• Dinkes Antisipasi Cacar Monyet Masuk Sumut, Bandara dan Pelabuhan Dipasangi Thermoscaner
Dinkes Antisipasi Cacar Monyet Masuk Sumut, Bandara dan Pelabuhan Dipasangi Thermoscaner
  • Dipublikasikan pada: May 15, 2019 Dibaca: 393 kali.

Cacar Monyet


MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga kini belum mengeluarkan surat edaran ke masing-masing provinsi terkait mewabahnya virus cacar monyet (monkeypox virus) di Singapura.

Namun begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut sudah melakukan antisipasi masuknya virus cacar monyet tersebut dengan melakukan pengawasan di Bandara Kualanamu dan Pelabuhan Belawan, Selasa (14/5).

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sumut dr Yulia Maryani menyampaikan, untuk mengantisipasinya, Dinkes Sumut saat ini telah menjalin kerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), khususnya di Bandara Kualanamu dan Pelabuhan Belawan. “Sejauh ini, kita belum menerima surat edaran dari Kemenkes terkait virus monkeypox itu. Tapi kita sudah menjalin kerja sama dengan KKP di bandara,” ungkapnya kepada Sumut Pos, Selasa (14/5).

Yulia menjelaskan, kerja sama ini dilakukan karena KKP memiliki alat berupa thermoscaner atau alat untuk pengukur suhu tubuh. Bila penderitanya berjalan melewati alat itu, maka secara otomatis ia akan terdeteksi. “Sehingga petugas akan langsung memeriksanya secara klinis. Dan kalau memang benar, maka pasien akan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Haji Adam Malik,” jelasnya.

Namun, sambung Yulia, pihaknya sama sekali belum menemukan kasus cacar monyet itu masuk ke Sumut. Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat, terutama yang hendak melakukan perjalanan ke Singapura, agar sedapat mungkin menjauhi sumber penyebarannya.”Gunakan juga masker untuk pencegahannya. Namun yang terpenting adalah, bagaimana terus menjaga daya tahan tubuh tetap bugar,” imbaunya.

Yulia menerangkan, kasus monkeypox ini sempat marak terjadi pada tahun 2017 di Central African Republic, Democratic Republic of Congo, Liberia, Nigeria, Republic of Congo, dan Sierra Leone. Penularan penyakit ini berasal dari hewan ke manusia dengan bentuk mirip cacar pada manusia.

“Meskipun jauh lebih ringan daripada cacar, namun monkeypox ini bisa berakibat fatal. Daerah endemisnya, terutama tersebar di bagian Afrika tengah dan barat, yang merupakan daerah hutan hujan tropis,” terangnya.

Yulia menambahkan, dikarenakan monkeypox mirip sekali dengan penyakit ruam lain, seperti cacar, cacar air, campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis, dan alergi terkait obat, monkeypox hanya dapat didiagnosis secara pasti di laboratorium khusus dengan sejumlah tes yang berbeda.

Karenanya untuk pencegahan perlu diupayakan menghindari kontak dengan tikus dan primata terinfeksi serta membatasi paparan langsung terhadap darah dan daging yang tidak dimasak dengan baik. “Selain itu batasi kontak fisik dengan orang yang
terinfeksi atau bahan yang terkontaminasi harus dihindari. Memakai sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya saat menangani hewan yang terinfeksi dan ketika merawat orang yang sakit, dan menjalani perilaku hidup bersih dan sehat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasubbag Humas Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak yang ditanyai perihal pasien suspect monkeypox di rumah sakit milik Kemenkes ini mengaku belum menemukannya. Namun bila nantinya ada pasien yang datang dengan dugaan cacar monyet, pihaknya telah siap untuk untuk memberikan penanganan. “Sejauh ini belum ada. Tapi kita sudah siap menanganinya, karena kita punya gedung khusus untuk ruang rawat infeksi dengan kapasitas 11 tempat tidur dan SDM yang mendukung,” pungkasnya. (dvs/ila)

loading...
TAGS :