Berdandan Cantik, Danau Toba Bersiap Gaet Turis

Foto: Johnny Siahaan/Akun Facebook Jim Siahaan
TORTOR: Atraksi Mangalahat Horbo, di sebuah perkampungan di Tanah Batak. Budaya suku Batak menjadi salahsatu daya tarik turis menikmati pariwisata di kawasan Danau Toba.

Pernah jaya di tahun 80-an, meredup tahun 90-an, wisata Danau Toba kini tengah sibuk berdandan. Masuk program 10 Bali Baru, kawasan danau raksasa yang konon hasil letusan dahsyat supervolcano Toba sekitar 74.000 tahun lalu ini, berbenah di berbagai lini. Ia diproyeksikan menggaet turis sebanyak-banyaknya. Bagaimana progress-nya?

“Tao Toba, rajani sudena tao” (Danau Toba, raja semua danau). Itulah sepotong lirik syair seniman Batak, mengungkapkan puja-puji atas keindahan danau vulkanik terbesar di dunia itu. Para penyair nan melankolis itu menyebut Danau Toba tak terlupakan. ‘Palambok ate-ate, palambok pusu-pusu’ (penenang hati, penenang jiwa, Red)!” kata mereka syahdu.

Benarkah Danau Toba sebegitu mengagumkan?

Dari sisi luas, Danau Toba sebenarnya bahkan tidak masuk 10 danau terbesar di dunia. Namun ia memiliki pesona yang kuat. “Alamnya memikat, historis kalderanya kuat,” puji Menteri Pariwisata Arief Yahya, belum lama ini.

Danau Toba memiliki panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. Jika dirata-ratakan Danau Toba sebagai persegi panjang, panjang garis pantainya mencapai 260 km dan luas permukaan air 1.130 km persegi.

Dikutip dari wikipedia, geolog Belanda van Bemmelen menjadi yang pertama berteori, bahwa Danau Toba adalah peninggalan dari letusan gunung berapi. Empat peneliti lain menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru lagi, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.

Temuan geologi mengisahkan, letusan raksasa itu mengakibatkan angkasa gelap gulita selama 5 tahun. Bumi diselubungi asap dan debu. Terjadi jaman es yang panjang, menyebabkan hampir seluruh mahluk hidup mati. Manusia tinggal seribuan orang, tersisa di tengah benua Afrika di tempat yang sekarang disebut Namibia. Dari sanalah kemudian manusia bermigrasi puluhan ribu tahun ke sekeliling bumi.

Historis supervulcano Toba ini menjadi salahsatu alasan Geopark Kaldera Toba disetujui jadi anggota UNESCO Global Geopark (UGG), awal September 2019 baru lalu. Sementara airnya yang jernih dipadu budaya Batak yang penuh kisah mitologi, menjadi pemikat turis menikmati pesonanya.

Kejayaan wisata Danau Toba tercatat pernah terjadi tahun 1997. Menurut mantan Menteri Pariwisata, Mari Elka Pangestu, saat itu jumlah wisatawan mancanegara ke Danau Toba mencapai angka tertinggi, yakni 800.000 orang. Padahal saat itu bahkan belum ada bandara di sana. “Semua melalui jalur darat. Membuktikan pesona alam, budaya, atau wisata khususnya luar biasa,” kata Mari, beberapa waktu lalu.

Foto: Johnny Siahaan-Instagram
KALDERA TOBA: Kaldera Toba difoto dari Singgolom, Tampahan, Lintong Nihuta, Tobasa.

R. Siallagan, pedagang souvenir di Huta Siallagan, Kecamatan Simanindo Pulau Samosir, mengakui kejayaan tersebut. Kata wanita berusia 60 tahun itu, era 1980 hingga 1990-an, turis mancanegara khususnya bule (kulit putih, Red) biasa terlihat lalu-lalang di Pulau Samosir. ”Tiap jam ada saja yang lewat. Baik jalan kaki, naik sepeda, atau naik kapal. Gara-gara bule-bule itulah, awak jadi pintar bilang: ‘Halo Mister, how are you, whats your name, where are you going’. Mereka selalu ramah. Senyum-senyum menjawab ‘halo too’. Tak keberatan memberitahu nama dan tujuan. Padahal, apalah pentingnya sama awak! Hahaha…” kekehnya saat ditemui di kios souvenirnya akhir Agustus lalu.

Kehadiran para turis bule di era 80-an, diakuinya sebagai pemicu pertumbuhan pedagang souvenir dan jumlah hotel di Parapat, Tomok, dan Tuktuk, dan Huta Siallagan. “Sebelumnya, warga sini hidup dari bertani, beternak, menjaring ikan tawar, atau menjadi pegawai pemerintah,” ungkapnya.

Pascareformasi, jumlah turis bule pelan-pelan menurun. “Masih banyak sih, khususnya di Tuktuk. Tapi tidak sebanyak dulu. Kami dengar, sejak tak ada lagi penerbangan langsung dari Eropa ke Medan. Entahlah. Kurang paham juga,” cetusnya.

Di saat jumlah turis bule tadi menurun, turis domestik justru bertambah. Perekonomian nasional yang membaik, menjadi pemicunya. Bedanya, kata Siallagan, turis domestik umumnya datang di akhir pekan atau akhir tahun saja. Dan kurang berjiwa petualang. “Turis kita pengennya nginap di hotel, main air, kemudian pulang. Beda dengan turis bule yang senang menjelajah alam atau pedesaan,” kata Siallagan.

Pejabat Kemenpar, Iyung Masruroh, juga mengakui wisatawan mancanegara yang menggemari pariwisata Danau Toba kebanyakan berasal dari Eropa, terutama Belanda. Salah satu alasannya, Danau Toba punya daya tarik alam dan budaya yang bernuansa petualangan yang cukup menantang.

Foto: Johnny Siahaan/Akun Facebook Jim Siahaan
WISMAN: Turis mancanegara turun dari kapal penyeberangan umum di Danau Toba, dari Tigaraja menuju Samosir, belum lama ini.

Lantas, mengapa belakangan jumlah wisman Eropa menurun, beda dengan Bali yang semakin moncer?

Suriati, pengusaha biro travel di Medan, mengatakan Danau Toba memiliki modal kuat menjadi wisata kelas dunia. “Perairannya luas, alamnya indah, udaranya sejuk dan bersih. Dihuni empat puak suku Batak yang memiliki budaya unik dan banyak kisah legenda. Bagi wisatawan Eropa penggemar alam dan budaya suku asli, itu cukup,” puji wanita yang sudah 25 tahun bergelut di dunia pariwisata ini.

Tetapi jika mengincar wisatawan lebih banyak lagi, berbagai amenitas dan atraksi harus dibenahi. “Intinya, Danau Toba itu perlu fasilitas pendukung. Kalau sekarang, atraksi masih kurang. Paling main wisata air, kunjungi situs budaya, dan nikmati alam. Malam hari, turis bingung mau ngapain. Misalkan aku bawa uang Rp20 juta ke Pulau Samosir untuk uang jajan, nggak bisa habis. Kalau di Bali, sekejab saja habis itu uang,” kekehnya.

Untuk itu, ia mengusulkan investor membangun fasilitas karaoke, diskotik, villa-villa kelas dunia, restoran-restoran, massange, gerai es krim, dan lainnya. Atraksi seperti di Thailand, Bali, Macao, dan sebagainya, menurutnya bisa ditiru. Misalnya, paralayang, paramotor, speeboat keliling danau toba, kuda, trekking, naik pesawat amfibi, jalur sepeda, naik gunung, ecotourism, sebagainya.

Ponna Sihaloho, pemandu wisatawan ke Danau Toba, mengungkapkan hal serupa. Kata dia, para turis yang dibawanya –baik wisman maupun domestik–, hampir semuanya memuji keindahan Danau Toba. “Alam luar biasa dan oke punya. Semua tamu yang saya pandu mengakui itu. Saya sendiri sudah melanglang buana ke berbagai negara, termasuk Swiss. Menurut saya, Danau Toba masih yang terindah. Cuma, memang kurang penataan,” cetusnya, Selasa (19/9/2019).

Kelebihan wisata Eropa, lanjutnya, adalah kawasan yang tertata rapi. Didukung infrastruktur yang bagus, atraksi wisata, dan bersih. Bersih ini menjadi perhatian penting, karena banyak  tamu yang mengeluhkan soal sampah. “Selain kebersihan, mental pedagang di daerah wisata perlu diubah. Bikin harga jangan semau gue. Nanti tamu kapok, merasa ditipu. Ini yang harus dibenahi pemerintah daerah. Selain itu perbanyak atraksi wisata. Wisman tak masalah dengan harga tiket, asal atraksinya memang bagus. Trus, benahi dan perbanyak objek unggulan yang bisa dikunjungi,” sarannya.

Untuk pemda, ia menyarankan memperbanyak event wisata, seperti Festival Danau Toba, Pesta Rondang Bintang, dan sebagainya. “Tapi dikemas bagus ya. Jangan asal jadi. ‘Kan wisatawan itu mendatangkan devisa negara. Jangan bikin mereka kapok,” katanya.

Ditanya soal pembangunan wisata Danau Toba di berbagai lini, Ponna memujinya. Ia menyebut, sudah berada dalam track record yang benar. “Dengan banyaknya fasilitas yang dibenahi, tentu turis semakin nyaman. Tapi tolong harga tiket pesawat udara dikendalikan. Kalau tetap mahal, wisatawan pikir-pikir untuk datang,” sarannya.

Budayawan Batak, Jim Siahaan, saat diwawancarai mengatakan, Tanah Batak memilik banyak kisah yang sangat layak jual. “Tinggal dinarasikan. Di luar negeri, setting film Sound Of Music saja laku dijual dalam paket tour wisata. Rumah Hobbit yang terkenal di film Lord of The Ring, pun laris manis jadi destinasi wisata. Apalagi Danau Toba yang punya sejarah supervulcano yang begitu dahsyat,” katanya.

Foto: Johnny Siahaan/Akun Facebook Jim Siahaan
SIGALE-GALE: Turis mancanegara berfoto bersama para penari Tortor di dekat Patung Sigale-gale, Simanindo, Samosir. Sigale-gale adalah salahsatu legenda orang Batak, yang menceritakan kisah seorang putra kesayangan Raja yang meninggal, dihidupkan kembali karena kesedihan sang raja.

Benahi Infrastruktur dan Amenitas

Para ekonom mengakui, negara berbasis pariwisata cenderung tahan terhadap gejolak ekonomi. Tak ayal, sejumlah negara berlomba-lomba menggalakkan pariwisata sebagai kontributor devisa negara. Termasuk pemerintah Indonesia. Apalagi, Indonesia gudangnya alam yang super indah dan budaya yang beragam.

Agar fokus, pemerintah melalui Kemenpar memilih lima destinasi pariwisata nasional menjadi prioritas dari program ‘10 Bali Baru’, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Namun, bagaimana caranya? Wisata Bali toh tidak ujuk-ujuk sukses mendatangkan jutaan wisatawan hanya dalam tempo 3-5 tahun. Ada proses puluhan tahun hingga menjadi destinasi wisata yang lengkap seperti sekarang. Danau Toba misalnya, tak mungkin disulap menyamai Bali dalam hitungan 2-3 tahun.

Pemerintahan Joko Widodo optimis, percepatan bisa dilakukan. Ke depan, kelima destinasi tersebut akan dibangun menggunakan anggaran pemerintah sebesar 9,35 triliun. Strategi menarik wisman adalah mengembangkan atraksi-atraksi baru dan aksesibilitas.

Untuk Danau Toba, tahun 2019 ini target wisatawan ke Sumut dipatok 1 juta wisman.  Untuk itu, sejumlah infrastruktur dibenahi. Pertama akses. Catatan Sumut Pos, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerjasama dengan Menteri Pariwisata, telah membenahi akses ke Danau Toba dari udara, darat, dan air.

Jalur udara, tersedia Bandara Internasional Kualanamu Medan, yang ditopang oleh Badara Silangit dan Bandara Sibisa. Kapasitas penerbangan ditambah dalam dan luar negeri. Bahkan transportasi daring seperti Gojek dan Grab sudah masuk ke kawasan Danau Toba, berikut segala fasilitasnya.

Foto: Istimewa
GERBANG TOL: Direktur Pengembangan Niaga Jalan Tol Nasional Adrian Prihatomo, Pelaksana Harian Jalan Nasional Bambang P dan Direktur Tekhnis dan Operasional JMKT Agus Choliq serta lainnya ketika membuka gerbang tol Tebingtinggi-Sei Rampah, Senin (24/12) pagi pukul 08.00 WIB.

Jalur darat, sejumlah jalan inspeksi diperluas, jalan tol Medan-Pematangsiantar dibangun (sudah selesai sampai Tebingtinggi), membangun jalan lingkar di sepanjang jalan Danau Toba (Samosir). Presiden Jokowi khusus meminta agar proyek ring road itu tuntas 2019. “Saya minta kementerian terkait untuk segera merealisasikan pembangunan jalan lingkar Danau Toba. Kalau jalannya tidak bagus, turis tidak mau datang,” sebut Jokowi.

Moda transportasi baru yakni kereta api Medan-Parapat, sedang dalam tahap perencanaan. Tinggal menyambungkan dari Pematangsiantar.

Jalur penyeberangan danau, pemerintah membenahi sejumlah dermaga pelabuhan di Danau Toba, membangun kapal ferry standar internasional, mengeruk Tano Ponggol di Panguruan agar bisa dilintasi Keliling Samosir, sebagainya.

Sebagian proyek infrastruktur itu sudah selesai. Sebagian masih progres. Sebagian masih tahap perencanaan.

Di samping pembangunan infrastruktur baru, infrastruktur lama tetap beroperasi. Jalur-jalur lama kapal penumpang umum tetap melayani penyeberangan dari berapa dermaga kecil, seperti Balige, Ajibata, , Haranggaol dan Tiga Raja, dengan tujuan ke Onan Runggu, Nainggolan, Mogang, Simanindo, Pangururan dan Tomok (Lopo Parindo). Ferry penyeberangan milik swasta –KMP Tao Toba I dan KMP Tao Toba II—juga tetap beroperasi.

Untuk amenitas, Kemenpar melalui BPODT, membangun satu amenitas baru kelas dunia di atas lahan seluas 400 hektare (ha) di Sibisa Parapat. Namanya The Kaldera Toba Nomadic Escape. The Kaldera memiliki keunggulan berkelas dunia yang bisa dinikmati bagi wisatawan baik nusantara atau mancanegara yang datang. Fasilitasnya berupa glamour camping, resort, hotel, dan lapangan golf. Nantinya juga akan dibangun Kaldera Ampiteathre, Kaldera Plaza, Kaldera Stage, hingga Kaldera Hill.

Kemenpar berharap fasilitasnya lengkap, layaknya Nusa Dua di Bali. Dukungan mitra swasta sangat diharapkan.

Amenitas The Kaldera ini melengkapi areal perhotelan di Tuktuk, Samosir, yang sudah lebih dulu eksis.

Foto: Istimewa
MENINJAU: Menpar Arief Yahya saat meninjau pembangunan The Kaldera di Sibisa, Kabupaten Toba Samosir, Jumat (19/7/2019) lalu.

Sementara itu, sejumlah geosite yang ada di tujuh kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo dan Samosir, ikut dibenahi. Seperti Sipisopiso-Tongging (Karo), Silalahi-Sabungan (Dairi), Haranggaol (Simalungun), Sibaganding (Simalungun), Taman Eden (Toba Samosir), Batu Basiha-TB Silalahi Balige (Toba Samosir), Situmurun (Toba Samosir), Hutaginjang (Tapanuli Utara), Muara Sibandang (Tapanuli Utara), Sipincur (Humbanghasundutan), Bakkara-Tipang (Humbanghasundutan), Tele (Samosir), Pusukbuhit (Samosir), Hutatinggi Sidihoni (Samosir), Ambarita-Tuktuk-Tomok (Samosir), Danau (pemersatu seluruh kabupaten sekawasan Danau Toba).

Puluhan situs lainnya juga mendapat perhatian, seperti Desa Wisata Tomok, Taman Wisata Iman Sitinjo dan Bukit Indah, Pantai Paropo, Taman Labirin, Huta Ginjang, Taman Sipinsur, Air Terjun Lae Mbilulu, Kebun Bunga Sapo Juma Tongging, Pusuk Buhit, dan situs lainnya di sekitar Danau Toba, yang mudah diakses dengan kendaraan ataupun berjalan kaki.

Selain itu, tiga desa dikembangkan Kemenpar menjadi Homestay dan Desa Wisata’. Yakni Desa Wisata Jangga Dolok, Desa Wisata Sigapiton.

Untuk atraksi man made (buatan), Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) menyiapkan event-event yang melibatkan komunitas dan masyarakat. Penampilan seni digelar setiap minggu. Komunitas yang terlibat adalah sanggar seni di seputar Danau Toba. Gelaran seni itu dilakukan di dua spot. Di depan Museum Geopark-Parapat dan di Balige.

Event lainnya seperti kayaking, sporttourism triathlon, lomba sepeda juga digelar. Plus mendukung event yang selama ini sudah eksis, seperti Festival Danau Toba, Pesta Rondang Bittang, Oang-Oang, Festival Buah dan Bunga, atraksi Tortor dan Sigale-gale di Tomok, Silalagan, dan Simanindo, dan sebagainya.

Sebagai pendukung, masyarakat digalakkan agar bersih dan suka senyum. “Semua itu dilakukan demi mengangkat kembali imej Danah Toba dari middle low ke middle up. Semua potensi tentu harus dikelola dengan manajemen dan fasilitas pendukung yang baik,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Masuknya Danau Toba menjadi destinasi wisata superprioritas, mendapat dukungan dari Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi. Menurut Gubsu, ada 3 prioritas yang akan dilakukan  Pemprov Sumut terkait pariwisata Danau Toba. Yakni penguatan budaya di daerah kawasan Danau Toba. Mengupayakan transportasi dari dan menuju Danau Toba. Dan penyediaan fasilitas pendukung wisatawan yang akan datang. Misalnya rumah makan, hotel, money changer, dan lain sebagainya.

“Hal itu dilakukan agar wisatawan mau datang dan berlama-lama di satu kawasan wisata,” katanya.

Foto: Ares Jonekson Saragi/Akun Facebook Jim Siahaan
WISMAN: Turis mancanegara menonton atraksi Tortor di Simanindo, Samosir, Sumatera Utara. Menurut Kemenpar, rata-rata wisman di Indonesia menghabiskan sekitar 1.220 dolar AS per orang per kunjungan.

Seberapa Besar Efek Ekonominya?

Seberapa besar sih efek ekonomi pariwisata terhadap negara dan masyarakat?

Catatan Kemenpar RI, tahun lalu devisa yang diperoleh negara Indonesia dari sektor pariwisata tercatat mencapai 19,29 miliar dolar AS. Diproyeksikan mengalahkan devisa dari sektor batu bara dan kelapa sawit. Tahun ini, Kemenpar menargetkan devisa pariwisata bisa tembus 20 miliar dolar AS.

Berdasarkan World Travel & Tourist Council (WTTC) pada 2018, pertumbuhan pariwisata menduduki peringkat ke-9 tercepat di dunia. Secara regional, kata Menpar Arief, pariwisata Indonesia tahun lalu tumbuh 12,58 persen di atas Malaysia, Singapura, dan Thailand. Namun, masih kalah jauh dari Vietnam yang tembus 19,9 persen.

Selama 2014-2018, sektor kunjungan wisman baru tumbuh 67,6 persen atau dari 9,4 juta wisman tahun 2014 menjadi 15,8 juta pada 2019. Padahal pada tahun 2019, kunjungan wisman ditargetkan bisa tembus 20 juta orang.

Meski demikian, pemerintah bersikukuh target devisa 20 miliar dolar AS bisa tercapai dengan kualitas wisman yang datang ke Indonesia. Dari lima destinasi wisata superprioritas, pemerintah menargetkan tambahan 6 juta kunjungan. Dengan tambahan 6 juta kunjungan, diproyeksikan akan membawa tambahan devisa sekitar 7,3 miliar dolar AS.

Rata-rata wisman di Indonesia menghabiskan sekitar 1.220 dolar AS per orang per kunjungan. Angka US$ 1.220 per kunjungan itu sudah gabungan antara wisman dari 19 pintu utama imigrasi sejumlah 13,3 juta wisman, plus 2,71 juta wisman dari pintu lainnya. Termasuk dari festival-festival cross border. Maka totalnya adalah 15.81 juta wisman.

Dari kawasan Danau Toba, pariwisata terbukti memberikan impact positif bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sepanjang tahun 2017, PAD 8 kabupaten di sekitar Danau Toba sekitar Rp942,4 miliar. Angka ini naik 71,4 persen dari 2016. Angka riil dari PAD 2016 adalah Rp549,9 Miliar.

Impak lebih luas diterima Sumatera Utara pada 2018. Sebab pergerakan wismannya 301.035 orang atau surplus 39.299 orang dari tahun 2017. “Ada potensi value ekonomi di masa mendatang. Dengan begitu, masyarakat kini memiliki jaminan kesejahteraan dari aktivitas pariwisata di Kawasan Danau Toba. Lebih luas, Pemkab di sana juga mendapat impact bagus melalui Pendapatan Asli Daerah,” kata Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar, Lokot Ahmad Enda, beberapa waktu lalu.

Foto: Johnny Siahaan/Akun Facebook Jim Siahaan
TORTOR BATAK: Sejumlah pria Batak marnortor dengan mengenakan Ulos Batak, plus penutup kepala dari Ulos yang dililit, dalam sebuah acara adat Batak di Pusuk Buhit Samosir, tahun 2018 lalu. Budayawan Batak, Jim Siahaan mengatakan, pariwisata Danau Toba mesti mempertahankan budaya lokal setempat.

Apa pendapat masyarakat setempat mengenai pembangunan pariwisata di kawasan Danau Toba?

Budayawan Batak, Jim Siahaan, mengatakan masyarakat terlibat langsung dalam aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan pariwisata di Danau Toba. “Tugas pemerintah adalah membina dan membimbing warga yang punya lahan, untuk berkonsolidasi menjadi pengusaha penyedia fasilitas wisata, dengan capital leverage dan mempergunakan jasa manajemen profesional,” kata Jim.

Pariwisata Danau Toba juga harus mempertahankan budaya asli empat puak Suku Batak, yakni Toba, Simalungun, Pakpak, dan Karo yang tinggal di sana. “Mengapa wisata kita tertinggal jauh dari wisata Thailand? Rahasianya, Thailand masih mempertahankan budaya aslinya. Sama kuatnya seperti Jepang dan China. Karena itu, pemerintah harus betul-betul menjaga dan melindungi kearifan lokal,” katanya.

Catatan tambahan dari Jim, pemerintah harus tegas memilih: pilih pariwisata atau industri? “Kalau mau pariwisata, hentikan logging besar-besaran. Hentikan keramba,” pintanya. 

Sebagai saran penutup, Jim meminta pemerintah menentukan segmen pasar wisata Danau Toba yang mau ditangkap. “Saran saya, pariwisata Danau Toba mengutamakan pasar kelas atas. Pengunjung tidak harus ramai berbodong-bondong seperti pasar malam. Bayangkan wisata Shangri-La Sanctuary. Bukan wisata kaki lima,” usulnya.

Cina, menurutnya, adalah pasar paling potensial saat ini. Untuk itu, ia menyarankan pembukaan penerbangan Medan-Cina. “Kemudian, pelajari kebiasaan dan kesukaan orang-orang Cina. Merekalah penyumbang turis asing terbesar di dunia saat ini,” katanya. (Dame Ambarita)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *