PHRI Dorong Danau Toba Menuju Wisata Halal

Turis Malaysia Keluhkan Sajian Makanan

RUMAH MAKAN: Kenderaan melintas di depan rumah makan Muslim di Jalan Sisingamangaraja Parapat, Simalungun.
Triadi Wibowo

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mendorong pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk menerapkan wisata halal di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba. Ketua PHRI Sumut, Denny S Wardhana mengatakan, pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu melakukan sosialiasi dan edukasi kepada pelaku usaha yang bergerak di bidang pariwisata di danau terbesar di Asia Tenggara itu.

“Sebelum dilaksanakan, perlu dilakukan edukasi dulu. Dalam arti, perlu diketahui daerah wisata seperti apa wisata halal itu. Konotasi wisata halal, bukan dalam hal agama saja,” sebut Denny kepada Sumut Pos, Rabu (7/8) siang.

Denny menjelaskan, wisatawan mancanegara (Wisman) berkunjung ke Danau Toba didominasi atau 50 persen lebih berasal dari Malaysia. Sudah pasti memeluk agama Islam. Pasar besar tersebut harus diperhatikan pelaku usaha di sana. “Wisata halal, harus haiginis cara penyanyiannya. Bumbunya harus halal, perlu edukasi secara personal sehingga tidak terjadi penolakan,” jelas Denny.

Ia mengungkapkan, dari fakta di lapangan, turis berumpun melayu itu banyak mengeluhkan soal penyanyian makanan hingga fasilitas untuk ibadah salat. “Makanan halal, sering dipermasalahkan wisatawan Malaysia itu. Diberitahukan dan disosialisasikan lah, wisata halal itu apa? Karena, wisatawan muslim mencari yang halal. Pastinya, halal itu haiginis dan sehat. Itu pandangan beberapa teman-teman dan beberapa wisatawan,” jelas Denny.

Sebelumnya, PHRI Sumut juga meminta pemerintah agar menormalkan kembali harga tiket pesawat domestik. Pasalnya, indikator dalam mengembangkan pariwisata, selain infrastruktur juga harus didukung dengan terjangkaunya biaya transportasi menuju objek wisata tersebut.

Jika tidak, maka akan berdampak pada tidak maksimal capaian target dalam mendatangkan wisatawan dengan jumlah besar. “Kalau diperbaiki Danau Toba dan dipromosikan besar-besaran, namun harga tiket pesawat tidak turun, sama saja itu,” ucap Denny.

Dia juga mengungkapkan, dampak tiket pesawat masih tergolong mahal ini, sangat dikeluhkan Association Of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) karena terjadi penurunan jumlah kunjungan. Tidak itu saja, PHRI pun mengalami penurunan jumlah hunian hotel. “Sangat berdampak dengan harga tiket pesawat domestik. Jadi gini, tahun lalu PHRI, Asita dan Kementerian Pariwisata mengadakan roadshow 6 titik ke Indonesia ‘Ayo ke Toba’. Tahun lalu, kita buatkan paket wisata dengan harga spesial. Paketnya sangat-sangat murah. Kita ingin mendatangkan orang ke Danau Toba. Tidak mau mengambil keuntungan yang besar. Cukup berhasil,” jelas Denny.

Kemudian, paket wisata murah terganjal dengan kondisi harga tiket pesawat domestik yang mahal. Bila hotel diberikan harga dengan murah, namun harga tiket pesawat tidak bisa diberikan dengan harga murah, kunjungan wisatawan langsung turun drastis atau ngedrop. “Sekarang tinggal ke Danau Toba kunjungan orang bekerja. Sudah ada dibiayai. Untuk liburan terasa turunnya. Lebaran saja, kurang berhasil juga,” tutur Denny.

Dampak tiket pesawat mahal, menurutnya bukan hanya hotel atau penginapan yang kena imbas, tapi, suplayer sayur, daging, buah-buahan dan penjual souvenir juga merasakan. “Jadi, dampaknya luas terhadap industri pariwisata. Kita harapkan normal kembali lah. Tidak sejor-joran tahun lalu. Kalau pergi harga tiket pesawat Rp1,6 juta masih mahal itu. Harus bisa dimenej, saat liburan lebaran naik, di luar itu turun, saat liburan anak sekolah naik. Kemudian turun lagi. Kalau ini kan nggak, rata semua. Dan tidak ada turun-turunnya,” ungkap Denny.

Namun begitu, Denny mengungkapkan, PHRI bersama pemerintah tetap bersinergi dan siap bekerjasama untuk membantu mengembangkan Danau Toba menjadi objek wisata kelas dunia yang wajib untuk dikunjungi wisatawan mancanegara (Wisman). “Kehadiran pemerintah di Danau Toba membuat Danau Toba lebih baik lagi. Ditambah lagi, pembenahan SDM (Sumber Daya Manusia). Menurut saya sedang pertumbuhan hotel dan restoran di Danau Toba. Apalagi, masih dalam pembangunan ya,” jelas Denny.

Makanya menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah membangun untuk di Danau Toba sudah betul. Sekarang Kementerian Pariwisata tengah menjalani program pelatihan SDM.”Ada melibatkan kita juga dari PHRI,” ucap Denny.

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau terbesar di Asian Tenggara itu, menurut Denny disertai aktrasi. Karena, wisatawan tertarik dengan hiburan yang disajikan. “Yang pasti daerah wisata itu, harus ada aktrasi. Kemudian, terintegrasi semuanya. Karena, wisatawa itu dia itu mau liburan. Sudah mempersiapkan dana untuk liburan tersebut,” sebut Denny.

Denny menjelaskan, Danau Toba mempunyai potensial pariwisata yang besar. Karena, biaya berkunjung ke Danau Toba lebih murah ketimbang ke Bali. Secara ekonomi, poin itu menjadi keunggulan bagi Danau Toba sendiri. “Rata-rata satu turis itu minial menghabiskan per hari 100 Dolar AS. Kalau dikalikan Rp14 ribu kurang lebih Rp1,4 juta. Di luar penginapan, itu biaya untuk makan, untuk oleh-oleh. Kalau ke Danau Toba Rp1,4 juta pasti lebih kan. Coba ke Bali, sehari Rp 1,4 juta kurang. Bagaimana kita orang atau wisatawan bisa mengeluarkan uang itu,” kata Denny.

Dengan kondisi itu, Denny optimisi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mampu menarik kunjungan wisman ke Danau Toba dengan target 1 juta wisman. Pastinya, wisatawan juga memperhitungkan biaya perjalanan. “Kalau dikalikan 100 US dolar dengan wisman berkunjung 1 juta orang sudah berapa uang berputar disitu. Berarti daerah disitu maju, tapi mengarahkan kesitu tidak semua membalikan telapak tangan. Harus ada proses,” tandasnya. (bbs/gus)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *