Harga Melonjak Hingga 400 Persen, Pasokan Masker Terbatas

Headlines Sumatera Utara
SIDAK: Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak saat melakukan sidak di salah satu distributor masker, Kamis (5/3). bagus/sumut pos
SIDAK: Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak saat melakukan sidak di salah satu distributor masker, Kamis (5/3).
Bagus/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pasokan masker di Kota Medan terus menurun. Karena langka, harga melonjak hingga 400 persen dibanding harga normal. Kelangkaan itu menyusul merebaknya virus corona COVID-19 di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Penurunan pasokan masker di Kota Medan, Binjai, Tebingtinggi, dan sejumlah kota lainnya di Sumut, dipastikan lewat hasil inspeksi mendadak (sidak) Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah I, di sejumlah distributor masker di Kota Medan, Kamis (5/3) pagi.


Tim Sidak KPPU melakukan pemantauan langsung ke toko alat kesehatan (Alkes) Medan di Jalan Raden Saleh. Di toko tersebut, tim menemukan bahwa toko-toko memang kekurangan pasokan masker. Hal serupa juga dialami PT Dimas Andalas Makmur, distributor masker untuk kawasan Sumatera Utara dan Aceh.

“Hasil pengecekan kita, pasokannya memang sangat berkurang,” ungkap Kepala KPPU Kanwil I Ramli Simanjuntak kepada wartawan, kemarin pagi.

Temuan tim, pasokan berkurang sejak dua bulan belakangan ini. Sedangkan permintaan di tengah masyarakat terus meningkat. “Kenapa pasokan menurun? Karena pasokan dari pabrikan yang ada di Surabaya atau Bandung memang jauh berkurang. Biasanya PT Dimas ini mengorder 1.000 kotak dalam sebulan. Tetapi order itu sudah berkurang saat ini. Dan lebih jelas lagi, masker N-95 ini tidak ada,” tutur Ramli.

Hasil penelitian KPPU, lanjut Ramli, kelangkaan masker juga dipengaruhi kelangkaan bahan baku. Pasalnya, ada beberapa bahan baku yang harus diimpor. “Untuk membuat masker, ada beberapa bahan baku yang harus diimpor dari Tiongkok. Nah itu mungkin penyebabnya sehingga pasokan berkurang, sementara permintaannya sangat tinggi,” jelas Ramli.

Dengan kondisi ini, Ramli ‘mewarning’ para pelaku usaha, agar tidak bermain-main dengan pasokan masker yang menurun, dengan serentak menaikkan harga. Kata dia, kenaikan harga itu bisa mengarah ke kartel.

Ia juga meminta jangan sampai pabrikan menahan pasokan masker demi mendapat keuntungan berlebih. Pihaknya siap menindak dengan hukum yang berlaku. “Di tengah kelangkaan masker, pemerintah bisa melakukan operasi pasar. Sama seperti yang dilakukan saat harga kebutuhan pokok mulai naik. Karena ini kebutuhan masyarakat. Supaya harga masker lebih murah,” sebut Ramli.

Pihaknya memastikan, saat ini harga masker di tingkat pabrikan ke distributor berada di angka Rp100 ribu per kotak. Sedangkan di tingkat distributor ke pengecer dijual di angka tertinggi Rp150 ribu.

Ramli pun meminta distributor agar tidak bermain harga. “Jangan sampai mengambil keuntungan berlebih,” ujarnya.

KPPU pun siap mengambil tindakan hukum jika ada pengusaha yang melakukan pelanggaran. Pelanggar terancam denda maksimal Rp25 miliar, hingga pencabutan izin usaha.

“Jangan karena permintaannya tinggi, menjadi alasan pengusaha untuk menaikkan harga. KPPU belum menemukan ada kartel masker. Ini kami cari integrasi vertikalnya. Indikasinya tetap ada,” tandasnya.

Direktur PT Dimas Andalas Makmur, Meliana Manurung, juga mengakui pasokan masker menurun. Namun menurutnya penjualan masker tetap dilayani kepada masyarakat dan rumah sakit.

“Ada penurunan dibanding sebelum-sebelumnya. Tapi kita pastikan, secara continue pabrik masih pasok ke kita. Penurunannya sekitar 50 persen semenjak corona,” jelas Meliana.

Sejauh ini, permintaan masker dari rumah sakit masih normal. Peningkatan permintaan terjadi pada masyarakat. “Kami tidak pernah menimbun stok. Kami tetap supply seperti biasa. Harganya memang naik. Kalau dulu dulu itu Rp35 ribu, sekarang Rp125 ribu,” sebut Meliana.

Di Binjai, Polisi Sisir 5 Apotek

Tak hanya di Medan, kelangkaan masker juga terjadi di Binjai, Sumut. Kenaikan terhadap virus corona membuat masyarakat ikut-ikutan membeli masker. Dampaknya, ketersediaan masker semakin minim, bahkan tidak tersedia.

Untuk memastikan masker tidak ditimbun, kemarin Polres Binjai menyisir sedikitnya 5 apotek di kota rambutan itu. Yakni Apotek Farma, Apotek Rosani, Apotek Restu, Apotek Kita Farma dan Apotek Ayah Bunda, di Jalan Sudirman, Binjai Kota. Hasilnya, sebagian apotek memang kehabisan persediaan masker.

Meski demikian, sebagian masih memiliki persediaan tapi dengan jumlah terbatas. “Keterangan beberapa pemilik apotek, harga masker eceran dijual berkisar Rp2 ribu hingga Rp5 ribu. Kelangkaan stok masker di Binjai disebabkan pasokan dari suplier Mega Exelene Medan selaku distributor dari Medan, sudah seminggu tidak masuk,” ujar Kasubbag Humas Polres Binjai, AKP Siswanto Ginting, Kamis (5/3).

“Sejauh ini tidak ada ditemukan penimbunan masker,” sambung mantan Kanit Intelkam Polres Binjai ini.

Camat Binjai Kota, Fazar Kurniawan, saat dihubungi menjelaskan kelangkaan stok masker akibat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan masker. Untuk itu, dia meminta pemilik apotek juga menyosialisasikan penggunaan masker, terkait pencegahan tertularnya virus corona. “Masker itu dipakai oleh mereka yang sakit, seperti batuk dan pilek. Sedangkan yang sehat tidak perlu pakai masker. Yang harus dilakukan adalah membiasakan pola hidup sehat,” tukas Fajar.

Terpisah, Pemerintah Kota Binjai merespon penyebaran virus corona di Indonesia. Upaya pencegahan penularan virus corona dilakukan dengan membentuk tim kelompok kerja (Pokja) dan membuat ruangan isolasi di RSU Djoelham.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Binjai dr Sugianto didampingi Kabid P2P dr Indra mengatakan, tim yang sudah dibentuk sudah langsung bekerja dengan membuat SOP dan disebarkan ke setiap tempat pelayanan kesehatan. “Tim pokja antisipasi corona di Binjai sudah terbentuk, dan ini diketuai langsung Kabid P2P dr Indra,” kata dr Sugianto.

Menurut dia, tim pokja sudah dibentuk saat virus corona masih berkembang di luar negeri. Setelah berkoordinasi, akhirnya tim pokja menjadi instruksi Wali Kota Binjai HM Idaham.

Ke depan Tim Pokja yang dibentuk juga berkoordinasi dengan TNI, Polri, BIN, bahkan Imigrasi. “Jika ada warga luar yang hendak masuk ke Binjai, agar dikonfirmasikan segera dan mengecek kondisi kesehatannya,” ujar dr Sugianto.

Tim pokja juga sudah memasang banner di sejumlah titik Kota Binjai untuk sosialisasi corona. Juga memberi imbauan kepada warga. Banner disebarkan untuk menjelaskan poin gejala dan bagaimana pencegahan virus corona.

“Agar dapat terhindar masyarakat harus tetap hidup bersih, laksanakan gotong royong dan olahraga. Kami juga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap masyarakat untuk dapat deteksi dini corona. Jika tidak ada urusan penting, masyarakat diharapkan untuk menunda berpergian ke luar negeri,” urai dia.

Dia menambahkan, tim pokja juga sudah meminta pihak RSU Djoelham membuat ruangan isolasi. Pasien dengan suspect corona sudah diminta untuk segera dilaporkan. “Ada ruang isolasi corona di RS Djoelham. Setelah itu bisa ditindaklanjuti dengan mengirim pasien ke RSU Adam Malik,” ungkap dia.

Rutin Cuci Tangan

Kabid P2P Dinkes Binjai, dr Indra menyerukan kepada warga untuk pencegahan virus corona dengan rutin mencuci tangan pakai sabun, gunakan masker jika batuk atau pilek, konsumsi makanan bergizi dan seimbang, perbanyak konsumsi sayur dan buah.

“Dan bila batuk serta sesak nafas disarankan langsung memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan yang tersedia,” tukasnya.

Senada, Koordinator Tim PINERE RSUP H Adam Malik, dr Ade Rahmaini MKed (Paru) SpP menyebutkan, penyakit ini bisa ditularkan oleh orang terinfeksi meskipun dia belum mengalami gejalanya.

“Upaya pencegahan dan penularan infeksi yang dapat dilakukan dengan membiasakan Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS), yaitu rutin mencuci tangan setelah berinteraksi dengan lingkungan luar. Cuci tangan dilakukan menggunakan sabun dan air mengalir atau antiseptik,” ungkap Ade saat diwawancarai baru-baru ini.

Selain mencuci tangan, pencegahan dapat dilakukan dengan menutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau kain ketika batuk maupun bersin. Apabila mengalami batuk, flu dan pilek, maka sebaiknya menggunakan masker agar tidak menularkan kepada orang lain.

“Edukasi terhadap gejala yang timbul pada orang terinfeksi maupun suspect (Covid-19) perlu terus ditingkatkan. Selain itu, edukasi juga menyangkut terkait pemeriksaan yang dilakukan untuk penegakkan diagnosa, penularannya serta pengobatannya. Sebab, belum ada obat antivirus khusus untuk coronavirus baru ini. Pengobatan diutamakan bersifat simtomatik, yaitu mengobati gejala yang muncul pada pasien,” terang Ade.

Terkait penanganan pasien virus corona, sebut, RSUP H Adam Malik sudah mempersiapkan prosedur khusus dan lebih bersifat preventif serta berkoordinasi dengan rumah sakit sekitar. Terdapat 11 ruang isolasi untuk merawat pasien suspect maupun terinfeksi, dan ruangan tersebut sudah memiliki tekanan negatif sehingga pasien lainnya yang dirawat tidak perlu khawatir.

Senada, Tim PINERE RSUP H Adam Malik, dr Restuti Hidayani Saragih, mengatakan pencegahan yang efektif sampai saat ini adalah dengan sering mencuci tangan dengan cairan pencuci tangan yang mengandung alkohol atau dengan air mengalir dan sabun.

Selain itu, memakai masker sesuai peruntukannya dan sesuai kondisi. Jika memakainya, dianjurkan untuk mengganti masker tersebut setiap 4 jam sekali. Selanjutnya, tidak menyentuh muka, hidung, mulut, mata jika belum mencuci tangan, serta menghindari berpergian ke negara-negara terdampak virus corona jika tidak amat sangat perlu dan mendesak.

“Sangat penting menerapkan pola hidup bersih dan sehat, senantiasa mengikuti perkembangan informasi dan melaksanakan arahan dari pemerintah,” tukasnya. (gus/ted/ris)

loading...