Pariwisata Kota Medan Harus Punya Ciri Khas

Metropolis Wisata

Komisi III Minta Dispar Medan Ciptakan Program Inovasi Baru

RAPAT: Komisi III saat menggekar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dispar Kota Medan, Senin (10/2).
RAPAT: Komisi III saat menggekar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dispar Kota Medan, Senin (10/2).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Melihat pariwisata Kota Medan yang tak banyak berkembang dan relatif stagnan membuat pariwisata Kota Medan cukup mengkhawatirkan. Untuk itu, Komisi III DPRD Medan meminta agar Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Medan membuat program dengan inovasi baru, sehingga ada ikon pariwisata yang dapat ‘dijual’ kepada para wisatawan asing maupun domestik.

Hal ini dikatakan Ketua Komisi III DPRD Medan, M Afri Rizki Lubis saat memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III dengan Dispar Kota Medan, Senin (10/2).


Hadir juga dalam RDP itu Sekretaris Komisi Erwin Siahaan dan anggota Komisi III lainnya seperti Irwansyah, Hendri Duin, Rudiawan Sitorus, Edward Hutabarat dan Suciati beserta Kepala Dispar Kota Medan Agus Suriono dan jajarannya.

Dikatakan Rizki, banyak program kegiatan yang dibuat Dinas Pariwisata Kota Medan yang terlalu monoton dan tidak inovatif. Tak hanya itu, program pun seolah dijalankan hanya untuk memenuhi agenda rutin tetapi tidak membuat wisata Kota Medan semakin berkembang.

“Harusnya bagaimana dengan even yang dibuat membuat ketertarikan wisatawan domestik dan asing untuk datang ke Kota Medan. Tidak seperti selama ini, di setiap even, jangankan wisatawan, warga Medan saja enggan meramaikannya kecuali hanya dihadiri para camat, lurah dan kepala lingkungan se-Kota Medan yang disuruh wajib hadir membawa saudara-saudaranya,” ucap Rizki.

Menurut Rizki, dari anggaran belanja langsung Dinas yang sampai Rp30 miliar hanya mampu membuat even yang kurang layak dan inovatif. “Evennya jangan itu-itu saja. Promosi setiap even pun tidak memadai, bagaimana mau mempromosikan Kota Medan. Penyelanggara even pun selalu tidak pernah berganti, seolah sudah ada kontrak kerja kalau semua even mereka yang laksanakan dan berapa lagi keuntungan dari Dinas setiap even yang dilakukan,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan Hendri Duin. Ia juga menanyakan tidak adanya nilai jual pariwisata Kota Medan untuk menarik wisatawan. “Harus ditetapkan dimana letak alun-alun Kota Medan, dan apa ciri khas Kota Medan. Seperti becak Medan yang selama ini sudah menjadi ikon. Namun sampai sekarang becak yang menjadi kebanggaan Kota Medan tersebut sudah tidak ada lagi. Pariwisata Kota Medan harus punya ciri khas,” terangnya.

Irwansyah juga menyatakan, hingga saat ini Kota Medan tidak memiliki ikon yang dijadikan jargon untuk menarik datangnya wisatawan. “Kita khawatirkan wisatawan tidak ada yang mau singgah lagi ke Kota Medan. Dari Bandara Kualanamu mereka langsung ke tempat wisatawa seperti Danau Toba, jadi tidak perlu lagi ke Kota Medan, karena kalau hotel pun sudah banyak di kawasan Kualanamu,” tuturnya.

Dinas Pariwisata, katanya, seharusnya bisa menjadi penyokong Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan mengajak seluruh pihak bekerja sama, seperti hotel dan para Usaha Kecil Menengah (UKM). Karena, banyak provinsi lain berkembang dari hasil pariwisatanya. “Kita sudah jauh tertinggal di banding daerah lain, harusnya ada upaya mengejar seperti naik tangga. Ini tidak, Dinas Koperasi kita lihat jalan ditempat,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kadis Pariwisata Kota Medan, Agus Suriono mengatakan, pihaknya saat ini tengah berusaha untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Kota Medan.

“Dalam menarik perhatian wisatawan ke Kota Medan, kami telah melaksanakan even-even yang berbasis budaya seperti Colorful Medan dan melakukan promosi wisata di Lapangan Merdeka, Taman Teladan dan Lapangan Gajah Mada. Kita juga menjadikan kota tua Kesawan sebagai salah satu program kami,” jelasnya.

Selanjutnya untuk pihak hotel-hotel yang melalui aplikasi, lanjut Agus, pihaknya telah memberikan pengarahan dan bimbingan agar hotel-hotel tersebut bekerjasama dalam mengembangkan pariwisata Kota Medan.

“Kita juga melakukan pengembangan pariwisata di Medan Utara, seperti Manggrove dan Danau Siombak, walaupun masih terkendala dikarenakan hutan Manggrove yang ada di Sicanang masih dalam masalah kepemilikan,” pungkas Agus. (map/ila)

loading...