Trauma Dijarah, Ogah Kembali, Cerita Warga Sumut Selama Konflik di Wamena, Papua

BERBINCANG: Gubsu Edy Rahmayadi berbincang dengan warga Sumut yang baru tiba dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, di Aula Raja Inal Siregar Kantor Gubernur Sumut, Rabu (9/10).
pran hasibuan/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, meninggalkan rasa trauma bagi warga Sumatera Utara (Sumut) di sana. Diar Sahata Samosir, warga Sumut yang memilih pulang ke kampung halaman mengaku, betapa ngerinya kerusuhan yang terjadi di Wamena. Saat kerusuhan, kepalanya sempat dihujani batu besar oleh massa anarkis. Ia juga trauma penjarahan.

“KEJADIANNYA tanggal 23 September. Saat itu, ada ku rasa 60 menit mereka terus melempari ke arah kami pakai batu. Kepalaku sampai koyak terkena lemparan batu yang besar,” ungkapnya menjawab wartawan usai acara penyambutan dan jamuan makan oleh Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi di Aula Raja Inal Siregar Kantor Gubsu, Rabu (9/10).

Kata Diar, suasana dan kondisi saat itu di Wamena sangat mencekam. Aksi massa juga didominasi kalangan mahasiswa dan pelajar. Mereka secara membabi buta merusak fasilitas public dan rumah warga, hingga menjarah kios-kios pedagang. Namun syukurnya, kios Diar Samosir tidak ikut dijarah oleh para demonstran.

“Kios saya kebetulan tidak kena jarah. Tapi terkena lemparan batu secara bertubi-tubi. Waktu itu saya hanya pikirkan anak dan istri agar tidak kenapa-kenapan

Saya selamatkan mereka duluan,” ujar Diar yang saat itu didampingi istri dan anak laki-laki semata wayangnya.

Warga asli dari Tiga Balata, Simalungun tersebut menambahkan, selama enam tahun menetap di Wamena, dia dan istrinya berjualan dengan membuka kios di sana untuk memenuhi ekonomi keluarga. Ia memutuskan kembali ke kampung halaman, lantaran suasana di Wamena hingga sekarang belum kondusif.

“Tak ada yang bisa menjamin kondisi di Wamena sudah membaik. Siapa yang bilang begitu, tidak bisa kita prediksi. Makanya saya putuskan pulang membawa istri dan anak ke Sumut. Kios saya di sana dititipkan ke abang ipar untuk dijaga,” katanya, sembaru mengaku belum berpikir akan kembali ke Tanah Papua dalam waktu dekat.

Di tempat yang sama, warga asal Sumut lain, Mardelina Manurung juga mengungkapkan, betapa mencekamnya kondisi di Wamena selama kerusuhan berlangsung. Dan kebetulan kejadian itu berlangsung di depan puskesmas tempatnya bertugas. “Jadi saya lihat mereka itu menyiram bensin, api kecil sampai api besar dan hangus saya lihat itu,” katanya.

Wanita yang sudah menetap 15 tahun di Tanah Papua ini juga bermohon dalam kesempatan itu, agar Gubsu Edy Rahmayadi membantu kepulangan suaminya yang bertugas di Papua sebagai anggota polisi. Suaminya bernama Bripka Mislon Mian Sinambela, bertugas di Polres Jayawijaya. Begitupun dengan dirinya yang berstatus pegawai negeri, meminta supaya dipindahtugaskan ke Kota Medan. Apalagi dirinya juga merupakan warga asal Medan.

“Kayaknya enggaklah (balik lagi ke Papua). Kalaupun nanti disetujui suami saya pindah tugas kami di sini, kami mau di sini aja. Kami bawa tas, bawa pakaian sekadarnya. Karena buru-buru toh, dan sebagian kawan-kawan kita malah tak bawa apa-apa,” katanya.

Dia mengaku selama ini kondisi di Wamena baik-baik saja. Bahkan anak-anak mereka lahir dan besar di Wamena. “Anak saya empat lahir di situ, di Labewa semua. Lahir besar di Wamena,” katanya.

Dipulangkan ke Daerah

Sebelumnya Gubsu Edy Rahmayadi menyambut kedatangan 36 orang warga asal Sumut yang berhasil dievakuasi dari daerah konflik tersebut. Selanjutnya, puluhan orang tersebut akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Adapun daerah yang akan dituju oleh warga tersebut, yaitu Sibolga, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara Simalungun, Toba Samosir. “Yang hadir di sini ada 36 orang, telah berhasil dievakuasi dari Wamena dengan menggunakan transportasi darat,” katanya.

Saat ini, masih ada 264 warga asal Sumut yang akan menyusul dengan menggunakan transportasi laut (kapal). Ia memprediksi 10 hari ke depan akan tiba di pelabuhan Belawan. “Yang belum kembali 264 orang lagi. Hari ini mereka akan naik kapal laut, 10 hari ke depan akan kita sambut mereka di Pelabuhan Belawan,” jelasnya.

Total dari keseluruhan warga asal Sumut yang sudah terdata saat ini berjumlah 651 orang. Sementara itu, ada 133 warga asal Sumut memilih kembali ke Wamena. Penjelasan ini didapatkannya setelah tim melakukan pendataan terhadap seluruh warga asal Sumut di sana. Bagi warga yang tidak mau kembali ke Sumut, Gubsu sudah berkoordinasi dengan TNI AU setempat untuk memberikan fasilitas, berupa tranportasi.

“Ada133 orang tidak mau kembali ke sini (Sumut), saya minta kembali ke Wamena. Dibantu oleh TNI AU menggunakan pesawat Hercules,” ujarnya.

Setelah kembali ke Sumut, pastinya puluhan warga itu mengalami masalah, antara lain tempat tinggal, pakaian anak sekolah dan kebutuhan hidup lainnya. Akan tetapi Pemprovsu tidak tinggal diam, kata Edy, pendidikan menjadi prioritas bagi anak-anak korban kerusuhan Wamena. Dirinya akan menyiapkan seragam sekolah berikut dengan alat tulisnya. Ini dilakukannya demi cita-cita anak-anak tersebut tidak putus akibat dari kerusuhan yang terjadi.

“Prioritas anak sekolah, kita siapkan pakaian, buku, sehingga mereka tidak putus sekolah. Kita perhatikan untuk kehidupan mereka berikutnya,” katanya.

Edy juga meminta para perwakilan dari masing-masing daerah menjemput dan membawa warganya pulang. Sesampainya di daerah masing-masing, Edy meminta kepada bupati dan wali kota untuk memerhatikan kehidupan mereka. “Nanti kita lihat masing-masing daerah untuk memfasilitasinya,” ucapnya.

Amatan wartawan, pada kesempatan itu Pemprovsu turut memberikan bekal bagi warga untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Antara lain, selain sembako ada perlengkapan mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang ditempatkan dalam satu boks plastik. (prn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *