Warga Dilarang Manfaatkan Air Sungai Bederah

MENGAPUNG: Bangkai babi mengapung di Sungai Bederah, Kelurahan Terjun, Medan Marelan, Rabu (6/11) lalu.
MENGAPUNG: Bangkai babi mengapung di Sungai Bederah, Kelurahan Terjun, Medan Marelan, Rabu (6/11) lalu.

PERISTIWA ratusan bangkai babi mengapung di Sungai Bederah Kelurahan Terjun, Medan Marelan, sudah sangat menggangu aktivitas masyarakat sekitar. Tak hanya baunya yang luar biasa menyengat, tapi bangkai-bangkai babi yang mulai membusuk itu juga diyakini sangat mencemari air sungai dan udara di sekitar sungai.

Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Medan langsung mengeluarkan larangan kepada warga sekitar untuk tidak melakukan aktivitas dan memanfaatkan air sungai tersebut untuk keperluan sehari-hari. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, Syarif Armansyah Lubis mengaku sudah mendatangi lokasi guna melakukan pengecekan

dan pemeriksaan lebih lanjut terkait lingkungan sekitar sungai yang mulai tercemar. “Rabu (6/11) kemarin, kita dan tim sudah berangkat ke sana. Hasilnya memang kita melihat ada ratusan ekor babi yang sudah mengapung di sungai. Ini tentu sudah menimbulkan bau yang menyengat,” kata Armansyah kepada Sumut Pos, Kamis (7/11).

Kadis yang kerap disapa Bob ini juga mengungkapkan, ia dan tim nya sudah mengambil sampel air sungai yang terkena bangkai babi di Sungai Bederah tersebut. “Jadi tim sudah mengambil sampel air sungai, saat ini masih diperiksa terkait kondisi airnya,” ujarnya.

Begitu juga dengan udara, Bob menuturkan kondisi udara yang sudah berbau busuk khas bangkai di kawasan itu bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk kondisi udara yang sudah tidak sehat. “Udaranya jelas sudah tercemar itu, karena sudah sangat bau,” tuturnya.

Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan mengimbau kepada warga sekitar untuk mengurangi aktivitasnya di seputar kawasan Sungai Bederah yang sudah tercemar bangkai babi. “DLH Kota Medan bersama dan melalui Camat Medan Marelan telah mengimbau kepada seluruh warga sekitar Sungai agar mengurangi aktivitasnya di seputar sungai. Terutama bagi warga sekitar yang mungkin menjadikan sungai sebagai sarana aktifitasnya untuk mencuci dan sebagainya. Kontak fisik dengan air sungai tentu bisa menjadi resiko bagi kesehatan,” imbaunya.

Terkait bangkai babi yang masih banyak mengapung di seputar Sungai Bederah tersebut, Bob menjelaskan, pihaknya tengah membentuk tim untuk menindakkanjuti bangkai-bangkai yang sudah mulai membusuk tersebut. “Sebagian bangkai sudah angkut dan dikubur oleh pihak kecamatan, tapi masih ada juga yang mengapung di sungai. Makanya kami sedang membentuk tim, nanti tim itu yang akan segera berupaya untuk mengevakuasi bangkai-bangkai babi yang masih mengapung disana untuk segera dikubur,” tandasnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan juga mengaku telah menurunkan tim kesehatan, untuk meninjau situasi pasti paska ditemukan puluhan bangkai babi di Sungai Bedera, beberapa hari lalu. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Mutia Nimpar menyampaikan, sejauh ini pihaknya memang belum ada menemukan dampak kesehatannya bagi masyarakat atas temuan tersebut.

“Kemarin tim kesehatan bersama dinas terkait sudah turun ke Sungai bedera itu. Hasilnya sejauh ini, temuan bangkai babi itu belum ada menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (7/11).

Kendati begitu, Mutia mengimbau kepada masyarakat agar jangan dulu memanfaatkan air Sungai Bedera terutama untuk keperluan konsumsi. Karena ia khawatir, cemaran air sungai tersebut nantinya bisa membahayakan. “Jadi masyarakat kita cegah agar tidak mengkonsumsi air yang tercemar itu. Walaupun kita belum tahu cemarannya sudah sejauh mana, karena perlu uji laboratorium dan lainnya untuk mengetahuinya,” jelasnya.

Akan tetapi, sambung dia, yang melakukan uji atas cemaran itu, adalah tupoksinya dari Dinas Lingkungan Hidup. Dinkes sendiri, tegas Mutia masih hanya mengeluarkan imbauan untuk tidak memanfaatkan air Sungai Bedera itu saja. “Tapi mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa (kepada masyarakat). Kita juga sudah berkoodinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi, sehingga bila berdampak kita tentu akan bertindak,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Fraksi Gerindra Kota Medan, Surianto menyebutkan, hal ini sudah sangat mengganggu kenyamanan warga sekitar sungai. Ia meminta dan mendesak Pemko Medan untuk mencari akar masalahnya dengan mencari tahu pelaku pembuangan bangkai babi tersebut. “Pemko Medan harus mencari tahu siapa yang membuang bangkai-bangkai babi itu, ini harus dicari tahu dan pelakunya harus dilaporkan,” tegasnya.

Tak hanya itu, Butong juga meminta Pemko Medan untuk tidak berlama-lama dalam menyelesaikan masalah bangkai babi yang masih banyak mengapung di kawasan Sungai tersebut. Disebutnya, Pemko harus segera mengubur seluruh bangkai babi yang masih mengapung di Sungai Bederah.

“Ini bangkai babi pun jadi ‘PR’ bagi Pemko Medan. Sudahlah, tak usah lagi harus berpatokan pada dinas-dinas yang sesuai Tupoksi atau tidak. Inikan ‘Urgent’, artinya harus menjadi tanggungjawab bagi semua pihak, tak hanya dinas terkait. Siapapun yang bisa membantu menyelesaikan masalah bangkai babi ini, maka harus turun tangan, Pemko Medan harus bertindak cepat karena ini sudah menyangkut masalah kesehatan warga,” tutupnya.

Pengawasan Lemah

Anggota DPRD Medan dari Fraksi PAN, Sudari menilai, pengawasan dan penanganan regulasi masih lemah mengatasi dampak kematian dan bangkai babi yang masih mengapung di Sungai Bedera dan Paluh Danau Siombak, Kecamatan Medan Marelan. “Harusnya regulasi khususnya dinas yang punya kompeten untuk tanggap darurat, dengan menginventarisir peternak babi untuk mensosialisasikan terhadap dampak virus kolera yang ditimbulkan dari babi tersebut,” kata Sudari.

Wakil rakyat dari Dapil Medan Utara ini menyesalkan masih dilakukan pembiaran terhadap bangkai babi memgapung di sungai. Ini akan berdampak ke laut yang nantinya akan merusak biota laut bagi ikan yang memakan bangkai babi tersebut. “Kepada dinas, kecamatan sampai unsur ke bawah, harus turun ke lapangan. Jangan membiarkan bangkai itu tetap mengapung ke sungai, kalau sudah sampai ke laut sudah pasti akan dikonsumsi ikan, dampaknya kepada masyarakat juga yang akan memakan ikan,” cetus Sudari.

Ditegaskannya, dengan adanya pembiaraan terhadap bangkai babi, adalah bentuk kelemahan dinas yang sengaja memberikan efek buruk bagi masyarakat. “Kalau ini dibiarkan terus, sudah pasti berefek pada kesehatan bagi orang banyak. Dinas Kesehatan Kota Medan harus turun ke lapangan mengidentifikasi untuk mensampling dari bangkai babi yang masih mengapung, sehingga tidak meluas kepada masyarakat,” tegasnya lagi.

Harapannya, regulasi yang punya peran diminta agar melakukan pendataan peternak babi, apabila ada ditemukan babi mati harus dimediasi agar bisa ditanam secara massal. Sehingga masyarakat tidak membuang sembarang ke sungai. “Kita minta agar pendataan dan penanganan secara dini harus segera diterapkan, kalau terus dibiarkan sudah pasti pemilik ternak akan membuang ke sungai,” cetus Sudari.

Terpisah, Kabid II Keselamatan Berlayar Kesyabandaran Utama Belawan, Capten Teddy Mayandi mengharapkan agar bangkai babi tidak sampai mengapung ke pelabuhan, kepada perangkat pemerintahan harus cepat tanggap melakukan penanganan dini.

“Kita ada camat, lurah dan kepling. Mereka pasti bisa menangani ini bersama perangkat lainnya, kita berharap jangan sampai mengalir ke laut bangkai babi itu. Kalau ini sempat terjadi, berarti ada pembiaran, nanti kita malu dengan dunia internasional. Apalagi banyak kapal asing banyak sandar di Belawan, nanti malu kita di mata dunia,” cetusnya. (map/fac)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *