• Rekrut Perempuan untuk Aksi Amaliyah, Eksistensi Kelompok Radikal Masih Kuat di Sumut
Rekrut Perempuan untuk Aksi Amaliyah, Eksistensi Kelompok Radikal Masih Kuat di Sumut
  • Dipublikasikan pada: Mar 16, 2019 Dibaca: 401 kali.

no picture


SUMUTPOS.CO – Tim Densus 88 Antiteror menangkap tujuh orang terduga teroris di Sibolga, Sumatera Utara, sejak Selasa (12/3) lalu. Tiga dari tujuh orang yang diamankan tersebut adalah wanita. Bahkan satu diantaranya istri Abu Hasan, Marnita Sari boru Hutahuruk alias Solimah nekat meledakkan diri saat Kepolisian hendak menggeledah rumahnya.

KAROPENMAS Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebutkan, ada tiga wanita yang tercatat masuk di lingkaran jaringan Sibolga. Ada pun ketiga wanita tersebut adalah istri Abu Hamzah, R, dan Y alias Khodijah. Y alias Khodijah ditangkap Densus 88 di Klaten Jawa Tengah, Kamis (14/3), pukul 16.00 WIB.

“Jadi di (jaringan) AH sudah ada tiga wanita. Yang satu istrinya yang meledakkan diri, kedua adalah R yang direkrut sebagai istri keduanya, dan yang tadi Y ditangkap di Klaten,” ungkap Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (15/3).

Dedi mengatakan, Y diduga bergabung di kelompok yang sama dengan dengan Abu Hamzah, yakni jaringan Sibolga. “Y masih satu jaringan dengan Abu Hamzah, ia ditangkap berdasarkan informasi dari Putera Syuhada dan Abu Hamzah,” ungkap Dedi.

Y diduga sebagai inisiator amaliyah. Menurut Dedi, Y mengajak Putera Syuhada, Abu Hamzah dan Syaefuddin Hidayat untuk melakukan aksi teror di Pulau Jawa. Ia menjelaskan, sosok R adalah calon istri dari Abu Hamzah yang juga direkrut untuk melakukan aksi amaliyah.

Menurut Dedi, R juga merupakan mantan istri dari seorang terduga teroris berinisial A, yang tewas karena melawan aparat kepolisian.

dan diberikan tindakan tegas di wilayah Tanjungbalai, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. “R ini direkrut oleh AH sebagai calon istri kedua. Pola rekrutannya dia (AH) sudah mulai merekrut perempuan,” jelas Dedi.

“R ini ialah mantan istri terduga teroris atas nama A kelompok Tanjungbalai, yang pada saat menjalankan aksinya ditangkap melawan kami. Diambil tindakan tegas oleh kami hingga meninggal dunia,” sambungnya.

“Oleh karena itu mantan istri A (R) ini ialah mantan pelaku istri teroris, direkrut dan akan dinikahi oleh AH,” jelasnya.

Lebih lanjut, jenderal bintang satu itu menuturkan, pihaknya menangkap R berdasarkan analisa jejak digital yang dibuatnya sendiri. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa busur panah, karena R akan melakukan aksi amaliyah menggunakan panah.

Densus 88 terus memantau keseharian dari yang bersangkutan dan tidak dalam waktu yang sebentar hingga proses penangkapan ini. “(Pemantauan itu) Untuk memastikan apakah yang bersangkutan sudah terpapar ideologi ISIS. Setelah dirasakan cukup, maka berdasarkan UU No 5 Tahun 2018 Polri melaksanakan preventive strike atau pencegahan secara awal,” terangnya.

Menyikapi aksi teroris jaringan Sibolga ini, mantan terpidana teroris dalam aksi perampokan CIMB Niaga, Khairul Ghazali menilai, kelompok-kelompok radikal di Indonesia, khususnya Sumut, eksistensinya masih kuat, termasuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Khairul Ghazali yang belasan tahun mengikuti paham radikal ini, mengaku paham betul doktrin apa yang ditanamkan pada mereka yang terpapar pemikiran sempit arti jihad.

“Dalam doktrin jihad mereka (pelaku teror) bertitik tumpu dalam ayat Alquran. Saya bacakan artinya dalam Bahasa Indonesia yang berbunyi; Berjihadlah kamu di jalan Allah dengan harta kamu dan diri kamu di jalan Allah. Inilah dasarnya. Kemudian selain dengan harta dan diri, maka di ayat lain memerintahkan pelihara diri kamu dan keluargamu dari api neraka. Kemudian selain dengan diri sendiri, doktrin yang diajarkan agar juga berjihad dengan keluarga, bukan cuma harta. Jadi keluarga itu diajak ikut masuk surga dengan pemahaman jihad mereka yang sempit,” ujar Khairul kepada Sumut Pos, Jumat (15/3).

Setidaknya, hal itu yang menjadi dasar kenapa istri Abu Hamzah nekat mengajak anaknya melakukan aksi jihad, bom bunuh diri di rumahnya. “Jadi jalan masuk ke surga itu bukan sendiri, tapi keluarga itu diajak ikut masuk ke surga. Kalau umpamanya sarapan paginya sama-sama di dunia, nanti makan malamnya bisa makan sama-sama juga di surga, bareng anak dan istri. Itulah doktrin yang tak bisa ditukar dengan tawaran apapun di dunia. Sehingga segala bujuk rayu (polisi dan tokoh agama) seperti yang di Sibolga itu tak mempan, karena mereka sudah terbius, mereka bisa masuk surga,” paparnya lagi.

‘Bius’ pemahaman Islam yang salah itu sudah begitu merasuk ke dalam jiwa para pelaku teror. Alhasil, mereka menganggap setiap tindakan jihad versi pelaku itu hadiahnya mutlak adalah surga. Menurut Khairul, doktrin sudah ada sejak lama dari Timur Tengah.

“Jadi di depan matanya itu sudah tergambarkan surga. Dan kepada anak, itu dibius akan masuk surga bareng. Dan ini doktrin sudah sejak lama mulai dari Timur Tengah. Terinspirasilah mereka dengan pola jihad di Timur Tengah, Siria, Irak, Palestina. Dan itu masih akan terjadi lagi di tempat lain, bukan hanya di Indonesia,” jelasnya.

Pria yang dulunya terlibat dalan penyerangan Mapolsek Hamparan Perak pada Tahun 2010 ini meyakini, aksi yang terjadi di Sibolga tak terkait paut dengan Pemilu 2019 yang akan berlangsung. “Saya tekankan, aksi terorisme kemarin tidak terkait dengan Pemilu 2019. Karena itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja,” tambah pria yang kini mendirikam Ponpes Al Hidayah di Deliserdang, yang berisikan mata pelajaran deradikalisasi bagi anak-anak mantan teroris.

Pemahaman para pelaku teror yang menyasar aparat dalam aksinya, katanya kini menjadi arah jihad para pelaku terorisme. Aparat kepolisian menjadi penghalang utama dalam jihad mereka menghancurkan kaum non muslim. Dalam hal ini mereka dihalangi oleh Densus 88 Antiteror. “Tapi kan mereka tidak bisa menemukan Densus, jadi aparat kepolisian yang didapat saja yang mereka target,” sebutnya.

Artinya, lanjut Khairul, aparat menjadi musuh mereka. “Bukan musuh jihad ya. Karena pemahaman jihad inikan luas, bukan seperti pemahaman mereka yang sempit soal jihad. Jadi jihad dalam perspektif mereka bukan perspektif jihad mayoritas umat islam dan ulama islam yang mereka bajak dan memanipulasi makna jihad berdasarkan pemikiran mereka yang dangkal,” bebernya.

Khairul melabeli dengan tegas, ajaran agama islam yang dogmatis bagi para pelaku teror ini telah membuat mereka keliru dalam memahami apa itu ajaran Islam. “Jadi perlu ditekankan apa yang mereka lakukan itu tidak mewakili umat islam, ya. Tidak bisa mereka dikatakan Islam,” jelasnya.

Terkahir soal kelompok-kelompok radikal yang ada di Indonesia, khususnya Sumut eksistensinya masih kuat, apalagi Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok radikal yang kemarin jaringannya diburu di Sibolga. Eksistensi kelompok ini di Sumut menurut Khairul masuk dalam kategori mengkhawatirkan. “Soal JAD, semenjak ada ISIS, kelompok teror yang memiliki negara, pemimpin, wilayah, rakyat, uang dan bank jadi mereka ini lah yang memperkuat kelompok radikal yang kecil-kecil di Indonesia ini, JAD, Jamaah Islamiyah, Alqaeda ini melebur ke ISIS. Dan mereka menyebar di Indonesia. Sementara JAD ini menurutnya eksistensinya cukup rawan dan kelompok yang beresiko tinggi di Sumut ini,” pungkas Khairul.(dvs/bbs)

loading...
TAGS :