• Pilkada 2020 Dipresikasi Ada 4 Calon, Bakal Lebih Ketat dari Pilkada Medan 2015
Pilkada 2020 Dipresikasi Ada 4 Calon, Bakal Lebih Ketat dari Pilkada Medan 2015
  • Dipublikasikan pada: Jun 14, 2019 Dibaca: 531 kali.

Searah jarum jam: T. Dzulmi Eldin, Akhyar Nasution, Ihwan Ritonga, HT Bahrumsyah.


MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Medan 2020, diprediksi bakal lebih ketat dibanding Pilkada 2015 lalu. Diprediksi, akan muncul empat pasangan calon yang akan bertarung. Begitupun dengan calon independen, diperkirakan juga akan ikut meramaikan kontestasi pesta demokrasi Kota Medan tersebut.

KEMUNGKINAN munculnya empat pasangan calon di Pilkada Kota Medan 2020 ini, terlihat dari konstelasi partai politik yang duduk di DPRD Medan periode 2019-2024. Di mana PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, sama-sama dapat mengusung satu pasangan calon sendiri, tanpa harus berkoalisi.

“Minimal akan ada empat calon. Dimana PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dapat mengusung sendiri calonnya. Atau mereka saling berkoaliasi dengan parpol lain yang ada. Jadi tidak menutup kemungkinan, akan bisa bertambah dua paslon lagi melihat kemampuan parpol lain untuk saling berkoaliasi dan mengusung calon mereka masing-masing,” ujar kata Agus Suriadi, pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) kepada Sumut Pos, Kamis (13/6) malam.

PDI Perjuangan misalnya, hemat dia, sudah punya figur yakni kadernya sendiri, Akhyar Nasution untuk kemudian diusung maju sebagai Medan 1. Begitu juga Dzulmi Eldin yang notabene petahana, dimana banyak didukung parpol pada Pilkada 2015 lalu, dapat diusung kembali dengan berkoalisi bersama sejumlah parpol yang sebelumnya mendukung dia.

“Gerindra paska pemilu kemarin juga menjadi kekuatan sendiri. Bisa saja mereka mengambil keuntungan atas hasil itu, dan mereka evaluasi maka bisa juga mengusung calonnya sendiri. Terlepas apakah parpol-parpol lain ikut berkoalisi atau tidak,” katanya.

Sederhananya, ungkap Agus, konstelasi Pilpres 2019 saat ini, masih mencerminkan koalisi parpol di Pilkada Medan termasuk calon-calon yang bakal diusung. Sehingga minimal calon yang bertarung dua pasangan. “Artinya Gerindra bersama PAN, PKS dan yang lain atau PDI-P dengan Golkar, NasDem dan yang lain. Atau bisa juga kemudian beberapa parpol yang tidak sejalan, membentuk sendiri untuk mengusung calonnya,” katanya.

Agus juga mengutarakan, tidak tertutup kemungkinan calon-calon independen bakal bermunculan di Pilkada Medan 2020. “Jadi kalau lihat peta kayak begini, minimal akan ada dua calon tetapi bisa saja bertambah jadi empat calon termasuk calon independen,” katanya.

Mewakili suara masyarakat Medan, kehadiran banyaknya calon yang akan muncul nantinya sangat baik bagi demokrasi di kota ini. Apalagi jika melihat besarnya jumlah penduduk Medan, dan banyaknya orang-orang hebat yang berada di luar kota ini, tak menutup kemungkinan bahwa calon independen akan muncul nantinya. “Pilkada 2015 yang lalu bisa kita lihat kenapa animo masyarakat rendah untuk menggunakan hak pilih. Salah satunya karena figur yang muncul cuma sedikit, karena tidak adanya alternatif calon. Saya pribadi sangat mendorong semua figur atau tokoh yang merasa punya potensi dan mampu memajukan Medan, silahkan saja,” pungkasnya.

Akademisi UMA, Warjio juga sependapat dengan analisis Agus Suriadi. Menurutnya, kemungkinan empat paslon yang muncul nantinya sangat terbuka lebar. Apalagi melihat parpol lain berdasarkan hasil pemilu kemarin, dinilainya sangat percaya diri untuk mengusung kekuatan baru dengan kader mereka masing-masing. “Kalau saya berpendapat, jika dari konstelasi politik yang ada bisa muncul tiga calon berdasarkan koalisi parpol. Ditambah lagi kemungkinan ada calon alternatif nonpartai, bisa juga ikut bertarung dalam Pilkada Medan mendatang. Apalagi kan tahapannya masih sangat panjang, tentu dapat mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang,” katanya.

Warjio juga memprediksi, akan munculnya tokoh muda dalam Pilkada Medan 2020 ini. “Akan banyak sekali tokoh muda yang akan tampil sebagai calon wali kota ataupun wakil wali kota di tahun depan. Banyaknya tokoh muda bermunculan saat ini seakan sudah menjadi tren politik untuk saat ini. Dan tidak menutup kemungkinan, keberhasilan banyaknya caleg muda terpilih pada Pemilu 2019 yang lalu akan berlanjut pada Pilkada 2020,” sebut Warjio.

Menurut Warjio, hal itu bisa terjadi karena tingginya keinginan masyarakat untuk perubahan yang terjadi di Kota Medan. Menurutnya, asyarakat sudah sangat jenuh dan sangat kecewa atas kinerja pejabat saat ini. “Berangkat dari besarnya keinginan masyarakat atas perubahan di Kota Medan itu, mendorong masyarakat untuk memberikan dukungannya kepada wajah-wajah baru. Dan saat ini, kaum milenial dinilai lebih potensial untuk memberikan perubahan dan kemajuan bagi Kota Medan. Hal itu sudah cukup terbukti pada Pemilu 2019 kemarin,” bebernya.

Prediksi munculnya lebih dari dua pasangan calon di Pilkada Medan, sejalan dengan keinginan sejumlah parpol yang ingin mengusung kadernya sendiri sebagai bakal calon. Seperti Partai Golkar, meski cuma memiliki empat kursi di DPRD Medan pada periode 2019-2014 nanti, partai berlambang pohon beringin ini tetap pede untuk mengusung kadernya. “Tentu kami akan memprioritaskan kader asli Golkar sendiri untuk kami calonkan. Dengan catatan, harus punya kompetensi dan elektabilitas yang cukup,” kata Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tanjung kepada Sumut Pos, Kamis (13/6).

Hingga saat ini, kata Doli, DPP Partai Golkar sedang mempersiapkan penyempurnaan Juklak terkait Pilkada 2020. Sambil menunggu Juklak tersebut selesai, DPD Partai Golkar Sumut juga mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Pilkada di 23 kabupaten kota se-Sumut. “Kami sudah mulai memetakan potensi kekuatan politik di daerah-daerah itu. Dengan modal 84,8 persen menjadi pimpinan di DPRD Kabupaten/Kota se-Sumut, kami punya target bisa mengkonversinya menjadi kemenangan di Pilkada nanti. Tentunya hal itu juga akan sangat tergantung dengan figur calon yang akan kami usung,” kata Ahmad Doli.

Diminta untuk menyebutkan nama kader Golkar yang bakal diusung pihaknya untuk maju dalam Pilkada Kota Medan tahun depan, Ahmad Doli mengatakan, partainya belum menentukan nama yang akan diusung. “Kalau nama kadernya belum bisa kami sebutkan sekarang, masih akan kami bicarakan di internal partai,” ujarnya. Mengingat jumlah kursi Partai Golkar yang mengharuskan pihaknya mencari partai koalisi, Ahmad Doli optimis akan dapat berkoalisi dengan partai-partai lainnya.

Disisi lain, Partai Demokrat justru membuka pintu bagi tokoh yang ingin bertarung di Pilkada Kota Medan. Menurut Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu, partainya tidak ingin memaksakan agar kadernya maju sebagai calon walikota atau wakil walikota. Menurutnya, mereka akan mengusung siapa saja yang dinilai punya kualitas untuk menjadi Wali Kota Medan.

“Tentu kami akan berusaha dan memprioritaskan kader kami sendiri, setidaknya untuk calon wakil wali kota, tapi kami tidak mau memaksakan hal itu. Bila memang ada tokoh di luar partai kami yang kami nilai punya kualitas dan pantas untuk diusung, kenapa tidak,” ucap Herri kepada Sumut Pos.

Calon yang berkualitas, menurutnya adalah yang memiliki ketegasan, kejujuran dan keberanian. “Hal itulah yang tidak kita dapatkan dari pemerintah Kota Medan saat ini. Kita perlu perubahan yang membuat Kota Medan bisa menjadi maju, dan kita butuh orang-orang yang tegas, jujur dan berani,” tegasnya.

Terkait nama yang akan diusung partainya dalam Pilkada tahun depan, Herri menyebutkan belum memiliki nama dari kadernya sendiri. “Belum ada nama yang muncul, tapi masih bayak waktu untuk itu. Besar kemungkinan akan muncul nama kader yang bisa diusung oleh Partai Demokrat,” tutupnya. (prn/mag-1)

TAGS :
loading...