Indonesia Punya Alat Deteksi Corona

Headlines Iptek Nasional

Uji Laboratorium Butuh Waktu 4 Hingga 5 Jam

KAPSUL EVAKUASI:
Kapsul evakuasi yang disiagakan Kementerian Kesehatan untuk mengevakuasi jika ada warga yang terkena virus corona. Pemerintah mengklaim, Indonesia telah memiliki alat pendeteksi virus corona yang akurat.
KAPSUL EVAKUASI:
Kapsul evakuasi yang disiagakan Kementerian Kesehatan untuk mengevakuasi jika ada warga yang terkena virus corona. Pemerintah mengklaim, Indonesia telah memiliki alat pendeteksi virus corona yang akurat.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Masyarakat Indonesia akan lebih tenang dalam menghadapi maraknya penyebaran virus corona yang sudah menyebar ke beberapa negara. Pemerintah mengklaim, Indonesia telah memiliki alat pendeteksi virus corona yang akurat. Alat tersebut, yakni PCR dan Sequencing yang terdapat pada laboraturium penelitian perguruan tinggi.

KEPALA Staf Presiden Moeldoko mengatakan, kemampuan tenaga medis yang dimiliki Indonesia juga cukup mumpuni dalam mendeteksi secara dini apabila ada yang mengidap virus mematikan tersebut. Hal ini akan mempercepat proses penanganan jika terdapat kasus infeksi di dalam negeri.


“Indonesia sudah memiliki alat untuk mendeteksi virus corona. Ada profesor (Amien Soebandrio) yang telah menyampaikan informasi terkait kemampuan Indonesia untuk mendeteksi kalau terjadi sesuatu,” kata Muldoko di kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/2).

Semantara itu, Kepala Lembaga Biology Molecular Eijkman Institute, Amien Soebandrio menjelaskan, alat PCR dan Sequencing dimiliki oleh banyak laboraturium. Namun, alat tersebut tidak rutin digunakan sehingga tenaga medis yang memiliki kemampuan menggunakannya masih terbatas.

Lebih lanjut, Amien menjelaskan, proses uji laboratorium virus corona membutuhkan waktu selama empat hingga lima jam. Setelah itu, harus dilakukan perbandingan melalui bioinformatika untuk mendapatkan hasil yang akurat. “Sequencing saja tidak bisa langsung menjawab. Harus dibantu dengan fasilitas bioinformatika dan itu butuh keahlian khusus untuk menerapkan teknologi itu,” kata dia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan wabah virus corona sebagai kondisi gawat darurat global. Jumlah korban meninggal akibat virus corona di daratan Tiongkok mencapai 563 orang hingga Kamis (6/2), sedangkan kasus infeksi sudah mencapai lebih dari 28 ribu.

Saat ini, belum ditemukan kasus infeksi virus corona di dalam negeri. Namun, terdapat seorang WNI di Singapura yang positif terinfeksi virus tersebut dan tengah menjalani perawatan di Negeri Singa. Hingga saat ini, warga yang bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga (ART) itu masih dirawat di rumah sakit Singapura.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan dr Wiendra Waworuntu MKes menjelaskan, mereka belum mendapat informasi lebih lanjut ihwal nasib sang ART. “Itukan tenaga kerja ya, wewenangnya Kementerian Tenaga Kerja,” tegasnya, Kamis (6/2).

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menjelaskan, pihaknya maupun Kementerian Luar Negeri tidak mendapatkan laporan detail pasien per pasien. Sebab setiap rumah sakit juga pasti memiliki otoritas sendiri dalam menyampaikan informasi.

“Dengan kasus itu kami nggak sampai detail tentang kondisinya. Tapi lebih ke identitasnya dan apa yang terjadi. Kalau tanya hari ini kondisinya seperti apa terus terang Kemenkes nggak tahu, dan nggak diberikan akses bebas untuk menanyakan hal-hal ini,” kata Anung.

Sebab hal itu menyangkut aturan kesehatan internasional (Internasional Health Regulatio). Itu sebabnya, Kemenlu melalui KBRI tetap memantau perlindungan warga negara Indonesia.

“Itupun saya meyakini tak bisa dari Kemenlu, nggak bisa nungguin satu persatu bawa catatan medisnya pada publik. Ada ranah kerahasiaan pasien dan ranah kerahasiaan RS. Jadi ada ranah terbatas dari kondisi yang ada. Indonesia pun seperti itu. Enggak bisa buka kondisi kesehatan perseorangan kecuali izin yang bersangkutan,” katanya.

Pemerintah juga tengah melakukan karantina kepada 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan di Pulau Natuna. Proses karantina rencananya akan dilakukan selama 14 hari guna memastikan mereka bersih dari virus corona.

Dari 238 WNI yang diobservasi di Natuna itu, empat orang diantaranya merupakan mahasiswa asal Sumut. Namun begitu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Riadil Akhir Lubis belum dapat memastikan keempat mahasiswa itu warga Sumut.

Kata dia, sejauh ini pihaknya masih menunggu upaya penanggulangan yang sedang dilakukan pemerintah pusat sekaitan wabah mematikan tersebut. Termasuk menunggu kepastian informasi, apakah benar ada warga Sumut yang sedang diisolasi di Natuna itu. “Kita menunggulah, karena sejauh ini pun belum ada status darurat dari pemerintah sekaitan virus korona ini. Coba ditanya ke kadinkes Sumut saja, dari mana sebenarnya informasi yang empat orang tersebut,” katanya.

Kesempatan itu dia menginformasikan, bahwa pada hari ini akan dilakukan kegiatan peningkatan kewaspadaan virus korona yang digagas Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut.

Kegiatan ini, sambung Riadil, juga bertujuan sebagai langkah kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (KKMD)/Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). “Menindaklanjuti undangan ini, turut diundang berbagai pihak terkait di mana Dinkes Sumut sebagai leading sector kegiatan tersebut,” katanya.

Adapun antara lain pihak yang diundang, seperti kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan yang akan menyampaikan materi; Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Dipintu Masuk Bandara Kualanamu Terkait Cegah Tangkal Penyakit nCoV 2019 Wuhan. Lalu ketua PDPI Wilayah Sumut menyampaikan materi Perkembangan nCoV, Gejala Klinis dan Tata Laksana nCoV 2019 serta Pnumonia di Sumut, dan dari ketua Tim Pinere RSUP Haji Adam Malik Medan bakal menyampaikan materi; Sistem Koordinasi, Tatalaksana dan Rujukan Kasus nCoV di RSUP Adam Malik Medan.

Sebelumnya, Kepala Dinkes Sumut, Alwi Mujahit Hasibuan mengakui pihaknya telah mendapatkan informasi terkait warga Sumut yang dikarantina di Natuna usai dievakuasi dari Wuhan. Pun begitu, Alwi mengaku belum mengetahui identitas dari keempat warga yang berstatus mahasiswa tersebut. “Informasinya begitu, tapi orangnya belum jelas. Jadi memang ada daftarnya untuk beberapa provinsi. Namun, nama dan alamatnya tidak ada,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (5/2).

Kata Alwi, dalam masa karantina, pihaknya tidak bisa ikut mencampuri proses tersebut. Sebab, proses karantina sudah ada tim yang ditugaskan untuk menanganinya. “Jadi sifatnya kita stand by, menunggu petunjuk dari tim pusat saja,” ucapnya

Meski begitu, pihaknya tidak perlu melakukan langkah-langkah tertentu dalam menghadapi kondisi ini. Ia berharap, dalam kurun waktu 14 hari proses karantina yang dilakukan, tidak terjadi apa-apa sehingga semuanya dapat kembali ke rumahnya masing-masing. “Jadi apabila hasilnya nanti dinilai aman, kita juga tidak perlu mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti,” sebut Alwi.

Disinggung jika hasilnya positif, maka urusan karantina nantinya akan ditindaklanjuti oleh tim pusat. Penanganan ini juga sudah dipersiapkan sesuai standar aturan Kemenkes, sehingga tidak perlu diragukan lagi. Namun, sejauh ini kondisi mereka dipastikan sehat. “Masyarakat tidak perlu panik, jangan terpancing oleh kabar-kabar yang tidak jelas soal virus corona ini, khususnya jika keempat warga ini nanti sudah kembali pulang ke kampung halaman. Sebab, Pemprov Sumut telah melakukan langkah-langkah pencegahan diberbagai pintu masuk terhadap penyebaran virus mematikan tersebut,” tukasnya. (jpc/prn)

loading...