Petani Deliserdang Produksi Padi 37.529 Ton

PANEN: Petani saat memanen komoditi padi sawah secara manual di Desa Lama, Kecamatan Hamparanperak baru-baru ini.

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Kepala Dinas Pertanian Deliserdang, Syamsul Bahri melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Abdul Latif menyebut bahwa produksi komoditi padi sawah dari 22 kecamatan yang ada di Deliserdang selama bulan Agustus 2019 sebanyak 37.529 ton (dalam bentuk Gabah Kering Giling ‘GKG’) dari luas panen 6.340 hektare (ha).

“Selama 4 bulan yaitu Juni, Juli, Agustus dan September 2019, kita mengestimasi produksi komoditi padi sawah di Deliserdang sebanyak 150.360 ton dari luas panen 25.401 ha,” kata Abdul Latif, di Lubukpakam.

Dijelaskan, produksi padi bulan Agustus 2019 dari 22 kecamatan di antaranya Kecamatan Gunungmeriah luas panen 0=produksi 0, STM Hulu 32 ha=164 ton, Sibolangit 54 ha=276 ton, Kutalimbaru 89 ha=506 ton, Pancurbatu 57 ha=333 ton, Namorambe 87 ha=482 ton, Birubiru 76 ha=432 ton, STM Hilir 23 ha=134 ton, Bangunpurba 4 ha=21 ton, Galang 389 ton=2.361 ton, Tanjungmorawa 242 ha=1.451 ton dan Patumbak 24 ha=135 ton.

Kemudian Kecamatan Delitua luas panen 1 ha=produksi 6 ton, Sunggal 132 ha=775 ton, Hamparanperak 320 ha=1.884 ton, Labuhandeli 873 ha=5.100 ton, Percut Seituan 813 ha=5.009 ton, Batangkuis 3 ha=18 ton, Pantailabu 745 ha=4.391 ton, Beringin 920 ha=5.686 ton, Lubukpakam 706 ha=4.136 ton dan Kecamatan Pagarmerbau 750 ha=4.505 ton. Untuk produksi bulan September 2019, Abdul Latif mengestimasi atau memprediksi komoditi padi sawah sebanyak 63.746 ton dari luas yang akan dipanen 10.768 ha di 22 kecamatan. “Estimasinya 1 ha dapat menghasilkan komoditi padi sawah rata-rata sebanyak 5,8-6 ton,” katanya.

Menurutnya, pada bulan Juli yang lalu produksi komoditi sawah sebanyak 28.405 ton dari luas yang sudah dipanen 4.794 ha di Deliserdang. Sementara pada Juni yang lalu produksi komoditi padi sawah sebanyak 20.680 ton dari luas panen 3.494 ha.

“Kita merekap produksi komoditi padi sawah setiap bulannya di 22 kecamatan. Setiap bulannya tidak serentak daerah-daerah yang di kecamatan melakukan pemanenan padi, jadi teknisnya bertahap. Kan tidak mungkin setiap bulan melakukan pemanenan. Makanya setiap bulan selalu berubah-ubah hasil rekapitulasinya,” imbuh Abdul Latif. (btr)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *