Ratusan Ekor Ternak Babi Mati di Dairi, Kerugian Ratusan Juta Rupiah

Lumpin Pangaribuan, Peternak Babi

SIDIKALANG, SUMUTPOS.CO – Para peternak babi di 11 Kecamatan Kabupaten Dairi mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Pasalnya, ratusan ternak babi milik mereka mati mendadak, mulai dari anakan hingga indukan berbobot besar.

Salahsatu peternak babi, Lumpin Pangaribuan (40) ,kepada wartawan, Kamis (10/10) menyampaikan, hewan ternaknya sejak beberapa minggu terakhir sudah mati sebanyak 7 ekor. Akibatnya ia mengalami kerugian mencapai Rp 50 juta, karena babi yang mati itu sudah indukan dan memiliki bobot di atas 80 kilogram (kg).

Kerugian lebih besar dialami peternak lainnya. Lumpin menyebut, ternak babi milik tetangganya bermarga Simorangkir, sudah mati 15 ekor. “Di Sidikalang ini, serangan penyakit itu sudah luar biasa. Babi yang sudah divaksin pun turut mati,” katanya.

Ia meminta pemerintah turun tangan untuk mengendalikan serangan penyakit itu. Baik memberikan bantuan obat-obatan mau pun lainnya. “Agar kerugian warga Dairi tidak bertambah,” ungkapnya.

Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Dairi, Jhon Manurung, Kamis (10/10) di Sidikalang mengatakan, hingga kini penyebab kematian babi di daerah itu belum diketahui pasti. Sesuai laporan warga, ternak babi yang mati mendadak sudah mencapai 700-an ekor. Penyakit itu dominan menyerang babi indukan. “Sesuai laporan warga, sudah sekitar 700 ekor hewan ternak itu mati sejak satu bulan terakhir,” ucapnya.

Kasus itu, menurutnya, belum bisa disebut wabah. Karena populasi hewan ternak babi di Dairi mencapai 100 ribu ekor. Begitupun, menurutnya tetap akan dilakukan pencegahan.

“Beberapa waktu lalu, Balai Veteriner sudah membawa 12 ekor babi sebagai sampel. Dari sampel itu, tiga di antaranya diketahui terkena penyakit kolera. Tetapi yang 9 ekor masih dilakukan penelitian lebih intensif. Karena jenis penyakit kematian babi itu belum bisa disimpulkan,” katanya.

Ditanya apakah penyebab kematian babi itu disebabkan african swine fiver, Manurung mengaku belum mengetahui. Ditunggu saja hasilnya. Pihaknya selalu mengimbau peternak untuk membersihkan kandang dan mensterilkannya. “Kita membina peternak menerapkan biosekuriti (upaya mengurangi penyebaran organisme penyakit dengan cara menghalangi kontak langsung antara hewan dan mikroorganisme) di kandang,” ucapnya.

Penyakit yang menyerang ternak babi tidak menular kepada manusia. Untuk mengonsumsi daging babi, ia menyarankan agar betul- betul masak/dimasak di atas suhu 100 derajat Celsius. Jhon Manurung juga mengimbau warga agar tidak membuang bangkai babi sembarangan, untuk mencegah penularan dan mencemari lingkungan.

“Bangkai babi jangan dibuang ke sungai dan di daratan. Baiknya dibakar dan ditanam,” tandasnya. (rud)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *