Medan Zero Wabah Covid-19, Peneliti: Trenggiling Punya Virus Corona

Berita Foto2 Metropolis
Trenggiling
Trenggiling

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Trenggiling tidak hanya berpotensi sebagai hewan perantara dalam kasus infeksi virus corona ke manusia. Tapi mamalia bersisik yang kerap ditemukan di Indonesia diselundupkan ke Cina itu juga memiliki virus corona sendiri.

“Trenggiling memang inang atau tempat virus corona. Ada analisis viral metagenomic dari trenggiling bahwa virus corona itu termasuk yang dominan bersama juga virus sendai,” kata peneliti mikrobiologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra, Kamis (13/2).


Sugiyono menerangkan, sampai saat ini keberadaan kedua virus itu masih belum diketahui efek sampingnya untuk hewan inangnya. Bisa saja adanya virus corona dan sendai menyebabkan penyakit di hewan terancam punah itu. “Atau bisa juga menyebabkan kondisi sub-klinis, artinya tidak menimbulkan gejala,” kata Sugiyono.

Sebelumnya, virus corona jenis baru mewabah dari Wuhan, Cina. Virus yang kini dinamai COVID-19 hingga Kamis (13/2) telah menginfeksi 60.329 orang dan menyebabkan kematian 1.368 orang. Korban meninggal paling banyak terdeteksi di Hubei, Cina, menurut data dari Johns Hopkins CSSE.

Namun demikian, sebanyak 5.995 orang berhasil sembuh. Jumlah ini meningkat sekitar 1.296 berdasarkan data pada Rabu (12/2/2020) pagi. Sejauh ini, jumlah korban meninggal paling banyak dilaporkan di Hubei, Cina sejumlah 1.310.

Provinsi Hubei Cina telah melaporkan 242 kematian dan 14.840 orang terinfeksi COVID-19 pada Kamis (13/2/2020). Ini merupakan kenaikan terbesar dalam satu hari sejak wabah mulai diketahui pada Desember 2019.

Seorang pejabat WHO mengatakan, terlalu dini untuk memprediksi akhir dari wabah baru coronavirus ini. Ia hanya mengatakan, semua orang harus “sangat berhati-hati.” Virus diketahui sudah menyebar ke lebih dari 25 negara.

Pihak berwenang Cina melanjutkan tindakan darurat dan pencegahan penyebaran dengan ketat. Konsekuensi dari aturan ini adalah ribuan orang yang terdampar di laut tanpa tempat berlabuh.

Ribuan orang masih terdampar di dua kapal pesiar, satu berlabuh di Jepang dan dikarantina, lainnya yang ditolak masuk di beberapa pelabuhan tetapi telah diberi izin oleh Kamboja untuk berlabuh di negara Asia Tenggara.

Virus diduga menyebar dari kelelawar lewat perantara ular. Belakangan, South China Agricultural University di Guangzhou menyampaikan hasil penelitian yang menyimpulkan urutan genom virus corona dari trenggiling 99 persen identik dengan yang diambil dari pasien yang terinfeksi.

“Asumsinya bisa jadi memang ada rekombinasi antara virus yang dari kelelawar dengan yang ada di trenggiling itu, terus mengalami mutasi sehingga akhirnya bisa menginfeksi manusia,” kata Sugiyono, “Tapi itu masih berupa kemungkinan-kemungkinan.”

Dinkes Sumut: Jangan Sebar Teror

Di Medan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut memastikan belum ada satu pun orang yang positif terinfeksi virus corona atau Covid-19. Bahkan 83 WNA dan WNI yang baru pulang dari luar negeri dan dikarantina di Sumut, belum ada yang positif diduga terinfeksi virus corona.

“Tidak ada yang diduga terinfeksi. Jangan mengada-ngada. Orangnya sehat semua, jangan ditakut-takuti masyarakat,” ujar Kepala Dinkes Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan, dengan nada kesal saat dihubungi wartawan, kemarin.

Bantahan itu disampaikan untuk menepis isu-isu negatif dari pemberitaan di media online yang berjudul, ‘Terungkap! 83 Orang Diduga Terinfeksi Corona Dikarantina di Sumatera Utara’. Menurutnya, ke-83 orang itu datang secara bertahap dan saat ini dalam kondisi tidak sakit. “Ke-83 orang itu sehat dan sedang dipantau. Orangnya dipantau di rumah masing-masing,” tegasnya.

Alwi menyatakan, pemberitaan 83 orang diduga terinfeksi corona dikarantina Sumut bohong. “Diduga pun tidak, orangnya sehat. Ini berita sensistif. Masyarakat kita kalau dengar ini seperti kena teror. Mohonlah buat berita yang bagus, informatif dan mendidik. Jangan seperti menebar teror,” ketusnya.

Dijelaskan Alwi, ke-83 orang mereka yang dirumahkan ini pernah tinggal di Tiongkok. “Orang itu tidak boleh dilarang masuk. Kalau kita larang masuk, menyangkut banyak hal termasuk ekonomi dan sebagainya,” sebut dia.

Sebelumnya, kata Alwi, 83 orang tersebut terdiri dari 38 Warga Negara Indonesia (WNI) dan 45 orang Warga Negara Asing (WNA) yang tersebar di beberapa daerah di Sumut. Mereka dipantau selama 14 hari ke depan. Namun hingga saat ini kondisi kesehatan mereka dalam kedaan baik. “Kenapa karantinanya di rumah bukan di rumah sakit, ya karena mereka tidak sakit,” ucapnya.

Sebelum diizinkan masuk, ke-83 orang itu juga telah membuat perjanjian untuk diam di rumah selama 14 hari. Bila terjadi apa-apa, maka secepat mungkin harus segera melapor ke Dinas Kesehatan. “Kita akan terus ikuti perkembangannya. Jadi sewaktu-waktu akan dilakukan kunjungan berkala dan sifatnya juga mendadak,” tukasnya.

Sekretaris Dinkes Sumut dr Aris Yudhariansyah, menambahkan berdasarkan data World Health Organization (WHO) per 12 Februari 2020, belum ada ditemukan kasus di Indonesia. Kasus virus corona terjadi di China, Jepang, Australia, Korea, sejumlah negara Eropa dan Amerika serta beberapa negara lainnya.

“Belum ada ditemukan kasusnya di Indonesia. Berita itu tidak benar sekalipun diduga terinfeksi, karena kondisi kesehatannya baik,” tandasnya.

Diketahui, salah satu media online di Jakarta memberitakan sebanyak 83 orang diduga terinfeksi virus corona di Sumatera Utara. (ant/ris)

loading...