Nyepi di Sejumlah Pura di Kota Medan, Pura Sepi, Hanya Ada Ritual Jalan Kaki

Metropolis
KUIL:  Suasana dari Kuil Shri Mariamman Kuil di Jalan Tengku Umar Medan. Hari Raya Nyepi di Kota Medan kemarin tanpa dilakukan perayaan karena wabah virus Corona.
KUIL: Suasana dari Kuil Shri Mariamman Kuil di Jalan Tengku Umar Medan. Hari Raya Nyepi di Kota Medan kemarin tanpa dilakukan perayaan karena wabah virus Corona.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hari Raya Nyepi yang memang sejatinya merupakan momen sakral bagi umat Hindu dengan berdiam diri di rumah seakan turut dilakukan oleh seluruh masyarakat di Indonesia, tak terkecuali di Kota Medan.

Namun masyarakat umum melakukannya bukan karena ikut merayakan hari raya Nyepi, melainkan karena imbauan pemerintah kepada masyarakat agar tetap berdiam diri di rumah guna memutus rantai pandemi Corona.


Termasuk, saat ibadah malam saat menjelang Nyepi. Di Kota Medan, masyarakat umat Hindu biasanya melakukan ibadah di malam hari menjelang Hari Nyepi i di beberapa Pura, termasuk di Pura Agung Raksa Buana Polonia Medan.

Namun kali ini, tidak ada ibadah yang dilakukan di Pura Agung Raksa Buana. Hal itu dilakukan karena bentuk kepatuhann

masyarakat Hindu terhadap imbauan pemerintah agar tidak berkumpul dalam jumlah massa yang banyak.

“Saudara-saudara kita umat Hindu kemarin malam tidak ada ibadah di Pura seperti biasanya, semua beribadah di rumah masing-masing,” ucap Kabag Agama Kota Medan, Adlan kepada Sumut Pos, Rabu (25/3).

Dikatakan Adlan, sebelumnya pihak Pemko Medan telah melakukan pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan, termasuk dengan pengurus umat Hindu di Kota Medan.

“Sebelumnya kita memang sudah membicarakan hal itu kepada saudara-saudara kita di FKUB, termasuk umat Hindu dan umat beragama lainnya. Alhamdulillah, saudara-saudara kita umat Hindu di Kota Medan kooperatif dan mau melaksanakan imbauan tersebut,” katanya.

Untuk umat beragama lainnya, lanjut Adlan, juga telah diimbau untuk tidak melakukan pertemuan dalam jumlah yang besar termasuk ibadah di rumah-rumah ibadah.

Namun, ada juga beberapa di antaranya melakukan perayaan Nyepi dengan berjalan kaki dari Jalan Ringroad Medan. Selain berjalan kaki, mereka juga melaksanakan ritual lainnya sejak sebelum hingga sesudah Hari Raya Nyepi. Umat Hindu yang tinggal di Medan tersebut, merayakannya dengan suasana khidmat.

“Hendaknya hari sebelum hari besar itu, umat Hindu di Medan melaksanakan ritual Mecaru untuk membersihkan diri dari dosa yang pernah dilakukan,” kata Jaya, salah seorang anggota Umat Hindu yang hadir dalam acara tersebut, Minggu (22/3) Sore.

Jaya menambahkan, setelah itu, umat Hindu melaksanakan ritual Melasti. Ritual ini untuk pensucian alam supaya kembali ke hakikatnya. Setelah kedua ritual itu, kemudian dilakukan ritual Catur Brata Penyepian.

Ada empat hal yang wajib dilaksanakan yakni, Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelanguan, memohon terhindar dan dapat teratasi segala virus berbahaya termasuk virus Corona-19. “Semoga Yang Maha Kuasa melindungi kita dari penyakit apapun,” harapnya.

Jaya menjelaskan, selain Amati Geni, yakni merupakan ritual untuk berpuasa selama 24 jam saat perayaan Nyepi, tidak boleh memasak apalagi menghidupkan api, kemudian Amati Karya, yakni dimaknai dengan larangan beraktivitas termasuk bekerja.

“Sedangkan ritual Amati Lelungan dimaknai dengan berdiam diri di dalam rumah dan Amati Lelaungan dimaknai dengan tidak memperbolehkan menikmati hiburan,” pungkasnya. (map/mag-1/ila)

loading...