Ingin Jadikan Kampung Nelayan Destinasi Wisata, TNI AL Warna-warnikan Rumah di Medan Belawan

Headlines Metropolis Wisata
WARNA WARNI:
Rumah masyarakat di Kampung Nelayan Medan Belawan kini berwarna warni.
WARNA WARNI: Rumah masyarakat di Kampung Nelayan Medan Belawan kini berwarna warni.

Untuk masyarakat Kota Medan dan sekitarnya, pasti merasa penasaran dan ingin tahu, mengapa kebanyakan rumah di Lingkungan XII, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara ini berwarna-warni.

Hampir setiap rumah yang berada di lingkungan itu dicat berwarna-warni, mulai dari dinding sampai dengan seng atau atap. Warga yang bermukim di sana menyukai dekorasi warna yang cerah, seperti kuning, merah, hijau, putih, biru dan lainnya.


Daerah yang dikenal dengan sebutan kampung nelayan, kini berubah menjadi kampung warna atau kampung pelangi. Selain itu, kawasan yang biasa kumuh ini pelan-pelan beranjak akan menjadi kawasan pariwisata di Kota Medan.

Warga yang sebagian besar memiliki pendapatan dari hasil melaut atau nelayan itu dimungkinkan dapat menambah penghasilan dari sektor pariwisata. Ide menjadikan kampung nelayan sebagai destinasi wisata ini mulai digaungkan sejak Oktober 2019.

Mengecat dinding dan atap rumah pertama dilakukan bertujuan menjadi daya tarik bagi masyarakat yang melihatnya. Ide ini pertama kali digagas oleh pihak TNI Angkatan Laut (AL).

Selain itu, akses untuk menuju kampung nelayan ini juga tergolong tradisional, masyarakat setempat yang ingin ke luar atau beraktivitas di luar Lingkungan XII, harus menggunakan kapal boat (bermesin) dan kapal berjenis dayung. Begitu juga sebaliknya.

Kepala Lingkungan XII, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Sarawiyah kepada Tagar di kediamannya, Minggu (5/1), menyebut, tujuan pihak TNI Angkatan Laut menjadikan kampung nelayan sebagai destinasi wisata guna menambah penghasilan warga di sana.

“90 persen warga di sini berpenghasilan sebagai nelayan. Rencananya kampung kami ini akan dijadikan destinasi wisata. Kami menyambut baik dan mendukung ini. Semoga pemerintah ikut campur tangan membantunya, kalau itu benar terjadi, maka akan mengangkat derajat ekonomi masyarakat di sini,” kata Sawariyah.

Sejak kondisi rumah dicat berwarna-warni, sudah mulai menambah penghasilan warga di sana, khususnya mereka yang menyediakan alat transportasi kapal boat. Karena setiap pengunjung yang ingin ke kampung nelayan, harus menggunakan moda transportasi laut itu.

“Banyaknya pengunjung dari luar daerah yang datang, menambah pendapatan warga yang menyediakan kapal boat. Kalau mau ke kampung ini, harus menggunakan alat transportasi laut, jadi ekonomi masyarakat sekitaran secara otomatis meningkat,” ucap dia.

Ongkos yang ditawarkan kepada penumpang per orangnya hanya Rp3 ribu sampai Rp8 ribu. Tergantung jauh dan dekatnya jarah tempuh. Sebab, di kampung nelayan ada beberapa tempat persinggahan yang dapat dilalui.

“Naiknya dari Jalan Kampar, tujuannya tergantung mau ke tangkahan yang mana. Ada tangkahan ujung kerang, pak ogah dan aula. Kalau tangkahan aula itu karena ada aula di sini, biayanya hanya Rp 3 ribu per orang,” terang Sarawiyah.

Setiap pengunjung yang datang, akan merasakan sejuknya daerah kampung nelayan, melihat sejumlah rumah dengan dekorasi berbagai warna yang indah. Selain itu, sarana jalan ke pemukiman juga masih menggunakan papan atau kayu, menambah suasana nuansa tradisional.

“Memang untuk membangun daerah menjadi tempat wisata itu tidak begitu mudah, namun itu harus didukung oleh warga sekitar, pihak swasta maupun pemerintah. Masih ada yang harus dibenahi untuk mencapai tujuan bersama,” kata dia.

Beberapa kekurangan di kampung nelayan, di antaranya warga masih kesulitan untuk membuang sampah atau limbah rumah tangga. Mereka masih banyak yang membuang sampah di sembarang tempat. Kemudian, prasarana jalan yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain belum begitu baik.

“Kalau untuk sampah, kita selalu berupaya agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Memang saya pribadi mengakui, kalau sampah rumah tangga milik masyarakat masih sulit dikendalikan. Kita tidak menutupi masih adanya warga yang buang sampah ke laut. Bayangkan, di lingkungan ini ada 600 kepala keluarga dengan jumlah 2.281 jiwa, kita butuh keranjang sampah dan tempat pembakaran sampah,” ucap Sarawiyah.

Kepala lingkungan yang berusia 33 tahun ini selalu berkoordinasi dengan pemerintah secara berjenjang agar dapat bantuan tempat sampah. Namun, masih tetap terkendala anggaran.

“Kita berharap agar tong sampah bisa diterima oleh warga, agar warga tidak membuang sampah sembarangan. Setelah sampah terkumpul, lalu dibakar di tempat pembakaran sampah. Masalah sampah ini, kita selalu berkomunikasi dengan kelurahan. Masalah prasarana jalan juga, kita meminta dukungan dari pihak pemerintah dan swasta yang ada,” kata dia.

Nantinya, di kampung nelayan akan dibangun sarana pendukung untuk menunjang pariwisata. Di antaranya memanfaatkan tumbuhan atau kawasan mangrove dan hasil laut yang beraneka ragam.

“Mungkin untuk mendukung agar kampung nelayan ini menjadi daya tarik pariwisata karena tempatnya yang strategis, harus menyeberang dengan kapal atau perahu, lalu hasil laut yang kaya serta masih adanya tumbuhan mangrove,” tandasnya.

Salah seorang warga, Sakdiah, mengatakan setelah rumah mereka dicat berwarna oleh pihak TNI Angkatan Laut, masyarakat semakin semangat untuk membangun kampung yang dulunya dikenal kumuh ini.

“Kita masyarakat di Kampung Nelayan ini selalu berdiskusi dengan ibu kepala lingkungan, bagaimana caranya agar kampung ini menjadi kampung kebanggaan. Dari situ lalu kita melakukan beberapa langkah untuk suatu perubahan dan perbaikan setelah rumah dicat berwarna oleh pihak yang mendukung,” ucap Sakdiah.

Langkah kecil namun bermanfaat terus dilakukan, pertama mengajak warga untuk tidak membuang sampah di laut. Sakdiah dan pihak yang peduli lingkungan menyarankan agar sampah dikumpulkan di dalam goni.

“Saran dari kami, agar warga mengumpulkan sampah di dalam goni, setelah itu, lalu sampah itu dikeringkan dan dibakar di tempat pembakaran. Kami yakin ke depan, warga akan sadar akan dampak sampah,” kata Sakdiah.

Warga lain, bernama Ali juga turut mendukung adanya rencana menjadikan kampung nelayan menjadi destinasi wisata. Dengan begitu, ekonomi masyarakat otomatis akan meningkat.

“Kalau jadi destinasi wisata, pastilah kita dukung, setelah rumah warga dicat, banyak warga pendatang yang berkunjung, mereka ingin tahu ada apa di kampung nelayan ini. Kami dari masyarakat setempat juga senang ketika rumah kami dicat. Semoga pemerintah ikut berperan dalam menciptakan kampung nelayan menjadi destinasi wisata,” ucap dia.

Dua warga pendatang, Ardi dan Amri yang ditemui di sana mengaku penasaran dengan adanya rumah yang dicat berwarna-warni.

“Kami penasaran melihat rumah dicat berwarna-warni, makanya kami putuskan untuk menyeberang. Lagi pula, biaya menyeberang juga murah, hanya Rp 3 ribu,” kata Amri, mengaku warga Kota Binjai.

Sedangkan Sumardi menyarankan agar pemerintah ikut campur tangan membenahi kampung nelayan. Sebab, dari tata letak wilayah, dirasakannya sangat strategis.

“Lokasi sangat strategis. Hanya sarana pendukung yang harus dibenahi lagi. Misalnya jalan yang sudah mulai rusak, tong sampah untuk masyarakat membuang sampah dan disediakan tempat pembakaran sampah, atau kalau bisa sampah masyarakat di sini diangkut pemerintah minimal satu minggu sekali,” kata Ardi. (tag/net/azw)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *