Konsumsi Emas untuk Perhiasan di Indonesia Naik 6 Persen

Ekonomi Martabe Sumatera Utara
Foto: Dame/Sumut Pos
PAPARAN: Prof Dr. Ir. Irwandy Arief, MSc, guru besar teknik pertambangan ITB, memaparkan soal pertambangan Indonesia dan dunia, di Parapat, pada orientasi lanjutan bagi media yang digelar PT Agincourt Resources di Parapat, Senin (11/3/2019).

PARAPAT, SUMUTPOS.CO – Sejak zaman dahulu, emas telah digunakan dalam produksi perhiasan, koin, patung, kapal, hiasan untuk bangunan & monumen. Terkait konsumsi logam emas untuk perhiasan di Indonesia, belakangan ini mengalami kenaikan sebesar 6 persen, setelah mengalami penurunan selama 3 tahun berturut-turut.

“Hasil survey Thomson Reuters tahun 2017 yang dipublish tahun 2018 menunjukkan, konsumsi emas untuk perhiasan naik 6 persen dari tahun 2016 yang hanya mengonsumsi 33 ton emas secara nasional, menjadi sekitar 35 ton secara nasional. Empat tahun sebelumnya yakni tahun 2013, konsumsi emas sempat tinggi di angka 54 ton. Turun menjadi 47 ton tahun 2014. Turun lagi menjadi 40 ton tahun 2015. Dan mencapai titik terendah tahun 2016,” kata Prof Dr. Ir. Irwandy Arief, MSc, guru besar teknik pertambangan ITB, di Parapat, Senin (11/3/2019). Ia menyebutkan hal itu saat menjadi pembicara dalam orientasi lanjutan bagi media tentang pertambangan Indonesia dan dunia, yang digelar PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe, untuk awak media.

Menurut Profesor Irwandy, penurunan konsumsi emas itu seiring dengan rendahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. “Ibu-ibu di Indonesia pintar-pintar. Kalau nilai Rupiah turun, mereka menahan diri membeli emas. Saat nilai Rupiah naik, mereka kembali membeli emas. Itu menunjukkan kalau ibu-ibu kita pandai investasi emas,” cetusnya.

Lebih lanjut Irwandy menjelaskan, data dari Dirjen Mineral dan Batubara KESDM tahun 2018, sumberdaya dan cadangan logam emas nasional mencapai 67,700 ton emas. Sedangkan cadangannya mencapai 38,900 ton.

Adapun untuk produksi emas naional, realisasi produksi lebih besar dibanding rencana produksi. Tahun 2015, realisasi produksi emas nasional mencapai 95.000 Kg, lebih tinggi dibanding rencana produksi yang hanya 75.000 kg. Tahun 2018, realisasi produksi emas nasional mencapai 130.000 Kg, lebih tinggi dibanding rencana produksi yang hanya 75.000 kg.

“Beberapa perusahaan pertambangan emas  di Indonesia yang memproduksi emas nasional antara lain PT J Resources Bolaang Mongondow, PT Ensbury Kalteng Mining, PT Indo Muro Kencana, PT Natarang Mining, PT Meares Soputan Mining, PT Tambang Tondano Nusajaya, PT Nusa Halmahera Minerals, PT Kasongan Bumi Kencana, PT Agincourt Resources (Tambang Emas Martabe), PT ANTAM Tbk, PT Sago Prima Sejahtera, PT Freeport Indonesia, PT Newmont Nusa Tenggara, PT Bumi Suksesindo, dan PT Sumatera Copper Gold.

“Dari puluhan perusahaan tambang emas itu, yang terbanyak memproduksi emas adalah Tambang Emas Freeport di Papua. Produksinya tahun 2015 mencapai 34,92 ton emas, tahun 2016 sebesar 30,07 ton emas, dan tahun 2017 mencapai 44,05 ton emas. Cadangannya mencapai 657 ton emas,” jelas Irwandy.

Bandingkan dengan produksi PT Agincourt Resources (Tambang Emas Martabe di Batangtoru, Tapsel), yang hanya 12,8 ton emas tahun 2018. Naik dibanding produksi tahun 2017 sebesar  10,9 ton emas.

“Untuk produksi emas dunia, Indonesia masuk 10 besar top produsen, dengan total produksi 85 ton tahun 2018. Posisi pertama diduduki Cina dengan total produksi 400 ton tahun 2018, disusul Australia dengan produksi 310 ton emas tahun 2018. Posisi ketiga diduduki Rusia dengan produksi sebesar 295 ton emas. Kemudian Amerika Serikat sebesar 210 ton,” jelasnya.

Untuk cadangan emas, Indonesia berada di posisi 6 besar, dengan total cadangan 2.500 ton emas. Posisi pertama diduduki Australia dengan cadangan 9.800 ton emas, disusul Afrika Selatan sebesar 6.000 ton emas, Rusia 5.300 ton emas, Amerika Serikat 3.000 ton, dan Peru 2.600 ton. (mea)

loading...
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *