Tepis Kabar Kudeta di Kongres PSSI, Jokdri: Semua Berjalan Natural
  • Dipublikasikan pada: Jan 22, 2019 Dibaca: 379 kali.

istimewa
KETUA UMUM: Joko Driyono menjabat Plt Ketua Umum PSSI setelah mundurnya Edy Rahmayadi di Kongres yang digelar di Bali, Minggu (20/1).


JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Mundurnya Edy Rahmayadi masih menyisakan tanya. Meski begitu, keputusan Edy mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI menjadi pembeda mantan-mantan Ketua Umum PSSI sebelumnya, setidaknya dari empat rezim terakhir. Mereka rata-rata dilengserkan secara paksa dari kursinyan
Edy mengumumkan mundur pada Kongres PSSI 2019 di Hotel Sofitel, Minggu (20/1). Ia menegaskan, tak ada satu pihak pun yang menekannya sehingga harus lengser. “Demi PSSI berjalan dan maju, maka dari itu saya menyatakan hari ini saya mundur dari Ketua PSSI. Dengan syarat, jangan khianati PSSI,” kata Edy dalam pidato yang kemudian disambut dengan teriakan tunggal takbir dari salah seorang pemilik suara di kongres tersebut.

Namun, mundurnya Edy ini dinilai Manajer Pesib Bandung Umuh Muchtar sebagai langkah kudeta yang dilakukan sejumlah pengurus. Muchtar, menilai Edy dikhianati bawahannya di PSSI. “Dia polos dan percaya kepada bawahan. Akhirnya, teledor. Sudah dipercaya, malah Pak Edy dikhianati,” tegas Umuh kepada awak media di arena Kongres PSSI.

Joko Driyono pun akhirnya memberikan jawaban atas isu kudeta yang dihembuskan Umuh Muhtar tersebut. Selain menjawab isu kudeta, Jokdri juga menjawab soal beredarnya surat mosi tak percaya yang dikirim voter (pemilik suara) di Kongres PSSI 2019 ke Exco PSSI. Plt Ketua Umum PSSI yang diberi mandat oleh Edy Rahmayadi di Kongres PSSI di Bali ini, mengaku tidak tahu soal surat mosi tidak percaya dari voters tersebut. “Tidak ada surat itu. Saya nggak lihat,” kata Joko Driyono.

Ditanya terkait voters yang bertemu dirinya dan merapat mendukungnya, Joko Driyono mengaku hal itu tidak ada. “Tidak ada. Semua berjalan natural saja. Melakukan konsultasi maupun dialog (bersama voters). Dan itu menurut saya hal yang natural,” katanya.

Dibilang wajar, Joko Driyono mengatakan wajar dalam hal berkomunikasi. “Wajar dalam artian kita semua, berinteraksi dan konsultasi, itu hal wajar dengan semua pemilik suara di PSSI,” tegasnya.

Namun, belum genap 24 jam setelah mendapat mandate sebagai karteker Ketua Umum PSSI, Joko Driyono langsung didesak mundur oleh warganet. Walaupun penunjukan Jokdri disetujui oleh voters karena sesuai statuta, tidak demikian bagi warganet. Para netizen meramaikan jagat Twitter dengan tagar #JokdriOut. Hashtag tersebut menjadi salah satu trending topic di Indonesia sejak Minggu (20/1) malam.

Warganet yang umumnya pencinta sepak bola itu, menyuarakan ketidaksepakatannya atas penunjukan Jokdri sebagai suksesor Edy Rahmayadi. Rata-rata mereka tidak yakin pria asal Ngawi itu bisa membawa sepak bola Indonesia lebih baik.

“Selamat tinggal kemajuan sepak bola negeri ini #JokdriOut,” tulis akun @gabisapelan. “Sebelum semua keburukan itu meluas, mari langsung gencarkan #JokdriOut,” tulis akun @adiriaan.

Warganet juga mengungkit sepak terjang Jokdri di sepak bola Indonesia. Sebelum memimpin PSSI, Jokdri pernah menjadi Sekjen dan operator kompetisi. Keterkaitan Jokdri dengan Persija Jakarta pun ikut dibahas. “Pak Jokdri, pilih lepas Persija fokus ke PSSI, atau lepas PSSI fokus di Persija #JokdriOut,” tulis akun @SulionoBambang.

Politisi Partai Demokrat Andi Arief juga berkicau di Twitter, tak lama setelah Edy menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI, Minggu (20/1). Dalam cuitannya, Andi Arief memang tidak secara langsung mengarah ke Edy Rahmayadi.

Namun ia bercerita tentang gubernur gila bola yang menolak memenangkan atasannya di Pilpres. Yang kemudian berujung pada kudeta bola mantan panglima. “Alkisah, gubernur gila bola menolak menangkan atasannya dalam Pilpres. Keesokan harinya ada densus mafia bola,” tulis Andi Arief, Minggu (20/1). “Kita tunggu berikutnya kudeta bola mantan Panglima. Kalau ada laporkan saja, kata lidah berbisa,” lanjutnya.

Memang, pernyataan mundur yang dilontarkan Gubernur Sumatera Utara itu jelas berbanding terbalik dengan perkataannya pada malam sebelum kongres tahunan PSSI dimulai, yakni pada Sabtu (19/1). Jawa Pos (grup Sumut Pos) yang sudah mendengar adanya desakan agar Edy mundur sempat menanyainya ketika gala dinner. “Masak saya tinggalkan PSSI saat sedang morat-marit? Kan tidak manusiawi. Saya tidak akan mundur,” tegasnya saat itu.

Nyatanya, ucapan tersebut tidak terbukti. Mantan Pangkostrad itu malah meninggalkan PSSI di tengah sergapan isu pengaturan skor yang menjerat beberapa petingginya.

Edy sadar pernah berjanji tidak akan mundur. Karena itu, pria 57 tahun tersebut menegaskan kepada Jawa Pos seusai kongres bahwa dirinya bukan kalah dan menyerah dalam kasus yang menjerat PSSI. Dirinya justru mundur karena merasa sudah tidak dihargai anggota PSSI.

Salah satu contohnya tersaji dalam acara gala dinner. Dia sudah meminta Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono agar voters hadir dalam acara ramah-tamah itu. Dia ingin mengobrol banyak hal sebelum kongres diselenggarakan.

Nyatanya, dari 85 voter, tak sampai 20 orang yang datang. Bahkan, hanya tiga perwakilan klub-klub kasta teratas (Liga 1) yang menampakkan batang hidungnya. Yakni perwakilan Persebaya Surabaya, Bhayangkara FC, dan Semen Padang. “Lalu saya kumpulkan exco (kemarin pagi, Red). Makanya, hari ini (kemarin) saya putuskan,” katanya.

Edy Rahmayadi tidak ingin disebut mentang-mentang dengan jabatannya sebagai gubernur Sumatera Utara. “Saya lakukan ini dalam kondisi sehat. Bertanggung jawablah kalian sekarang,” ucap dia.

Selama Edy Rahmayadi menjabat ketua umum PSSI, prestasi terbaik yang dicetak di level timnas adalah keluarnya timnas U-16 sebagai juara Piala AFF 2018 yang diselenggarakan di Sidoarjo. Di level senior, prestasi timnas era Edy Rahmayadi jauh dari kata memuaskan.

Terakhir, skuad Garuda gagal lolos dari penyisihan grup Piala AFF 2018. Pada Asian Games 2018 (12-24 Agustus 2018), timnas U-23 Indonesia hanya mampu mencapai babak 16 besar. Meleset dari target lolos ke semifinal.

Catatan hitam yang terjadi selama Edy menjabat, sesuai data dari Save Our Soccer (SOS), ada 22 suporter yang meninggal dunia. Dari jumlah itu, sembilan di antaranya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sedangkan korban meninggal akibat pengeroyokan berjumlah tujuh orang.

Dengan mundurnya Edy, otomatis posisi ketua umum PSSI diisi wakilnya, Joko Driyono. Hal tersebut sesuai dengan statuta PSSI pasal 39 ayat 6. Jokdri -sapaan Joko Driyono- akan menjadi ketua umum hingga kongres berikutnya. Jokdri tidak sendiri. Posisi wakil ketua umum akan diserahkan kepada Iwan Budianto.

Di kongres keduanya sudah mendapat persetujuan. Artinya, pria asal Ngawi itu akan menggantikan posisi Edy hingga masa jabatan berakhir pada 2020. Itu terjadi jika tidak ada kongres luar biasa (KLB). Jokdri sendiri mengaku siap. Sebab, dirinya menjadi ketua umum sesuai dengan statuta dan disetujui anggota PSSI. “Saya akan menjalankan Plt ini sesuai statuta,” ucapnya.(jpc/bbs)

loading...
TAGS :