Kebakaran di Sentosa Lama karena Arus Pendek, 60 KK & 300 Jiwa Mengungsi

Headlines Metropolis
MENGAIS: Korban kebakaran di Jalan Sentosa Lama, Kelurahan Sei Kera Hulu, Kecamatan Medan Perjuangan, mengais sisa-sisa barang dari rumah mereka yang sudah hangus terbakar.
MENGAIS: Korban kebakaran di Jalan Sentosa Lama, Kelurahan Sei Kera Hulu, Kecamatan Medan Perjuangan, mengais sisa-sisa barang dari rumah mereka yang sudah hangus terbakar.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sedikitnya ada 60 kepala keluarga (KK) dan 300 jiwa harus mengungsi akibat kebakaran yang terjadi di Jalan Sentosa Lama, Kelurahan Sei Kera Hulu, Kecamatan Medan Perjuangan, Senin (21/10) lalu. Para pengungsi terpaksa berdiam di tenda-tenda penampungan yang telah disediakan Pemko Medan, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, serta tenda-tenda dari berbagai pihak lainnya.

“Pada kejadian itu, ada sekitar 40 rumah yang hangus terbakar. Saat ini para korban mengungsi ke tenda-tenda yang sudah dibangun. Kami memasang tenda di halaman Masjid Jamik Jalan Sentosa Lama. Tapi ada juga yang mengungsi ke rumah tetangga, dan sanak keluarga,” ungkap Kepala BPBD Kota Medan, Arjuna Sembiring, Selasa (22/10).


Selain memasang tenda penampungan, Arjuna mengatakan, pihaknya juga sudah memberikan bantuan, berupa makanan dan obat-obatan sementara. “Untuk sebab kebakarannya, kami belum tahu pasti. Tapi dugaan sementara, karena arus pendek. Begitu juga dengan total kerugian, belum ada penghitungan,” jelasnya.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Medan, Albon Sidauruk mengatakan, pihaknya mendapatkan kabar kebakaran tersebut sekira pukul 16.50 WIB. Dia pun langsung menurunkan 14 unit mobil damkar, yang tiba secara bertahap ke lokasi kejadian, sejak pukul 17.05 WIB. “Api baru bisa dipadamkan sekira pukul 18.30 WIB sampai jam 19.00 WIB lebih. Karena personel masih melakukan pendinginan lokasi kebakaran. Tidak ada korban jiwa, dan untuk total kerugian kami prediksi miliaran rupiah. Untuk tepatnya belum dihitung,” katanya.

Untuk itu, dia kembali mengimbau, agar setiap masyarakat meningkatkan kewaspadaannya dalam menjaga dan mencegah hal-hal yang dapat memicu kebakaran. “Sebanyak 90 persen lebih penyebab kebakaran itu adalah kelalaian manusia, itu fakta. Jadi kami harap seluruh masyarakat Medan agar lebih meningkatkan kewaspadaannya, terhadap kondisi rumah yang bisa menyebabkan kebakaran. Seperti tidak meninggalkan api kompor yang masih hidup, mencabut cok (steker) listrik yang sudah tidak digunakan, hingga mengganti instalasi listrik yang sudah lewat waktunya,” harap Albon.

Dari amatan Sumut Pos, Selasa (22/10) siang, masyarakat yang rumahnya terbakar kembali mendatangi rumahnya masing-masing, untuk melihat kondisi terakhir, serta mencari barang-barang yang masih tersisa di antara puing-puing benda yang hangus terbakar. Sejumlah posko-posko bantuan pun mulai didirikan di kawasan tersebut, baik dari pemerintah, swasta, hingga dari ormas dan partai politik.

Seorang warga yang juga merupakan koordinator posko bantuan swadaya, Baun Soripada Siregar mengatakan, pihaknya telah menghitung jumlah rumah yang terbakar. “Total ada 39 rumah yang terbakar. Dan warga yang harus mengungsi ada 60 KK, dan 300 jiwa. Itu yang kami hitung secara swadaya. Bantuan sudah masuk dari berbagai pihak, satu di antaranya dari Pemko Medan, berupa makanan, minuman, dan obat-obatan,” bebernya.

Namun, dia menjelaskan, yang sangat dibutuhkan oleh pihaknya saat ini adalah bantuan berupa seragam dan peralatan sekolah. Karena, kondisi kebakaran itu telah menghanguskan seluruh seragam dan peralatan sekolah yang dimiliki warga setempat. “Kami butuh peralatan sekolah, seperti seragam, buku, tas, sepatu, dan lainnya. Untuk wanita, mereka butuh pembalut dan pampers untuk anak-anak. Ada 3 gang yang terbakar di sini, mulai dari Gang Ringgit, Ringgit Tengah, dan Keluarga. Dan rata-rata kebutuhannya itu. Kami pikir, itu lebih bermanfaat dari mie instan,” pungkas Baun. (map/saz)

loading...