Penerbangan & Bandara Sepi, Hotel Berbintang Pilih Tutup 2 Bulan

Ekonomi Headlines
sepi: Bandara Kualanamu tampak sepi, Senin (30/3), pascamenurunnya jumlah penumpang pesawat sebagai dampak imbauan diam di rumah untuk mencegah penularan Covid-19. batara/sumut pos
Sepi: Bandara Kualanamu tampak sepi, Senin (30/3), pascamenurunnya jumlah penumpang pesawat sebagai dampak imbauan diam di rumah untuk mencegah penularan Covid-19. batara/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) berdampak langsung terhadap penurunan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Sumatera Utara (Sumut). Penurunan mencapai 90 persen lebih. Buntutnya, sejumlah hotel termasuk hotel berbintang 5 pun, pilih tutup dan ‘merumahkan’ sementara karyawannya.

“Pandemi Covid-19 ini, sangat dirasakan pelaku usaha hotel dan restoran di Sumut. Penghasilan turun drastis, tinggal 2-3n persen saja. Dengan kondisi ini, siapa mau nginap? Mau bikin acara (di hotel) tidak boleh,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut, Denny S Wardhana, kepada Sumut Pos, Senin (30/3).


Denny menjelaskan, market hunian kamar hotel di Sumut selama ini didominasi oleh wisatawan dan perjalanan dinas. Denagn kondisi work from home untuk mencegah penyebaran virus corona, otomatis tidak ada lagi perjalanan dinas.

“Beberapa hotel ditutup sementara. Kita pilih merumahkan karyawan. Kita tidak mem-PHK ya. Kalau kondisi normal, akan kita panggil kembali,” tutur Denny.

Denny tidak merinci secara detail hotel-hotel mana saja yang tutup di Sumut, terutama di Kota Medan. Namun info beredar via WhatsApp, salahsatu hotel berbintang 5, JW Marriott Medan, menutup hotel selama dua bulan, mulai 1 April hingga 31 Maret 2020.

Hotel Karibia Medan juga diinformasikan tutup sementara. Serta hotel Garuda Plaza di Jalan SM Raja.

Denny berharap, penanganan COVID-19 dapat diselesaikan pemerintah Indonesia dalam waktu tiga bulan, seperti dilakukan China. “Mudah-mudah 3 bulan ke depan, keadaan normal kembali dan kita benar-benar memutus mata rantai penyebaran corona. Aku melihat kejadi di Cina, kejadian bulan Januari, mereka serius memutus rantai corona dan seluruh penduduk mengikuti instruksi. Maret mereka selesai. Aku bukan ahli, tapi aku lihat perkembangan di China,” jelas Denny.

Ia juga mengharapkan dari kebijakan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah untuk dapat menangguhkan biaya bulanan, seperti pajak, BPJS Kesehatan, BPJS Tenaga Kerja, listrik, air dan gas.

“Dalam kondisi sekarang, diharapkan ada penangguhan pembayaran biaya rutin yang harus dikeluarkan pelaku usaha. Kalau tidak ada tamu, bagaimana bayarnya?” pungkas Denny.

loading...