Rencana Karet akan Jadi Campuran Aspal, Gapkindo Sumut: Tetapkan Standar Karet

Ekonomi
sutan siregar/ sumut pos
KARET: Hasil panen penggerusan karet yang dikumpulkan oleh petani di Serdangbedagai, belum lama ini.

Presiden Joko Widodo meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono untuk menerapkan penggunaan karet pada aspal seluruh jalan di Indonesia. Hal tersebut, disambut baik oleh Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut.

Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan pemerintah harus menetapkan standar kualitas karet yang bagus agar petani semakin termotivasi. Dengan adanya penggunaan karet sebagai bahan campuran aspal, bisa menyerap produksi karet yang ada di dalam negeri dan meningkatkan harga jualnya yang sedang lesu saat ini.

“Jadi, secara kualitas harus ditetapkan juga standarnya. Agar petani memahami dan termotivasi untuk produktivitas karet rakyat,” ucap Edy kepada wartawan di Medan, Selasa (12/3) siang.

Dengan itu, Edy menjelaskan bila terealisasi karet menjadi campuran aspal akan memberikan dampak baik, bagi perekonomian petani karet sendiri. Termasuk, harga beli dan standar kualitas perlu ditetapkan pemerintah.

“Untuk saat ini belum bisa memperkirakan besaran penyerapan karet untuk kebutuhan campuran aspal tersebut. Begitu juga untuk kemungkinan dampak terhadap peningkatan harga jual karet petani,” jelas Edy.

Dengan itu, Edy mengungkapkan memberikan dampak baru dengan pertumbuhan karet di tanah air ini. Kemudian, penyerapan untuk aspal secara volume dan kuantiti sudah diketahui. Jika volume dan kuantiti rendah, maka masih belum berpengaruh pada harga pasar.

“Berdampak atau tidaknya harus ada datanya dulu berapa jumlah yang akan digunakan untuk campuran aspal. Apalagi harga di tingkat internasional sulit diprediksi. Saat ini pasokan berkurang harga masih rendah,” kata Edy.

Edy juga menjelaskan, saat ini produksi yang dihasilkan oleh pabrik Crumb Rubber tergantung dari pasokan dari karet rakyat dan permintaan luar negeri. Permintaan luar negeri tergantung dari kondisi perekonomian negara konsumen utama China, Amerika, Jepang, India dan lainnya.

“Ada indikasi permintaan masih stagnan. Rakyat cenderung kurang produksinya bila harga semakin rendah. Di tingkat petani, mereka mengharapkan paling tidak harga saat ini Rp10 ribu per Kg karet basah,” pungkasnya. (gus/ram)

loading...
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *