Pemko Medan Diminta Awasi Harga Bahan Pokok

Ekonomi
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Komisi C DPRD Kota Medan meminta agar Pemerintah Kota (Pemko) Medan memantau dan mengawasi harga bahan pokok di pasaran. Hal ini perlu dilakukan karena seringkali setiap memasuki bulan puasa dan menjelang hari raya idul fitri, terjadi gejolak harga terhadap bahan pokok.

“Seolah sudah tradisi, harga bahan pokok kerap naik menjelang hari besar keagamaan seperti puasa dan lebaran. Jadi kita minta, Pemko Medan melakukan pemantauan dan pengawasan harga bahan pokok, baik itu di pasar tradisional maupun di supermarket,” ungkap Anggota Komisi C DPRD Medan, Jangga Siregar, kemarin (5/5).


Menurut Jangga, pengawasan yang dilakukan sejak dini agar permainan harga diduga oleh distributor maupun pedagang yang melakukan penimbunan barang dapat segera diantisipasi. Seba, kalau tidak maka kenaikan harga pun tak terhindarkan.

“Jangan sampai kenaikan harga ini mengganggu kenyamanan umat muslim melaksanakan ibadah puasa. Mereka jadi terbebani dengan tingginya harga bahan pokok,” ucapnya.

Diutarakan Jangga, dalam pekan ini Komisi C yang membidangi pasar akan meninjau ke lapangan. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi harga bahan pokok. “Mungkin pekan ini kami akan meninjau ke pasar-pasar yang kuat dugaan melakukan hal-hal seperti itu (permainan harga),” cetusnya.

Disinggung adanya beberapa bahan pokok yang harganya mulai naik, Jangga mengingatkan agar Pemko Medan melalui dinas terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar maupun menggelar operasi pasar.

“Harga-harga yang naik ini segera ditinjau lagi, dan jangan dibiarkan. Karena banyak pelaku usaha diduga nakal atau sengaja melakukan penimbunan barang supaya harganya mahal. Oleh karena itu, dinas terkait harus melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi kenakalan pelaku usaha. Kalau perlu diberi sanksi tegas agar ada efek jera,” tegasnya.

Sementara, Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benyamin mengatakan, harga sejumlah pangan di Medan berpotensi mengalami kenaikan. Hal itu dipengaruhi lantaran harga bawang putih yang terus melambung.

“Menjelang beberapa hari puasa, harga sejumlah kebutuhan pokok berpotensi mengalami kenaikan. Hal ini dampak dari harga bawang putih yang naik sangat signifikan,” ujarnya.

Disebutkan Gunawan, harga bawang putih saat ini dijual di pasaran mencapai Rp78 ribu per kg. Padahal, sebelumnya masih dikisaran Rp58 ribu per kg. “Saya menilai kenaikan harga bawang putih ini diakibatkan kesalahan pemerintah. Karena, seharusnya kebutuhan akan bawang putih ini bisa dilakukan dengan cara mengeluarkan kebijakan keringanan dalam pemberian impor,” sebutnya.

Kata Gunawan, kenaikan harga bawang putih tersebut berpeluang membuat harga bawang merah mengalami kenaikan karena ada substitusi. Artinya, sedikit banyak masyarakat yang dirugikan oleh kenaikan bawang putih akan menggantinya dengan bawang merah.

“Perlu diwaspadai bahwa bawang merah harganya juga berpeluang untuk naik. Walaupun sejauh ini harganya masih bergerak stabil dikisaran Rp30 ribuan per kg,” ujarnya.

Selain bawang merah, sambung Gunawan, ada telur ayam yang juga mengalami kenaikan. Harga telur ayam dijual sekitar Rp22.400 per kg, naik dari posisi sebelumnya dikisaran Rp20.800 per kg. Kenaikan harga telur ayam terbilang masih dalam batas kenaikan yang wajar.

Kemudian, harga daging ayam juga naik menjadi Rp34 ribuan per kg dari sebelumnya 30 ribu per kg. Tak hanya itu saja, cabai merah juga masih bertahan dikisaran Rp40 ribu per kg. Sementara itu, cabai rawit juga bertahan dikisaran Rp34 ribu per kg. “Harga cabai ini menjadi harga yang paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan laju tekanan inflasi,” tuturnya.

Ia menghimbau, pemerintah daerah perlu melakukan sidak dan sebaiknya memberikan solusi terhadap kenaikan harga tersebut sejauh ini. Ada 2 faktor utama yang berpeluang membuat harga bisa bergejolak di awal ramadhan nanti.

Pertama, tren permintaan yang cenderung meningkat menjelang perayaan keagamaan. Kedua, ada cuaca ekstrem yang tengah melanda wilayah sumatera utara.

“Panas yang berlebihan ini membuat petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk merawat tanaman. Otomatis, memicu kenaikan biaya produksi,” pungkasnya. (ris/ram)

loading...