Hasil Lab Negatif, Bukan Berarti Tak Difteri

Dua Pasien Dibolehkan Pulang

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Saat ini ada lima pasien suspect difteri yang masih dirawat di RSUP H Adam Malik Medan. Kondisi kelimanya terus membaik dan bahkan dua di antaranya sudah dibolehkan pulang untuk pulang berobat jalan. Keduanya yakni berinisial DE (3) asal Medan dan RH (3) asal Nias.

“Tinggal tiga pasien lagi yang dirawat yakni inisial RR (5) asal Medan, R (16) asal Kisaran, serta JA (28) asal Nias. Kondisi para pasien tersebut progresnya terus membaik dan diharapkan dapat segera dibolehkan pulang juga,” ujar Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Dinkes) telah menyatakan hasil uji swab tiga mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) asal Malaysia, yang diduga terserang difteri atau suspect difteri di Laboratorium (lab) Litbangkes Kemenkes RI negatif. Walaupun negatif, hasil uji lab tersebut bukan berarti tidak difteri.

“Meskipun sudah diumumkan negatif oleh Dinkes Sumut, tapi bukan serta-merta menyampaikan secara klinis itu gk difteri atau bukan difteri. Jadi, bukan seperti itu,” ujar dr Restuti Hidayani Saragih SpPD, tim yang menangani pasien suspect difteri di RSUP H Adam Malik, Medan, Selasa (8/10).

Menurut dr Restuti, hasil uji lab tersebut adalah sebagai bentuk konfirmasi. Namun yang dipakai dalam penatalaksanaan tetap secara klinis. “Jadi, jika hasil uji lab positif maka respon sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) tetap berjalan. Kalau hasilnya negatif, respon KLB tidak berubah atau tetap berjalan juga,” ucapnya.

Dijelaskan dia, respon KLB difteri yaitu melakukan vaksin terhadap orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien. Selain itu, terapi antibiotik profilaksis kepada mereka dan juga menguji swab di laboratorium. “Kita masih menunggu hasil uji swab di lab,” terangnya.

Ia menuturkan, untuk menyatakan status KLB apabila ada satu orang yang suspect difteri dengan hasil konfirmasi kultur positif secara klinis. Namun demikian, semua jenis infeksi bukan hanya difteri, sehingga tidak bisa diharapkan 100 persen kulturnya positif tumbuh.

“Makanya, penanganan yang dilakukan terhadap orang yang suspect difteri seperti pasien difteri. Diberi obat antioksin ADS (anti difteri serum) serta antibiotik dan lain sebagainya,” tutur dr Restuti. (ris/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *