Vakum Sejak Lebaran 2018, Sinabung Erupsi 45 Menit, Warga Kaget

Solideo/sumut pos
ERUPSI: Gunung Sinabung kembali erupsi dahsyat selama 45 menit, Selasa (7/5) pagi. Erupsi ini membuat warga panik, karena hampir setahun Gunung Sinabung ini tidak erupsi lagi.

KARO, SUMUTPOS.CO – Setelah vakum kurang lebih setahun, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo kembali bergejolak. Gunung api tertinggi di Sumatera Utara itu mengalami erupsi dahsyat selama 45 menit, Selasa (7/5) pagi.

Letusan ini sontak menggemparkan warga Tanah Karo yang bermukim di sekitar lereng (radius aman), khususnya arah timur dan tenggara. Pasalnya, abu vulkanik tebal berwarna kelabu itu mendadak menyelimuti langit. Cuaca cerah pagi itu berubah gelap.

Detik berikutnya, hujan abu mengguyur sebagian besar wilayah sebelah timur dan tenggara Karo. Kondisi itu membuat warga sempat kaget bercampur panik. Wajar saja, karena hampir setahun belakangan ini Gunung Sinabung tak pernah lagi erupsi. Terakhir, erupsi terjadi dua hari paskalebaran tahun 2018.

Kini Sinabung kembali bergejolak. Erupsi ini yang terjadi di hari kedua puasa kemarin, adalah kali pertama Sinabung erupsi tahun 2019 ini. “Kita jelas merasa ngeri dan takut. Cuaca yang cerah tadi pagi tiba-tiba berubah gelap. Awalnya kami tak mengira gunung meletus. Kami baru sadar setelah abu vulkanik mengguyur,” kata Junedi Sembiring (50), warga Desa Pertumbuken Kecamatan, Barusjahe.

Dikatakan Junedi, saat peristiwa itu, kebanyakan warga sedang bersiap-siap pergi kerja, seperti ke ladang ke kantor dan sebagainya. “Tebal kali abunya, atap rumah, jalan, ladan dan daun tanaman dan tumbuh-tumbuhan berubah jadi putih kehitaman,” katanya.

Beruntung, hujan abu itu tak berlangsung lama. Hingga warga bisa kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. “Kalau pun ada, paling hujan abunya hanya sekitar setengah jam lah. Setelah itu, cuaca kembali normal dan cerah,” tandasnya.

Data dirangkum Sumut Pos dari Pusat Pos Pengamat Gunungapi (PGA) Sinabung di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Gunung Api Sinabung berada di Kecamatan Naman Teran itu mengalami erupsi Selasa (7/5), pukul 07.48 WIB. Tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 2.000 meter. Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, kolom abu teramati berwarna kelabu, dengan intensitas tebal condong ke arah Timur dan Tenggara.

PVMBG memonitor, erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 120 mm, dan durasi sekitar 42 menit 49 detik. Hujan abu cukup tebal saat erupsi, dan distribusi abu vulkanik mengarah ke Barat Daya dari puncak Gunung Sinabung.

“Hujan abu vulkanik jatuh di beberapa desa sekitar Gunung Sinabung dengan cukup tebal,” tegas Dery, petugas PGA saat dihubungi Sumut Pos.

Dipaparkan Dery, berdasarkan pantauan distribusi abu vulkanik, PVMBG telah mengeluarkan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) atau notifikasi terkait dengan aktivitas penerbangan. Notifikasi yang dikeluarkan berstatus warna orange. Ini berarti aktivitas gunung api berpotensi membahayakan penerbangan. VONA yang diperbaharui akan dikeluarkan apabila kondisi telah berubah secara signifikan, atau perubahan status warna terjadi.

“Saat ini Gunung api Sinabung berada pada status level IV atau ‘Awas.’ Rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG – Badan Geologi yaitu, masyarakat atau pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara-Barat, 4 km untuk sektor Selatan-Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan-Tenggara, di dalam jarak 6km untuk sektor Tenggara-Timur serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara-Timur,” ucapnya.

Badan Geologi mengimbau masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai, yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat. “Ini erupsi pertama di tahun 2019. Sejauh ini kegempaan masih terbilang stabil. Kami akan terus memantau perkembangan aktovitas vulkanik gunung Sinabung,” tandasnya.

Sampai kapan Gunung Sinabung akan erupsi? Ditanya demikian, Dery mengaku tak tau. “Kami tidak tau, karena sifat Gunung Sinabung ini sangat unik dan berbeda dengan gunung api lainnya. Kapan dia erupsi dan kapan berhenti tak bisa diprediksi,” tandasnya.

Hingg berita ini dilansir pukul 19.00 WIB, kondisi Gunung Sinabung terpantau stabil dengan permukaan tertutup awan dan abu tebal warna kelabu kehitaman.

Di lokasi terpisah, guna meminimalisir debu vulkanik yang turun, pasca erupsi Gunung Sinabung sangat mengangu kesehatan masyarakat, Armoured Water Canon (AWC) Polres Tanah Karo diterjunkan untuk membersihkan debu vulkanik tersebut.

“Satu unit AWC Polres Tanah Karo, kita perbantukan di lapangan untuk membantu kerja Damkar Pemkab Karo. Berhubung saya dengan KPUD Karo, dan Bawaslu, rapat pleno di Medan. Waka Polres, Kompol Edward Saragih, dan Kabag Ops, Kompol Bagi Ukur Sembiring, yang memimpin di lapangan,” kata Kapolres Tanah Karo, AKBP Benny R Hutajulu.

Selain AWC, personel dan tim medis Polres Tanah Karo juga ditempatkan di sejumlah tempat terpisah, khususnya di desa-desa terdampak. “Selain melakukan penyiraman, personel kita di lapangan juga melakukan pembagian masker, dan sosialisasi terhadap masayarakat. Khususnya untuk menjauhi zona-zona terlarang yang berbahaya bagi keselamatan jiwa,” imbuhnya.

Sementara itu, pasca erupsi Gunung Sinabung kota wisata Berastagi aman dari paparan abu vulkanik. Hal itu dapat terlihat dari tugu Kol Berastagi, Perjuangan serta Pasar Buah (Inti Kota). Aktivitas masyarakat sekitar tidak terganggu, mulai dari anak sekolah hingga perkantoran yang tetap berjalan lancar. Begitu juga pusat sentral pajak Berastagi tetap menjajahan dagangannya kepada konsumen.

“Untung paparan abu vulkanik erupsi Gunung Sinabung tidak sampai ke mari (Berastagi), jika sampai ke sini kita pasti ke walahan juga,” ucap Jos Sitepu warga Berastagi. (deo)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *