduga menjadi sebab terjadinya bencana tersebut secara berulang.

Hal ini diungkapkan Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II, Bambang Pardede kepada Sumut Pos, Jumat (4/1). “Kami meyakini longsor akan kembali terjadi ketika hujan deras. Kenapa? Karena di hulunya sana yang di luar kewenangan kami, sudah terjadi longsor. Kami hanya menerima dampaknya saja,” ucapnya.

Pernyataan yang ia lontarkan ini bukan tanpa alasan. Menurut Bambang, pihaknya sudah melakukan pemantauan melalui drone untuk mengetahui kenapa bisa longsor terus terjadi. Berdasarkan hasil amatan, tanah pada bagian hulu sungai sudah terbuka alias mengalami kerusakan. “Gambar tersebut saya tunjukkan tadi kepada kawan-kawan wartawan televisi waktu mewawancarai saya, dan mereka heran-heran melihatnya. Di hulu jembatan itu memang sudah longsor. Jadi kalau nanti hujan deras lagi, ya akan longsor lagi,” ujarnya
Menurut dia, ada baiknya permasalahan ini ditanyakan ke instansi terkait seperti Dinas Kehutanan. “Kami ini hanya merasakan dampak dan akibatnya. Kami sinyalir kerusakan itu terjadi di hulu sungai. Boleh kalian pakai drone kami untuk tanyakan ke Dinas Kehutanan, apa kira-kira langkah pemulihannya,” kata dia.

Pihaknya sendiri berwenang pada kondisi jalan yang diterjang longsor. Di mana, sampai saat ini masih terus melakukan pembersihan material longsor dari badan jalan. Di samping itu, sambung Bambang, sampai sekarang hanya satu lajur jembatan saja yang dapat difungsikan di titik bencana, karena pada jembatan satunya lagi sedang dilakukan upaya pembersihan.

“Petugas dan alat kami masih stand by di sana. Ya, memang cuma satu lajur saja yang berfungsi. Satu lajur lainnya kami jaga untuk pembersihan sebab ketika hujan deras akan kembali terjadi (longsor),” pungkasnya.

foto-foto: kompu bbpjn II medan for SUMUT POS
PUSAT LONGSOR: Pusat lokasi longsor di atas jembatan Sidua Dua, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Simalungun, yang diambil BBPJN II dengan drone pada ketinggian 190 meter pada 24 Desember 2018 lalu. Longsor ini disinyalir disebabkan terjadinya kerusakan di hulu sungai di atas bukit.


Kepala BPBD Sumut, Riadil Akhir Lubis belum berani mengakui sumber longsor yang terus menerjang jalan lintas Sumatera Siantar-Parapat akibat kerusakan di hulu sungai. Pihaknya berupaya melakukan pemantauan langsung terhadap daerah yang terkena longsor dengan menggunakan drone. “Kami telah melakukan pemantauan langsung menggunakan drone, memang di atas ada kerusakan, kalau tidak ditangani di atas itu, maka akan terus longsor nanti ini,” ujarnya.

Secara darurat, pihaknya juga tengah melakukan monitoring terhadap daerah-daerah rawan bencana lainnya, untuk selanjutnya mengambil langkah komprehensif dengan menggelar rapat koordinasi terpadu mengundang stakeholder terkait masalah ini. “Tapi saya belum bisa mengatakan itu dulu (ada kerusakan di hulu sungai akibat ulah manusia), kami tentu akan menganalisisnya. Memang di atas itu ada yang rusak, di atas itu juga ada sungai kecil, kemungkinan besar bisa saja dari situ titik longsornya,” katanya seraya menyebut dalam waktu dekat ada rencana pihaknya melakukan pembangunan bendungan untuk mengalihkan aliran longsor, saat bencana tersebut datang.

“Saat ini tengah dilakukan pengukuran seberapa besar Sabodam yang akan dibangun pada sisi jembatan. Itu salah satunya, dan kini tengah dihitung berapa meter atau hektare daerah itu yang bisa dibuatkan kolam,” sambungnya.

Sekretaris Camat Girsang Sipanganbolon, Doni Sinaga mengatakan, untuk mengantisipasi longsor susulan yang sudah lebih dari 6 kali terjadi, mereka akan melakukan beberapa upaya. “Upaya yang akan dilakukan hari ini, menjatuhkan tanah yang masih rawan longsor dari atas bukit, sehingga diharapkan tidak lagi terjadi longsor susulan,” kata Doni.

Dia menambahkan, setelah tanah yang rawan longsor dijatuhkan, pembersihan material longsor kembali dilakukan, dengan menutup total jalan dari Parapat ke Pematang Siantar dan mengalihkannya melalui Girsang keluar ke Simpang Palang, begitu juga sebaliknya yang akan menuju kawasan Tapanuli.

Ekstra Hati-hati
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengingatkan pengendara atau pemudik yang melintasi wilayah-wilayah rawan bencana untuk ekstra hati-hati dan waspada. Terlebih pada 6 Januari besok, diketahui merupakan periode kedua puncak arus mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Salah satunya yang perlu diantisipasi, menurut Gubsu, ialah dengan memastikan kondisi badan si pengendara dan juga kendaraan yang dibawa, benar-benar sehat. “Bagi semua pemudik-pemudik kita dengan kondisi cuaca yang sedang kurang bersahabat saat ini, untuk memastikan kondisi kendaraan, kondisi stamina untuk selalu fokus pada situasi yang ada, insyaallah selamat sampai tujuan,” katanya.

100 Ton Material Longsor Tutupi Jembatan
Tim gabungan dari Pemkab Simalungun, Polisi dan TNI serta instansi terkait dari Pemprovsu serta Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN), sudah membersihkan lebih dari 100 ton material longsor yang menutupi jembatan Siduadua di Desa Sibaganding,Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara hingga Jumat (4/1) sore.

Kepala Bidang Peralatan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pemkab Simalungun, O Manik kepada wartawan mengatakan, pekerjaan pembersihan material longsor dari pukul 08.00 WIB pagi sudah berhasil membersihkan material longsor sekitar 100 ton lebih dalam bentuk tanah berlumpur atau bercampur air.

Menurutnya, satu jembatan sudah berhasil dibersihkan meski belum total, namun sudah dapat dilintasi dengan pengaturan buka tutup arus lalu lintas. “Sudah sekitar 100 ton lebih material longsor yang menutupi jembatan Siduadua yang dibersihkan dan diperkirakan bisa lebih dari 200 ton jika sudah total dibersihkan seluruhnya,” kata Manik. Pembersihan material longsor menurutnya dilakukan dengan mengerahkan sedikitnya 2 alat berat, salah satunya milik Pemkab Simalungun.

Camat Girsang Sipanganbolon Boas Manik menjelaskan, di lokasi sudah ada empat alat berat yang diturunkan. Terjadi kemacetan panjang karena sistem buka tutup yang diterapkan. “Dibuka dua jam sekali. Lalu dua jam itu alat berat bekerja kembali,” kata Boas Manik, Jumat (4/1).

Selain alat berat, di lokasi juga diturunkan armada pemadam kebakaran. Armada pemacam ini secara bergantian menyiram material lumpur longsor supaya lebih mudah dibersihkan. Dia mengimbau, para pengendara bisa melintasi jalur alternatif yang sudah disiapkan. Baik yang dari arah Kota Pematang Siantar atau pun dari Kabupaten Toba Samosir.

Informasi yang dihimpun dari lokasi, para pengendara bisa melintasi jalur alternatif via Sitahoan-Simpang Palang. Ataupun bisa ditempuh via Kabupaten Asahan-Siguragura-Porsea. Namun kabarnya jalur ini juga sempat terputus karena longsoran.

Ia menerangkam, saat ini cuaca di kawasan Danau Toba terpantau cerah. Itu semakin memudahkan petugas membersihkan material longsor. Namun jika hujan, mereka takut longsor susulan terjadi. “Kita sudah menyiapkan petugas di atas bukit untuk memantau apakah ada pergerakan tanah dari atas,” tandasnya.

Untuk diketahui, jalur lintas Siantar-Parapat sempat terputus akibat diterjang longsor pada Kamis (3/1) sekira pukul 12.05 WIB. Menurut Boas Manik, ini adalah longsoran yang ke-17 kali di lokasi tersebut. Namun diantaranya, tujuh kali yang bervolume cukup besar. (prn/dvs)

loading...
TAGS :