Program bagi Ibu-ibu Remaja di Australia, Punya Bayi Tidak Harus Putus Sekolah

Internasional
BELAJAR: Natasha Walker (1kanan) saat mendapat bimbingan belajar dari gurunya di Ipswich State High School, Australia. Natasha merupakan seorang remaja yang sudah memiliki bayi berusia 8 bulan.

SUMUTPOS.CO – Di Australia, remaja yang hamil ketika masih menjalani pendidikan sekolah menengah tidak harus meninggalkan bangku di kelasnya. Kini sebuah sekolah di Queensland memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan pendidikan sampai kelas 12.

Natasha Walker baru berusia 17 tahun, tapi ia sudah memiliki seorang bayi perempuan berusia delapan bulan. Dirinya mengatakan jika ia mendorong kereta bayi perempuannya, Alyssah Rose, tidak perlu lagi merasa tak nyaman saat orang-orang memperhatikannya dengan sinis atau saat ada yang mengecamnya di jejaring sosial.


“Saya dibilang sebagai ibu yang buruk, yang tidak tahu bagaimana menjadi seorang ibu, ada yang mengatakan saya perempuan liar, nanti putri saya akan seperti saya,” katanya kepada ABC.

Ia terpaksa berhenti sekolah saat berusia 15 tahun, sebelum sempat menamatkan kelas 12, dimana di Australia seseorang baru bisa mendapat ijazah pendidikan jika menyelesaikannya. Beberapa bulan kemudian, Natasha mengetahui dirinya hamil.

“Saya kaget sekali. Saya tak tahu mau berkata apa atau melakukan apa,” katanya.

Komisioner masalah anak-anak Australia Megan Mitchell mengatakan Komisi HAM Australia (AHRC) telah menyerukan pemerintah negara bagian dan pemerintah federal agar memberikan bantuan dan mendanai keluarga muda di Australia supaya anak-anak mereka tetap bersekolah.

Dia memuji apa yang sudah dilakukan Ipswich State High School dan mengatakan pendidikan adalah alat yang penting untuk menghentikan rantai kemiskinan antar generasi dan ketergantungan akan bantuan sosial. “Kehamilan remaja di Australia sebenarnya saat ini terendah dalam sejarah, namun masih ada sekitar 8 ribu bayi yang dilahirkan setiap tahunnya,” kata Megan.

“Orang tua yang masih remaja ini juga beresiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental dan kesehatan lainnya. Anak-anak mereka juga besar kemungkinan lahir lebih cepat, beratnya rendah, dan mengalami masalah perilaku dan kognitif,” jelasnya. (dtc/ram)

loading...