Kesal Dinasehati karena Kerap Memaki Ibunya, Keponakan Habisi Nyawa Paman

Hukum & Kriminal
KORBAN: Ahmad Darabi (49), warga Jalan Sekip, Gang Saga, Medan Petisah, saat dilarikan ke rumah sakit, baru-baru ini.
KORBAN: Ahmad Darabi (49), warga Jalan Sekip, Gang Saga, Medan Petisah, saat dilarikan ke rumah sakit, baru-baru ini.

MEDAN, SUMUTPOS.Co – Kesal tak diberi uang, Firman menghabisi nyawa sang paman, Ahmad Darabi (49), warga Jalan Sekip, Gang Saga, Medan Petisah, Jumat (29/11) malam. Penjual kacamata ini tewas dengan tikaman di dadanya.

Peristiwa itu terjadi, sekira pukul 21.30 WIB di Jalan M Yakub, Gang Tinik, Kecamatan Medan Perjuangan. Malam itu, Ahmad ditelepon kakaknya, Erlina, untuk datang ke rumahnya di Jalan M Yakub.


Ahmad dan istrinya, Ana, yang baru saja menghadiri tahlilan meninggal anak sepupunya di Helvetia, pun mengunjungi rumah pusaka orangtua yang kini ditempati Erlina dan keluarga. Setiba di rumah itu, ayah 2 anak tersebut memasuki rumah yang dalam keadaan sepi. Di rumah, Ahmad menemui Firman yang duduk di ruang tamu. Sedangkan Ana dan keluarga lainnya, duduk di warung tak jauh dari rumah itu.

Saat itulah, Ahmad diyakini menasihati Firman agar tidak bersikap kasar pada ibunya. Sebelumnya, Firman yang tadinya tinggal di Pasaman, Sumatera Barat, mengamuk lantaran tak diberi uang oleh sang ibu, Erlina, yang kemudian memaki-makinya.

Namun ditengarai, Firman tidak terima dinasehati Ahmad. Keributan pun terjadi di antara mereka. Beberapa waktu kemudian, Firman keluar dari rumah dalam keadaan tergesa-gesa. Ketika melintasi keluarga yang sedang duduk di warung, dia pun mengakui telah membunuh Ahmad, dan kemudian kabur.

“Sudah kubunuh si Ahmad,” kata Firman tergesa-gesa, dan langsung berlari.

Merasa curiga dengan ungkapan Firman, Ana masuk ke dalam rumah. Saat itulah dia melihat suaminya telah terkapar di lantai. Dada kanannya berdarah bekas luka tikaman. Ahmad pun dibawa ke Klinik Wahyu di Jalan Serdang, yang kemudian dilarikan ke RSUD dr Pirngadi Medan.

“Namun Ahmad meninggal dunia. Polisi yang mengetahui hal itu, mem bawa jasad Ahmad ke RS Bhayangkara Medan,” beber kakak korban, Hamidah.

Hamidah juga menjelaskan, selama ini Firman memang kerap memaki-maki ibu kandungnya jika tidak diberi uang. “Kalau tidak dikasih uang beli rokok, si Firman itu maki-maki ibunya. Warga sini memang sudah resah dengan tingkahnya. Dulu dia tinggal di Pasaman bersama istrinya, tapi balik lagi sendiri ke Medan. Mungkin istri dan keluarga istrinya tak suka sama dia,” bebernya.

Dia menjelaskan, korban yang bekerja sebagai penjual kacamata resep keliling, dikenal baik dengan warga sekitar.

“Biasanya kalo dia (Ahmad) dapat rezeki lebih, suka traktir warga di sekitar gang ini,” ungkap Hamidah.

Hamidah juga mengatakan, korban telah dipulangkan dari RS Bhayangkara Medan ke rumah duka. Rencananya akan disemayamkan di perkuburan Muslim belakang Masjid Perjuangan 45, Jalan HM Yamin.

Sementara Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartonto mengatakan, saat ini pelaku belum tertangkap. “Sabar ya, biar kami tangkap pelakunya dulu,” pungkasnya. (mrc/saz)

loading...